Titik Hotspot Terus Bertambah, Ivan Wirata: Api Berpindah, Asap Bergerak

Sabtu, 05 September 2026 - 10:05:02 WIB

IMCNews.ID, Jambi – Titik panas (hotspot) di Provinsi Jambi mengalami lonjakan cukup signifikan.

Pada Jumat, 4 September 2026 pukul 19.00 WIB, tercatat 291 hotspot selama periode pukul 00.00–16.00 WIB.

Sehari sebelumnya, 3 September, tercatat 322 hotspot dalam satu hari penuh. Secara kumulatif, jumlah hotspot sepanjang 2026 telah mencapai 5.739 titik.

Sementara itu, estimasi luas lahan terbakar tercatat sudah mencapai sekitar 1.879,31 hektare.

“Perkembangan beberapa hari terakhir membuktikan Karhutla masih sangat dinamis. Kita sempat melihat hotspot turun, kemudian kembali meningkat. Jadi jangan buru-buru menganggap kondisi sudah aman,” kata Wakil Ketua DPRD Provinsi Jambi, Ivan Wirata.

Dia meminta Pemerintah Provinsi Jambi bersama seluruh unsur Satgas Karhutla mempertahankan kesiapsiagaan.

Dari 291 hotspot pada 4 September hingga pukul 16.00 WIB, Tebo mencatat 104 titik, tertinggi di Jambi.

Kemudian Batang Hari berada di posisi berikutnya dengan 57 titik, Tanjung Jabung Barat 46 titik, Muaro Jambi 30 titik, Sarolangun 26 titik, Merangin 18 titik, Tanjung Jabung Timur dan Bungo masing-masing empat titik, serta Kerinci dua titik.

“Api berpindah. Hari ini konsentrasi tinggi ada di Tebo, Batang Hari dan Tanjab Barat. Posko, personel, sumber air dan dukungan operasi harus mampu mengikuti pergerakan risiko secara cepat,” imbuhnya.

Menurutnya, jaringan 81 Pos Karhutla yang telah dibangun perlu dioptimalkan dengan konsep dynamic deployment.

Sehingga pos terdekat dapat segera bergerak ketika hotspot telah diverifikasi menjadi kejadian kebakaran.

Secara kumulatif, Sarolangun masih menjadi wilayah dengan hotspot tertinggi sebanyak 1.341 titik, disusul Tanjung Jabung Barat 1.008 titik, Muaro Jambi 947 titik, Tebo 736 titik dan Batanghari 710 titik.

Ivan menilai data tersebut memperlihatkan bahwa peta risiko struktural Karhutla Jambi mulai semakin jelas.

“Kita tidak cukup melihat hotspot hari ini. Data kumulatif menunjukkan Sarolangun, Tanjab Barat, Muaro Jambi, Tebo dan Batanghari perlu mendapatkan perhatian dalam kebijakan pencegahan jangka panjang,” ujarnya.

Karena itu, menurutnya, Jambi membutuhkan dua peta sekaligus: peta operasi harian untuk mobilisasi cepat dan peta risiko struktural untuk menentukan investasi pencegahan, tata air, kesiapan perusahaan dan penguatan masyarakat.

Persoalan lain yang menjadi perhatian DPRD adalah kualitas udara. Laporan Satgas mencatat ISPU Kota Jambi mencapai 210 atau kategori Sangat Tidak Sehat.

Muaro Jambi berada pada angka 186 dan Tebo 150, keduanya kategori Tidak Sehat. Tanjung Jabung Timur tercatat 100 atau kategori Sedang.

Ivan menilai kondisi Kota Jambi memberikan pelajaran penting karena jumlah hotspot di Kota Jambi sangat kecil, tetapi masyarakat dapat menerima dampak asap dari kebakaran wilayah lain.

“Lokasi api tidak selalu sama dengan lokasi dampak asap. Api bisa berada di satu kabupaten, tetapi asap bergerak mengikuti angin dan masyarakat di daerah lain yang menerima dampaknya,” sebutnya.

Karena itu, Ivan mendorong pengembangan Smoke Early Warning System yang mengintegrasikan hotspot, firespot, PM2.5, ISPU, arah dan kecepatan angin untuk memprediksi pergerakan asap.

Ivan meminta penanganan Karhutla diintegrasikan dengan protokol kesehatan masyarakat.

Ketika ISPU masuk kategori Tidak Sehat atau Sangat Tidak Sehat, pemerintah harus memperkuat informasi publik, perlindungan kelompok rentan, layanan kesehatan, penggunaan masker serta penyesuaian aktivitas luar sesuai kondisi.

“Jangan menunggu masyarakat banyak mengalami gangguan pernapasan baru kita bergerak. Kalau data kualitas udara sudah menunjukkan risiko, tindakan kesehatan harus otomatis mengikuti,” tegasnya.

Menurutnya, anak-anak, lansia, ibu hamil dan masyarakat dengan gangguan pernapasan harus menjadi kelompok prioritas.

Ivan juga mencermati estimasi luas terbakar yang masih tercatat lebih kurang 1.879,31 hektare, meskipun hotspot kumulatif meningkat menjadi 5.739 titik.

Ia menegaskan kondisi tersebut tidak serta-merta berarti tidak terjadi penambahan kebakaran.

“Kita perlu mengetahui kapan terakhir polygon area terbakar diperbarui. Hotspot bertambah tetapi angka luas terbakar tetap. Bisa saja kebakaran berhasil dikendalikan sebelum meluas, tetapi bisa juga verifikasi luas belum diperbarui. Ini harus transparan,” ujarnya. (*)



BERITA BERIKUTNYA