Dari Prasasti Bahagas ke Bagas Godang: Satu Tanah, Satu Darah, Satu Nama
JAMBI,IMCNews.id- Selama ini sejarah Padang Lawas ditulis terpisah. Arkeolog bicara soal Candi Bahal dan Kerajaan Panai abad XI. Masyarakat adat bicara soal Sutan Bangun Hasibuan pendiri Binanga dengan Bagas Godang 1788. Padahal keduanya berada di tanah yang sama, di tepi Sungai Barumun yang sama, bahkan dengan nama yang sama.
Artikel ini menyatukan kepingan yang terpisah itu.
1. Barumun sebelum ada marga: jejak Panai
Tahun 1030, prasasti Chola dari India Selatan mencatat mereka menaklukkan Panai, kerajaan emas di Sumatera Timur. Lokasinya di lembah Barumun dan Sosa. Peninggalannya masih berdiri: Candi Bahal I, II, III di Portibi, bercorak Buddha Mahayana.
Di Binanga, Barumun Tengah, ditemukan bukti yang lebih tajam: Prasasti Bahagas. Ukurannya 55 x 30 x 16 cm, berbahan andesit, berfungsi sebagai lapik arca. Aksaranya Paleo-Sumatra, bahasanya Sansekerta bercampur Batak Kuno. Kata kuncinya adalah BAHAGAS.
Dalam bahasa Angkola hari ini, bagas artinya rumah yang kokoh dan besar. Bahagas adalah versi kuno dari Bagas Godang. Artinya, jauh sebelum marga Batak ada, penduduk Barumun sudah berbahasa Batak dan menyebut bangunan sucinya dengan kata bahagas. 400 tahun kemudian, keturunannya menyebut istananya Bagas Godang. Bahannya berubah dari biara Buddha menjadi istana Islam, tapi namanya tetap.
2. Darah Majapahit di tubuh Raja Batak
Tambo Hasibuan mencatat silsilah atas yang jarang dibahas: Si Raja Batak - Raja Isumbaon - Tuan Sori Mangaraja - Tuan Sorba Di Banua - Raja Sobu. Tuan Sorba Di Banua dicatat menikah dengan Si Boru Basopaet, Putri Majapahit, adik Raden Wijaya.
Ini bukan dongeng. Strategi Majapahit sejak 1293 memang begitu. Untuk mengamankan tahta, Raden Wijaya menikahi empat putri Kertanegara, raja terakhir Singasari: Tribhuwaneswari, Narendraduhita, Prajnaparamita, dan Gayatri.
Strategi itu dilanjutkan ke Sumatera. Raden Wijaya juga menikahi Dara Petak, putri Melayu Dharmasraya. Dari garis Dara Jingga, lahir Adityawarman, Raja Dharmasraya 1347 yang menguasai Sumatera Tengah hingga Padang Lawas.
Jika Majapahit bisa mengirim putri Melayu ke Jawa dan mengirim Adityawarman ke Sumatera, sangat logis jika mereka juga menikahkan putri Majapahit dengan raja besar di pedalaman Toba, yaitu Tuan Sorbadibanua. Anak dari pernikahan itu adalah Raja Sobu, lahir sekitar 1455.
3. Si Raja Hasibuan: dari Sigaol ke Padang Bolak
Anak Raja Sobu adalah Si Raja Hasibuan atau Sutan Moget Sasabuon. Ia membuka huta Hariaramarjalo di Sigaol Uluan, Toba. Pohon Hariara besar yang menjadi namanya masih berdiri hingga kini, dan pada 2002 didirikan Monumen Si Raja Hasibuan di sampingnya.
Si Raja Hasibuan menikah dengan Boru Simatupang dari Muara dan memiliki 5 putra dan 5 boru. Putranya: Raja Manjalo, Guru Mangaloksa, Guru Hinobaan, Raja Marjalang / Guru Marjalang, dan Raja Maniti.
Lima putra inilah yang melahirkan delapan marga besar: Hasibuan tetap Hasibuan, sementara Guru Mangaloksa melahirkan Hutabarat, Panggabean, Hutagalung, Hutatoruan, Hutapea, Lumbantobing, Simorangkir.
Hukum adatnya masih keras hingga kini: Hasibuan dilarang menikah dengan keturunan Guru Mangaloksa meski sudah beda marga. Satu cabang yang hilang, Raja Maniti, diyakini menjadi cikal bakal Batak 17 di Alas, Aceh.
