Dalam jagat politik Jawa, kekuasaan yang kokoh tak selalu lahir dari pekik suara yang keras atau benturan konflik yang terbuka. Sebaliknya, ia sering kali hadir melalui barisan yang rapi dengan satu tujuan yang lurus.
Ungkapan hulupis kuntul baris menjadi metafora yang presisi untuk membaca tautan batin antara Joko Widodo dan Partai Solidaritas Indonesia (PSI).
?Jokowi selama ini mempraktikkan apa yang bisa disebut sebagai "politik kesenyapan": sebuah laku yang mengutamakan kerja, penataan barisan yang sunyi, namun berakhir dengan langkah serentak yang menentukan.
Bagi PSI, pola ini bukan sekadar strategi untuk meraih suara, melainkan telah menjelma menjadi etos organisasi—sebuah prinsip di mana perbedaan pendapat diselesaikan di ruang dalam, namun hanya ada satu langkah tegak saat keluar.
Di sinilah jalan politik PSI dibentuk: disiplin, loyal, dan terikat pada satu simpul filosofi yang sama.
?Kekuatan hulupis kuntul baris ala Jokowi berakar pada kemampuannya meredam ego sektoral. Tradisi Jawa mengajarkan bahwa ego yang meluap-luap adalah pamrih, dan pamrih adalah hulu dari segala kegaduhan.
Sejak awal, Jokowi memahami bahwa stabilitas kekuasaan akan goyah jika setiap aktor sibuk menonjolkan diri. Maka, ia membangun kepemimpinan yang menekan ekspresi personal demi pencapaian kolektif.
PSI menangkap logika ini dengan jeli. Mereka menjadikannya disiplin organisasi di mana kader bukanlah "bintang" yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari panggung bersama.
Dalam kacamata ini, keseragaman sikap publik bukanlah tanda lemahnya demokrasi internal, melainkan simbol kekompakan dan ketegasan arah perjuangan.
Namun, filsafat Jawa selalu menyelipkan peringatan halus. Hulupis kuntul baris bukanlah ajaran tentang kepatuhan buta. Barisan yang harmoni lahir dari proses rembug sebuah kesadaran bersama bukan dari ketakutan untuk keluar barisan.
Dalam kebijaksanaan Jawa, rukun tidak berarti membungkam suara, melainkan mengelola perbedaan agar tidak menjadi konflik yang merusak.
Jokowi mempraktikkan hal ini dengan gaya khasnya: kritik tidak dipamerkan, perbedaan tidak dipentaskan di depan publik, namun hasil kerja tetap menjadi kompas utama.
Barisan dijaga tetap rapat bukan karena paksaan, melainkan karena ada tujuan besar yang telah disepakati bersama.
Di titik inilah PSI tengah diuji. Mengadopsi Jokowi sebagai simbol hulupis kuntul baris berarti juga harus mewarisi dimensi batinnya: sebuah kepemimpinan pamong yang menuntun dengan hati, bukan menyeret dengan tangan besi.
Jika filosofi ini hanya diambil kulit luarnya saja seperti disiplin dan loyalitas tanpa memberi ruang bagi dialektika internal, maka ia berisiko terjebak dalam penyeragaman yang kaku.
Namun, jika dijalankan sebagai laku etis berdebat di dalam, satu suara di luar maka hulupis kuntul baris akan menjadi fondasi politik yang sangat dewasa.
?Masa depan PSI pasca-Jokowi akan sangat ditentukan oleh bagaimana mereka menerjemahkan filosofi ini ke depan. Jika hulupis kuntul baris dimaknai sebagai kesetiaan pada nilai-nilai kerja nyata, kesederhanaan, dan keberpihakan pada rakyat, PSI berpeluang tumbuh menjadi institusi politik yang matang, bukan sekadar "partai bayangan" seorang figur.
Sebaliknya, jika ia hanya direduksi menjadi loyalitas personal, risiko menjadi "politik figur" akan selalu membayangi. Dalam kearifan Jawa, barisan yang kuat bukanlah yang paling lurus garisnya, melainkan yang paling sadar ke mana ia melangkah.
Pada akhirnya, Jokowi dan hulupis kuntul baris memberikan pelajaran berharga: politik bukan soal siapa yang paling lantang berteriak, melainkan siapa yang paling konsisten berjalan hingga garis akhir.
PSI hari ini adalah cermin dari laku politik Jokowi. Apakah cermin itu akan memantulkan nilai yang abadi atau sekadar bayangan kekuasaan yang fana, semuanya bergantung pada satu hal: apakah kebersamaan itu dibangun atas kesadaran nilai, atau sekadar ketakutan untuk berbeda. Dalam sejarah, hanya kesadaranlah yang akan bertahan lama. (*)
*) Penulis adalah orang dekat Ketua DPW PSI Jambi
Masuki Masa Purna Tugas, M Dianto: Maaf Kalau Ada Yang Kurang Berkenan Selama Bertugas
Ratusan Atlet Jalani Tes Kesehatan Jelang Pon Beladiri Sulawesi Utara Agustus 2026
Perlindungan Anak Dari Eksploitasi Seksual di Lingkungan Pariwisata
CJH Cadangan Gagal Berangkat Karena Tak Masuk Kuota, Begini Penjelasan Kemenhaj Jambi
SKK Migas dan Pertamina Verifikasi Lapangan Ribuan Sumur Minyak Rakyat di Jambi
Kejayaan Kapal Pinisi dan Daya Tahan Politik PSI di Samudra Poltik