IMCNews.ID, Jambi - Gubernur Jambi Al Haris mengancam akan mencopot kepala dinas/ kepala biro (kepala Organisasi Perangkat Daerah/OPD) yang bersikap kasar dan tidak respek dengan wartawan. Penegasan ini disampaikan disampaikan Al Haris di hadapan ratusan wartawan dan para perwakilan Diskominfo kabupaten kota dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Informasi dan Komunikasi publik tahun 2022 di Aston Hotel Kota Jambi, Senin (11/4) kemarin.
‘’ Kalau ada kepala dinas atau kepala biro di lingkungan setda Provinsi Jambi yang tidak respek dengan wartawan, lapor dengan saya. Saya akan copot mereka,’’ tegas Haris. Dia mengingatkan para kepala OPD untuk bersikap baik dengan wartawan. Tidak menghindari wartawan. Apalagi memusuhi para kuli tinta.
Karena, menurut dia, wartawan baik media cetak, online dan elektronik adalah lampu Pemerintah Daerah (Pemda). Kalau tidak ada media, maka gelap gulita lah suatu Pemda tersebut.
‘’ Kepala Dinas/Kepala Biro di lingkup Pemprov Jambi harus dekat dengan wartawan, jangan menghindar ketika dikonfirmasi wartawan. Media ini sahabat kita semua. Kalau ada Kadis alergi dengan media lapor ke saya, akan saya copot," katanya lagi.
Menurut Al Haris media mempunyai peran penting dalam pembangunan Provinsi Jambi. "Wartawan ini memberikan informasi, pelengkap pembangunan kita dan penyeimbang kita. Wartawan juga rakyat Jambi,"ungkapnya.
Pada kesempatan itu, Haris juga menyampaikan beberapa perkembangan pembangunan di Provinsi Jambi. Termasuk dampak baik yang diperoleh dari kunjungan Presiden Joko Widodo (Jokowi) ke Jambi, Kamis pekan lalu.
Menurut Haris dia sudah menyampaikan masalah paling krusial di Jambi kepada Presiden Jokowi. Yakni masalah angkutan batubara yang bikin macet berkepanjangan. ‘’ Saat saya lapor pak presiden, beliau bilang kalau ada macet berarti ekonomi Jambi bergerak. Kalau tidak ada macet malah jadi masalah. Itu artinya ekonomi tidak bergerak. Saya pikir betul juga,’’ kata Haris menceritakan ulang saat dia melapor masalah angkutan batubara ke presiden.
Selain melaporkan, Haris juga mengusulkan solusi mengatasi kemacetan tersebut. Salah satunya pelebaran jalan Sarolangun- Tembesi-Batanghari-Kota Jambi. ‘’ Saat saya usulkan itu (pelebaran jalan), pak presiden langsung perintahkan Menteri PUPR untuk menanganinya,’’ ungkapnya.
Haris juga mengungkapkan, selain pelebaran jalan, solusi lain untuk mengatasi angkutan batubara adalah dengan upaya mengalihkan menggunakan jalur air. Menurut Haris ada satu perusahaan yang menyatakan sanggup mengerjakan pengerukan sungai dari Desa Tenam sampai ke pelabuhan Talang Duku.
‘’ Jika pengerukan sungai ini bisa dilakukan, maka sebagian pengangkutan batubara bisa dialihkan melalui jalur sungai. Ini akan mengurang kemacetan. Disamping pelebaran jalan,’’ katanya.
Sebelumnya, Plt Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Provinsi Jambi, Ismed Wijaya, juga menjelaskan dalam waktu dekat ini pihaknya berencana akan mengoperasikan jalur sungai Batanghari untuk mengurai kepadatan truk batu bara. Dishub sudah melakukan perencanaan untuk jangka pendek dengan memindahkan sebagian angkutan batubara dari jalur darat, untuk dialihkan melalui jalur air.
“Kita sudah melakukan ini, dimana nanti angkutan yang menggunakan jalur darat di dua rute ini, kita alihkan melalui jalur air dari sungai. Kan kita juga sudah punya pelabuhan khusus batubara di Tenam, sesuai lagi komitmen dari perusahaan itu nanti sebelum lebaran mereka akan mendatangkan kapal truk.” ungkapnya.
Ia berharap, setelah lebaran hari Raya Idul Fitri tahun ini kapal truk tersebut sudah didatangkan dan aktivitas nya pun sudah dapat berjalan. Sehingga nanti, kemacetan-kemacetan yang terjadi akibat aktivitas batubara ini, dapat berkurang di Jambi.
Langkah utama, pada bulan Mei mendatang, pihaknya akan mendatangkan satu alat berat atau kapal keruk, untuk mendalami sungai Batanghari yang dangkal. Rencananya ini akan dimulai dari Tenam, Kabupaten Batanghari.
Ia juga menjelaskan, pekerjaan pengerukan sungai Batanghari yang dangkal tersebut diperkirakan akan dikerjakan selama enam bulan. Setelah itu, nanti baru pengoperasionalan.
“Karena setelah dikeruk juga tak bisa langsung jalan, harus ada penyiapan instrumen yang diperlukan agar tak terhambat nantinya,” beber Ismed. (*)