Oleh: Pusat Kajian Kebijakan Publik – IMC Foundation

Bersama PSI, JKW Membangun Dinasti Politik Rakyat

Jumat, 30 Oktober 2026 - 13:31:41 WIB

IMCNews.id- Dalam lanskap politik Indonesia yang gemar menyederhanakan segala sesuatu ke dalam dikotomi hitam dan putih, bergabungnya Joko Widodo (JKW) ke Partai Solidaritas Indonesia (PSI) kerap dibaca melalui perspektif yang paling sederhana: politik dinasti.

Sebuah label yang mudah dilontarkan, provokatif, dan laku dijual di pasar wacana politik. Namun, pembacaan yang dangkal hanya akan melahirkan kesimpulan yang dangkal pula.

Jika menggunakan pisau analisis yang lebih tajam, apa yang sedang dibangun JKW bersama PSI sejak 14 Oktober 2025, dan yang direncanakan akan dikukuhkan secara formal melalui penetapannya sebagai Ketua Dewan Pembina pada 16 November 2026 di Surabaya, bukan sekadar praktik politik dinasti. Ada proyek politik yang jauh lebih ambisius dan menarik untuk dikaji secara teoretis, yakni dinasti politik rakyat.

Kedua istilah tersebut memiliki makna yang berbeda secara mendasar.

Politik dinasti rakyat merupakan praktik patrimonial ketika sebuah keluarga memanfaatkan prosedur demokrasi untuk melanggengkan kekuasaan. Yang diwariskan adalah jabatan, yang dimobilisasi adalah uang dan jaringan kekerabatan, sementara yang dijual adalah klaim semu atas nama kehendak rakyat.

Sebaliknya, dinasti politik rakyat menempatkan warisan nilai di atas pewarisan jabatan. Yang dimobilisasi bukan semata-mata keluarga sedarah, melainkan keluarga ideologis. Yang dilembagakan bukan kekuasaan seseorang atau kelompok keluarga, melainkan keberlanjutan gagasan dan perjuangan politik yang berpihak kepada rakyat.

Yang pertama berpotensi melemahkan demokrasi substantif. Sementara yang kedua, apabila dibangun melalui mekanisme kaderisasi yang terbuka dan demokratis, justru dapat menjadi fondasi bagi regenerasi politik yang sehat.

Fenomena JKW bersama PSI dapat dibaca melalui perspektif kedua tersebut, sepanjang kita bersedia melihat dinamika dan mekanisme politiknya secara objektif.

Pertama, pilihan posisi dan peran politik JKW.

Di saat banyak mantan presiden memilih menjadi ketua umum partai, pemilik kekuatan politik, atau pengendali kekuasaan secara informal, JKW justru diarahkan pada posisi Dewan Pembina, yakni posisi yang secara struktural menitikberatkan fungsi pembinaan, bukan kepemimpinan operasional partai.

Ia juga tidak semata-mata mengandalkan penunjukan langsung. Mekanisme dukungan dari Dewan Pimpinan Daerah (DPD) se-Indonesia menjadi bagian penting dalam proses tersebut.

Dukungan itu, sebagaimana dikisahkan dalam dinamika internal partai, datang dari berbagai daerah, mulai dari Bintan, Papua Pegunungan, hingga Jakarta Utara.

Jika mekanisme tersebut benar-benar tumbuh dari aspirasi daerah, bukan sekadar rekayasa elite, maka terdapat ruang untuk membacanya sebagai proses politik bottom-up.

Dalam perspektif Antonio Gramsci, dinamika ini dapat dikaitkan dengan pembentukan blok historis, yakni proses ketika gagasan, kepemimpinan, dan kekuatan sosial terorganisasi dalam sebuah gerakan politik yang memiliki orientasi bersama.

Dengan demikian, karisma personal yang selama ini melekat pada JKW sedang diupayakan untuk ditransformasikan menjadi kekuatan kolektif yang terlembaga.

Kedua, proyek ini merupakan upaya menjawab persoalan rutinisasi karisma dalam teori Max Weber.

Menurut Max Weber, otoritas karismatik menghadapi persoalan keberlanjutan ketika seorang pemimpin tidak lagi berada di pusat kekuasaan. Tanpa proses rutinisasi, karisma dapat kehilangan pengaruh seiring berakhirnya masa kepemimpinan seseorang.

Indonesia telah berkali-kali menyaksikan bagaimana pengaruh politik seorang pemimpin besar mengalami penurunan setelah tidak lagi menjabat.

Apa yang sedang diupayakan JKW bersama PSI dapat dibaca sebagai usaha merutinisasi karisma tersebut: mengubah pengaruh personal menjadi sistem, nilai, organisasi, dan proses kaderisasi yang berkelanjutan.

PSI, yang belum berhasil menembus ambang batas parlemen pada Pemilu 2019 dan 2024, memiliki karakter organisasi yang secara politik dapat dipertautkan dengan sejumlah elemen gaya kepemimpinan JKW.

Partai ini identik dengan keterlibatan generasi muda, penggunaan media digital, upaya keluar dari politik identitas yang kaku, serta pendekatan politik yang mengedepankan kesederhanaan dan kedekatan dengan masyarakat.

JKW tidak memilih bergabung dengan partai besar yang telah mapan. Ia justru masuk ke dalam organisasi politik yang masih memiliki ruang untuk berkembang dan membentuk identitas kelembagaannya sendiri.

