Oleh: Tuah Sutan Palito Intan

Filantropi dan Modus Cuci Uang di Bisnis Arab Saudi

Sabtu, 19 September 2026 - 09:17:52 WIB

Tuah Sutan Palito Intan
Tuah Sutan Palito Intan

JAMBI, IMCNews.id- Dalam tiga bulan terakhir, hampir semua linimasa media di Jambi dipenuhi satu nama: Hj. Ernawati, Ketua PW ISMI Provinsi Jambi.

Pola kemunculannya luar biasa. Bukan dengan gagasan atau karya akademik, tetapi dengan kekuatan finansial yang tidak masuk akal. Masjid di eks-lokalisasi Payo Sigadung, ratusan Al-Qur'an, sapi limosin, hadiah umrah, santunan panti asuhan secara maraton, hingga mendatangkan guru besar dari Mesir.

Publik menaksir nilainya sudah mencapai miliaran rupiah dalam waktu yang sangat singkat.

Terbaru, informasi yang beredar di kalangan pelaku usaha menyebutkan, kemampuan finansialnya bahkan sudah masuk ke pengambilalihan beberapa aset di Jambi, termasuk aset milik pejabat publik yang belum sempat beroperasi.

Jika benar, ini bukan lagi sekadar soal dermawan biasa. Ini soal kekuatan kapital yang luar biasa.

Fenomena inilah yang dalam kajian politik disebut Fenomena Lampu Aladin. Seseorang dengan masa lalu yang kelam—arsip publik mencatat pernah tersangkut kasus dugaan korupsi program PBAQ 2012 dan sempat ditahan Kejati Jambi pada 2015—menghilang lama, lalu kembali dengan identitas baru sebagai pengusaha dengan kapital tak terbatas.

Dan untuk membaca fenomena ini, kita perlu memahami bagaimana dugaan modus pencucian uang bekerja di ekosistem bisnis Arab Saudi.

Modus ini memiliki empat pintu klasik

Pintu pertama adalah bisnis travel umrah dan haji.

Ini merupakan sektor yang rawan karena perputaran dana jemaah sangat masif dan berbasis tunai.

Modusnya adalah mingling atau pencampuran dana. Uang yang asal-usulnya tidak jelas dicampur dengan setoran pendaftaran jemaah. Di dalam laporan keuangan, semuanya terlihat sebagai pendapatan travel yang sah.

Ada juga modus transfer terselubung, di mana uang dari Indonesia dikirim kepada mitra di Saudi dengan dalih pembayaran hotel dan bus jemaah, tetapi nilainya di-mark up. Selisihnya menjadi uang yang sedang dicuci.

Pintu kedua adalah deposit kamar hotel atau allotment.

Akomodasi di Mekkah dan Madinah membutuhkan deposit ratusan kamar dengan nilai miliaran rupiah. Ini dapat menjadi tempat ideal untuk placement.

Caranya, pelaku mentransfer uang dalam jumlah besar sebagai deposit. Kamar tersebut kemudian dibatalkan, dan uang pengembaliannya masuk ke rekening yang sudah bersih, seolah-olah merupakan hasil bisnis perhotelan.

Pintu ketiga dan keempat adalah angkutan dan katering jemaah.

Sektor bus dan restoran sangat bergantung pada transaksi tunai. Modusnya adalah manipulasi manifest penumpang dan penggelembungan invoice ribuan porsi makanan.

Uang tunai dimasukkan sebagai pendapatan tiket atau selisih dari porsi fiktif. Tahap akhirnya, uang tersebut dibelikan aset berupa armada bus atau restoran. Uang pun sudah berubah menjadi aset legal.

Lalu, apa hubungannya dengan filantropi miliaran di Jambi? Hubungannya ada pada tahap akhir pencucian uang: integration.

Uang yang sudah dicuci melalui ekosistem di Saudi harus diintegrasikan kembali di daerah dalam bentuk yang terlihat suci dan tidak mudah dipertanyakan. Caranya ada dua, dan keduanya dianggap selaras dengan apa yang kita lihat hari ini.

Pertama, integrasi melalui filantropi miliaran.Tidak ada orang yang berani bertanya dari mana uang masjid atau uang untuk anak yatim. Wakaf menjadi tameng moral yang paling ampuh.

Kedua, integrasi melalui pengambilalihan aset. Uang panas paling aman jika sudah berubah menjadi properti. Informasi soal take over aset di Jambi adalah bentuk integration yang klasik.

Apakah Hj. Ernawati melakukan money laundering? Sampai hari ini, tidak ada bukti hukum yang menyatakan demikian. Dugaan tetaplah dugaan.

Namun, PPATK pernah mengingatkan bahwa tiga indikator utama transaksi mencurigakan adalah lonjakan aset yang tidak wajar dalam waktu singkat, penggunaan ormas dan yayasan sebagai saluran, serta kegiatan sosial sebagai kamuflase. Ketiga indikator itu hari ini ada di depan mata kita.

ISMI adalah organisasi besar. Ia membawa marwah Melayu: Berilmu, Beradat, Membangun Peradaban. Marwah itu terlalu mahal untuk hanya ditukar dengan kilau filantropi yang tidak jelas asal-usulnya.

Jika semua dana itu memang bersih dan berasal dari hasil bisnis yang sah di Arab Saudi, maka buktikan dengan transparansi. Buka profil Bintang Global Group. Buka sumber pendanaan ISMI.

Karena Jambi tidak butuh Lampu Aladin. Jambi butuh kejelasan.

Minyak lampu dari Arab dibeli, terang menyala di Payo Sigadung. Kalau sumber harta tak pernah ditelusuri, sedekah miliaran pun tetap buat kita bingung.(*)

 



BERITA BERIKUTNYA