“Keberanian sejati dalam politik bukan menyerang yang berbeda, melainkan mengajak yang berbeda untuk berjalan bersama.”
Menguatnya polarisasi politik dalam beberapa tahun terakhir telah mengubah wajah demokrasi Indonesia menjadi semakin emosional dan konfrontatif.
Dalam situasi seperti ini, partai politik dihadapkan pada pilihan strategis, terus memainkan politik saling serang atau mulai membangun politik yang merangkul.
Bagi Partai Solidaritas Indonesia (PSI), pilihan tersebut bukan sekadar soal citra, melainkan soal arah dan masa depan politiknya.
Dalam perspektif teori politik inklusif (inclusive politics), partai politik yang ingin tumbuh berkelanjutan harus mampu membuka diri terhadap keberagaman sosial dan pandangan politik masyarakat.
Politik yang eksklusif dan gemar “memukul” lawan cenderung hanya mengonsolidasikan pendukung lama, tetapi gagal menarik simpati kelompok yang lebih luas.
PSI, dengan identitas sebagai partai anak muda dan antikorupsi, sesungguhnya memiliki peluang besar untuk merangkul pemilih lintas kelas dan latar belakang—asal pendekatan komunikasinya tidak terjebak pada konfrontasi yang berlebihan.
Pendekatan inklusif bukan berarti PSI kehilangan sikap kritis. Kritik tetap menjadi bagian penting dalam demokrasi.
Namun, kritik yang disampaikan dengan nada menyerang dan menutup ruang dialog justru berpotensi mempersempit basis dukungan.
Politik merangkul menuntut kemampuan mendengar, memahami keresahan publik, serta menawarkan solusi yang konkret dan relevan dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.
Hal ini sejalan dengan teori demokrasi deliberatif yang dikemukakan Jürgen Habermas. Dalam teori ini, demokrasi yang sehat bertumpu pada proses dialog rasional dan pertukaran gagasan di ruang publik.
Kekuatan politik tidak diukur dari seberapa keras serangan narasi, melainkan dari seberapa kuat argumen dan kualitas solusi yang ditawarkan. Dalam kerangka ini, politik “memukul” lawan dengan stigma atau label justru melemahkan kualitas demokrasi itu sendiri.
Bagi PSI, pendekatan deliberatif dapat menjadi jalan untuk meningkatkan kedewasaan politik. Dengan memperkuat argumen berbasis data, kebijakan, dan kepentingan publik, PSI dapat memosisikan diri sebagai partai yang tidak hanya vokal, tetapi juga solutif.
Politik dialogis seperti ini berpotensi membangun kepercayaan publik, terutama di kalangan pemilih rasional yang semakin jenuh dengan politik gaduh.
Ke depan, tantangan utama PSI bukan hanya bagaimana tampil berani, tetapi bagaimana menjadi relevan.
Dalam demokrasi yang plural seperti Indonesia, keberanian tanpa empati mudah berubah menjadi jarak. Sebaliknya, politik yang merangkul—tanpa kehilangan prinsip—adalah fondasi penting bagi partai yang ingin tumbuh sebagai kekuatan politik masa depan.
PSI dihadapkan pada pilihan sejarah, terus memukul dan terjebak dalam lingkaran polarisasi, atau merangkul dan mengambil peran sebagai jembatan di tengah perbedaan. (*)
*) Penulis adalah simpatisan PSI
90 WNI Korban Online Scam Berhasil Dipulangkan Dari Perbatasan Myanmar-Thailand
Aparat Penegak Hukum dan Pemerintah Diminta Lebih Serius Tindak Aktivitas PETI
PGRI Jambi Minta Perlindungan Hukum Dari Kejati Bagi Guru Agar Tenang Jalankan Tugas
Diduga Rangkap Jabatan, DPC PDIP Kota Jambi Sidang Etik dan Disiplin Hendra Bongsu