Dalam konteks inilah PSI dapat dipandang sebagai laboratorium politik untuk menguji apakah karisma kerakyatan seorang pemimpin dapat ditransformasikan menjadi kekuatan organisasi dan mesin kaderisasi yang efektif.

Ketiga, regenerasi kepemimpinan harus dibedakan dari pewarisan kekuasaan keluarga.

Inilah salah satu aspek yang paling menarik dari konfigurasi politik JKW dan PSI. Dalam praktik dinasti konvensional, kekuasaan cenderung dikonsentrasikan dan diwariskan kepada anggota keluarga.

Namun, dalam konstruksi politik yang sedang dibangun bersama PSI, terdapat pembagian peran antargenerasi yang dapat dibaca sebagai upaya transfer pengalaman dan pengetahuan politik.

Kaesang Pangarep, sebagai Ketua Umum, merepresentasikan generasi muda dengan kelincahan komunikasi, penguasaan ruang digital, dan pendekatan politik yang lebih adaptif terhadap perubahan zaman.

Sementara itu, JKW, melalui posisi Dewan Pembina, diharapkan menjadi representasi pengalaman kepemimpinan, jejaring politik, serta pengetahuan dalam mengelola pemerintahan dan organisasi.

Konfigurasi ini dapat menjadi model transfer pengetahuan antargenerasi, bukan semata-mata penumpukan kekuasaan dalam satu keluarga.

Namun, ukuran keberhasilannya tidak boleh berhenti pada pembagian posisi antara ayah dan anak. Ukuran yang sesungguhnya adalah sejauh mana PSI mampu membuka ruang kepemimpinan bagi kader-kader lain di luar lingkaran keluarga tersebut.

Jika regenerasi hanya berputar di sekitar nama dan hubungan kekerabatan, kritik politik dinasti tetap relevan. Sebaliknya, jika sistem pembinaan mampu melahirkan pemimpin-pemimpin baru dari berbagai latar belakang, maka terdapat alasan untuk melihatnya sebagai model regenerasi politik yang lebih luas.

Keempat, Jawa Barat menjadi ujian penting bagi gagasan politik kerakyatan PSI.

Empat kali safari politik JKW ke Jawa Barat dalam kurun waktu kurang dari dua bulan, dari Cirebon hingga Bogor, tidak cukup dibaca sebagai kunjungan politik biasa.

Jawa Barat merupakan salah satu medan elektoral paling strategis di Indonesia, dengan jumlah pemilih yang sangat besar dan dinamika politik yang kompetitif.

Karakter pemilihnya yang beragam membuat provinsi ini tidak mudah dikuasai secara permanen oleh satu kekuatan politik.

Karena itu, jika PSI mampu tumbuh secara signifikan di Jawa Barat, keberhasilan tersebut dapat menjadi indikasi bahwa gagasan politik yang dibawanya memperoleh penerimaan publik, bukan semata-mata karena pengaruh figur atau jaringan keluarga.

Di sinilah ujian elektoral yang sesungguhnya. Apakah nilai-nilai tentang kerja nyata, pembangunan berkelanjutan, kesederhanaan, dan politik yang tidak gaduh mampu diterima oleh pemilih yang kritis?

Apakah PSI dapat membuktikan bahwa kedekatan dengan JKW bukan sekadar modal popularitas, melainkan pintu masuk untuk membangun kepercayaan dan dukungan politik yang lebih luas?

Pertanyaan-pertanyaan inilah yang harus dijawab melalui kerja organisasi, kaderisasi, dan pembuktian elektoral.

Kelima, sejarah akan menguji apakah yang diwariskan adalah kekuasaan atau nilai perjuangan.

Tentu saja, proyek politik ini masih menyisakan sejumlah pertanyaan dan ruang kritik.

Sejarah politik Indonesia akan mencatat apakah pada Pemilu 2029 PSI hanya akan melahirkan kembali tokoh-tokoh yang berasal dari lingkaran keluarga dan elite yang sama, atau justru mampu melahirkan ratusan kader baru dari berbagai pelosok Indonesia melalui sistem pembinaan yang terbuka dan berkelanjutan.

Jika yang terjadi adalah yang pertama, kritik mengenai politik dinasti akan memperoleh pembenaran.

Namun, jika yang terjadi adalah yang kedua, maka apa yang sedang dibangun bersama PSI berpotensi menjadi sebuah eksperimen penting dalam demokrasi Indonesia: bahwa kesinambungan sebuah tradisi politik tidak harus diwujudkan melalui pewarisan jabatan, tetapi dapat dibangun melalui pewarisan gagasan, nilai, dan sistem kaderisasi.

Pada akhirnya, bersama PSI, JKW tidak harus dibaca sedang membangun sebuah kerajaan politik. Ada kemungkinan bahwa ia sedang berupaya membangun sebuah jembatan antara karisma seorang pemimpin dengan harapan lahirnya gerakan politik rakyat yang berkelanjutan.

Tentu saja, jembatan itu hanya akan bermakna apabila terbuka bagi siapa pun, tidak dimonopoli oleh keluarga, dan memberikan kesempatan yang setara bagi kader-kader baru untuk tumbuh serta memimpin.

Sebab, demokrasi yang sehat bukan hanya tentang bagaimana melahirkan penguasa, melainkan juga tentang bagaimana membangun sistem yang mampu melahirkan pemimpin-pemimpin baru.

Di situlah sesungguhnya perbedaan antara mewariskan kekuasaan dan mewariskan perjuangan.(*)



BERITA BERIKUTNYA