4. Silsilah lengkap Sutan Bangun: generasi ke-12 Si Raja Batak
Jalur Binanga adalah jalur yang paling murni mempertahankan marga Hasibuan, yaitu jalur Raja Marjalang yang merantau ke Padang Bolak / Sibuhuan.
Silsilah lengkapnya:
1. Si Raja Batak
2. Raja Isumbaon
3. Tuan Sori Mangaraja
4. Tuan Sorba Di Banua
5. Raja Sobu / Toga Sobu (1455)
6. Si Raja Hasibuan Generasi 1
7. Generasi 2: Raja Marjalang Hasibuan
8. Generasi 3: Ompu Namora Sende Tua
9. Generasi 4: Ompu Sutan Soduguron
10. Generasi 5: Ompu Bangunna
11. Generasi 6: Ompu Parlindungan
12. Generasi 7: Sutan Bangun Hasibuan
Sutan Bangun inilah yang membuka Kampung Binanga, Barumun Tengah. Ia adalah Raja Luat Barumun dan Sosa, pewaris wilayah bekas Kerajaan Huristak dan Panai. Bagas Godang Binanga 1788 dengan makam Islam di sekitarnya adalah bukti transisi final: dari Bahagas bercorak Buddha menjadi Bagas Godang bercorak Islam.
Jarak 333 tahun dari Raja Sobu 1455 ke Sutan Bangun 1788 setara dengan 7 generasi, sangat presisi.
5. Kedalaman akar Hasibuan
Dalam struktur Si Raja Batak, Hasibuan berada pada lapisan induk yang sangat awal. Ia adalah generasi ke-6 dari Si Raja Batak, anak langsung Raja Sobu.
Sebagai perbandingan, kelompok Sonak Malela yang terdiri dari Simangunsong, Marpaung, dan Napitupulu, baru mengukuhkan Pardede sebagai marga keempat melalui upacara adat di dekade 1970-an, setelah sebelumnya masih menggunakan nama ganda Napitupulu Pardede.
Fakta ini menunjukkan Hasibuan telah mapan sebagai Raja Luat sejak abad XV, jauh sebelum konsolidasi marga-marga muda pada abad XX.
Jembatan tiga peradaban
Sutan Bangun Hasibuan adalah titik temu tiga peradaban: Panai yang meninggalkan Prasasti Bahagas, Majapahit yang meninggalkan darah Si Boru Basopaet di tubuh Raja Sobu, dan Batak-Islam yang meninggalkan Bagas Godang Binanga.
Dari Bahagas ke Bagas Godang, dari Si Raja Batak ke Sutan Bangun, dari Buddha ke Islam, tanahnya tidak pernah berganti pemilik.(***)
Daftar pustaka
1. Balai Arkeologi Sumut. (2018). Sejarah Kerajaan Panai dan Tinggalan Padang Lawas.
2. Dinas Kebudayaan Padang Lawas. (2021). Laporan Inventarisasi Prasasti Bahagas Binanga.
3. http://eBatak.com. (2023). Raja Bona Ni Onan: Asal-usul Marga Pardede.
4. Monumen Si Raja Hasibuan. (2002). Prasasti Peresmian di Hariaramarjalo.
5. Munoz, P. M. (2006). Early Kingdoms of the Indonesian Archipelago.
6. Nagarakertagama & Pararaton, kajian Pigeaud (1960).
7. Punguan Pomparan Raja Hasibuan. (2019). Tambo Raja Hasibuan: Sian Sigaol Tu Barumun.
8. SindoNews. (2023). Misi Terselubung Raja Majapahit Nikahi 4 Putri Singasari.
Sutan Bangun Hasibuan dan Bagas Godang Binanga: Jejak Raja Luat Hasibuan dari Si Raja Batak
Febrie Adriansyah Diserahkan ke JPU Kejari Jaksel, Segera Dilimpahkan ke Pengadilan
Malahayati Tidak Membagikan Sapi Limosin: Ketika Analogi Sejarah Perlu Diuji
Kota Jambi Kehilangan Cekungan: Kegagalan Tata Ruang di Balik Industri Properti
Atlet Petanque Jambi Topan Satria Dipanggil Ikuti Seleksi World Cup 2026
Hotspot Melonjak Drastis Dalam Sehari, Satgas Karhutla Diminta Perkuat Pencegahan