Oleh: Oppui, Tongku Batara Bona Raja Hasibuan – Pomparan Sutan Bangun Hasibuan

Menyusuri Makam Raja Sutan Bangun Hasibuan, Bagas Godang Luat Binanga, Barumun Raya

Minggu, 20 September 2026 - 12:00:35 WIB

Jejak Fisik Terakhir Kejayaan Luat Barumun: Dari Reruntuhan Panai Hingga Politik Pecah Belah Belanda di Pahae Barumun Pahulu Sosa
Jejak Fisik Terakhir Kejayaan Luat Barumun: Dari Reruntuhan Panai Hingga Politik Pecah Belah Belanda di Pahae Barumun Pahulu Sosa

JAMBI, IMCNews.id- Sejarah Barumun Raya selama ini hidup dalam tambo lisan dan stamboom keluarga. Namun di Binanga Unte Rudang, Kecamatan Barumun, Kabupaten Padang Lawas, sejarah itu bisa disentuh dan difoto.

Di dalam satu kompleks sakral yang sama, yang dibangun pada Tahun 1708, dua artefak terakhir kejayaan Luat Barumun masih berdiri kokoh dan berdampingan: Bagas Godang Luat Binanga Unte Rudang, Barumun Raya (1708) dan, persis di samping Bagas Godang tersebut, Makam Raja Sutan Bangun Hasibuan dan Permai Suri Bagas Godang Binanga, Luat Barumun Raya.

Kompleks tunggal inilah kunci untuk memahami satu fakta sejarah yang sengaja dihapus dalam arsip kolonial: bahwa di wilayah Pahae Barumun Pahulu Sosa pernah berdiri satu Kerajaan Luat yang berdaulat, sebelum dipecah-belah Belanda menjadi luat-luat kecil.

I. Gelar Raja Luat Lima Generasi: Dari SBH I hingga SBH V

Sutan Bangun Hasibuan (SBH) bukan nama pribadi, melainkan gelar Raja Luat yang diwariskan secara patrilineal kepada pahompu siangkangan selama lebih dari 300 tahun.

Sinkronisasi Pusaka Stamboom Marga Hasibuan dan naskah Sejarah Luhat Djandjilobi dan Luhat Hasahatan karya Ramlan Hasibuan Djandjilobi mengungkap silsilah runtut:

SBH I (1495), Guru Marjalang / Namora Sende Tua, pembuka Lobu Botung pasca-runtuhnya Kesultanan Aru Barumun 1469. SBH II, Ompu Sodoguron di Hasahatan; SBH III, Ompu Bangun di Mondang Lamo; SBH IV, Sutan Bangun Mulia Tandang Hombing Djondjong, ayah Mahodum Pangulu Bosar (1539–1617); dan SBH V, Sutan Bangun Hasibuan.

Puncaknya adalah pembangunan Bagas Godang Luat Binanga pada Tahun 1708. Dari Bagas Godang inilah SBH memerintah seluruh Kerajaan Luat Sutan Bangun Hasibuan yang wilayahnya meliputi seluruh aliran Aek Barumun yang disebut Pahae Barumun Pahulu Sosa.

Dalam struktur adat yang asli, hanya ada satu Raja Luat. Rajanya bergelar Sutan Bangun Hasibuan dan permaisurinya bergelar khusus Permai Suri Bagas Godang Binanga, Luat Barumun Raya. Gelar Permai Suri adalah simbol kedaulatan tertinggi di Bagas Godang induk, tidak boleh dipakai istri raja huta biasa.

II. Era Belanda: Dari Sutan & Permai Suri Menjadi Patuan & Naduma

Masuknya Belanda setelah Perang Paderi (1821–1837) menjadi titik balik kehancuran Luat Barumun.

Belanda menerapkan politik hukum adat yang sistematis: Era zaman Belanda, Kerajaan Sutan Bangun Hasibuan di Wilayah Pahae Barumun Pahulu Sosa (Padang Lawas) dipecah belah menjadi beberapa Luat, setiap Luat diberi gelar Patuan dan istrinya goar Naduma Bagas Godang. Istri Raja Sutan Bangun Hasibuan diberi goar Permai Suri Bagas Godang Binanga, Luat Barumun Raya.

Ini adalah politik penurunan kasta yang disengaja. Secara de jure, gelar Sutan Bangun Hasibuan sebagai Raja Luat dan Permai Suri Bagas Godang sebagai Permaisuri Luat dihapuskan dalam arsip Residentie Tapanuli, Afdeeling Padang Lawas (1840–1942). Sebagai gantinya, setiap pecahan Luat hanya boleh dipimpin seorang Patuan Bagas Godang (Raja Huta) dan istrinya bergelar Naduma Bagas Godang.

Maka, dari satu Kerajaan Luat yang besar, lahirlah Luat Hasahatan, Djandjilobi, Mondang, Binanga, dan Sosa-Pahulu. Masing-masing dipimpin Patuan dan Naduma-nya sendiri yang tunduk kepada Controleur Belanda di Gunung Tua dan Sibuhuan. Semua Patuan dipaksa berebut pajak dan tanah sehingga lupa induknya di Binanga.

Inilah alasan dalam arsip Belanda kita tidak lagi menemukan Sutan dan Permai Suri; yang ada hanya Patuan dan Naduma.

III. Perlawanan Kultural: Kompleks Istana dan Makam dalam Satu Halaman

Secara de facto, politik itu gagal total. Bukti fisiknya tidak terpisahkan.

Bagas Godang Binanga, Barumun Raya (1708) dan Makam Raja Sutan Bangun Hasibuan dan Permai Suri yang berada persis di samping Bagas Godang membuktikan ini adalah kompleks kerajaan, bukan rumah kuria biasa.

Tidak ada rumah Patuan Kuria yang makam rajanya berada persis di samping Bagas Godang. Hanya Raja Luat yang memiliki tradisi Sopo Godang berdampingan dengan Tambak Na Bolon dalam satu halaman.

Makam dengan nisan Islam tua yang ditaburi batu-batu putih Sungai Barumun ini berada persis di samping Bagas Godang dan menghadap Sungai Barumun. Ini membuktikan kesinambungan Islam dari Kesultanan Aru Barumun (1299) hingga pembangunan Bagas Godang 1708.

Yang paling penting, masyarakat hingga hari ini tetap menyebutnya Makam Raja Sutan Bangun Hasibuan dan Permai Suri, bukan Makam Patuan dan Naduma. Ingatan kolektif menolak penurunan kasta oleh Belanda.

Di dalam surat Belanda tertulis Patuan dan Naduma, tetapi di dalam Bagas Godang 1708 itu sendiri, saat upacara martonggo raja, keturunan SBH tetap dipanggil Sutan Bangun Hasibuan dan istrinya tetap dipanggil Permai Suri Bagas Godang Binanga.

Binanga bukan huta biasa. Ia adalah titik temu tiga peradaban besar Sungai Barumun: Peradaban Hindu-Buddha Kerajaan Panai (1025) dengan 16 candi, Peradaban Islam Kesultanan Aru Barumun (1299), dan Peradaban Luat Batak Sutan Bangun Hasibuan (1708).

Menyusuri kompleks Bagas Godang Binanga (1708) dan makam Raja yang berada persis di sampingnya adalah ziarah untuk mengingat bahwa Kerajaan Luat di Pahae Barumun Pahulu Sosa pernah ada, pernah dipecah Belanda menjadi Luat-Luat Patuan dan Naduma Bagas Godang, namun ruh gelar Raja Luat dan Permai Suri-nya tetap hidup di halaman yang sama hingga hari ini.(*)

Horas Tondi Madingin, Pir Tondi Matogu.

DAFTAR PUSTAKA

- Hasibuan, Ramlan. Sejarah Luhat Djandjilobi dan Luhat Hasahatan di Barumun.

- Pusaka Stamboom Marga Hasibuan: Silsilah Toga Sobu hingga SBH V.

- Parlindungan, Mangaraja Onggang. Tuanku Rao.

- Arsip Kolonial Residentie Tapanuli, Afdeeling Padang Lawas: Sistem Pemerintahan Kuria dan Patuan-Naduma Bagas Godang di Wilayah Pahae Barumun Pahulu Sosa (1840–1942).

- Hasil Penelusuran Lapangan 2026: Kompleks Bagas Godang Luat Binanga Unte Rudang, Barumun Raya (1708) dan Makam Raja Sutan Bangun Hasibuan dan Permai Suri yang berada persis di samping Bagas Godang.



BERITA BERIKUTNYA