3.500 Malam Penuh Air Mata, Kisah Ernawati Perempuan Jambi Bangkit dari Luka Masa Lalu

Jumat, 04 September 2026 - 14:33:06 WIB

Ernawati
Ernawati

Kisah Ernawati Kini Pilih Memaafkan dan Berdamai dengan Masa Lalu.  Perempuan asal Jambi mengungkap pernah melewati masa sulit selama bertahun-tahun. Ia bahkan mengaku hampir setiap hari menangis selama sekitar 10 tahun.

 

Kisah emosional itu disampaikan Ernawati dalam podcast Ngopi Pahit Jambitv beberapa waktu lalu.

 

Menurut Ernawati , berbagai persoalan datang silih berganti dalam kehidupannya. Salah satunya ketika sang suami meninggal dunia dalam usia relatif muda, sementara anak-anaknya masih kecil.

 

Kondisi tersebut membuat Ernawati mengalami tekanan berat.

 

“Kalau ada manusia yang sepuluh tahun, tiga ribu lima ratus malam tidak pernah meneteskan air mata, itu saya,” ujar Erna.

 

Ia mengaku tidak ada hari yang benar-benar dilewati tanpa menangis.

 

“Kalau tidak siang, pagi. Tidak pagi, malam. Kalau tidak itu tengah malam pasti menangis,” tuturnya.

 

Selain kehilangan suami, Ernawati juga menghadapi persoalan lain yang membuatnya harus berpisah dengan anak-anak ketika mereka masih kecil.

 

Berbagai persoalan tersebut membuatnya lama terjebak dalam penyesalan.

 

Namun, setelah sekitar satu dekade, Ernawati mengaku mulai menemukan cara untuk berdamai dengan masa lalu.

 

Ia menyebut perubahan tersebut terjadi setelah mendapatkan bimbingan spiritual dan memperkuat pemahaman agama.

 

Ernawati mulai belajar memaafkan dirinya sendiri sekaligus memaafkan orang-orang yang dianggap pernah menyakitinya.

 

“Setelah sepuluh tahun baru saya menyadari dan baru saya benar-benar legowo, kemudian memaafkan, melepaskan semuanya,” katanya.

 

Ia menegaskan tidak lagi menyimpan dendam maupun kebencian kepada siapa pun.

 

Menurut Ernawati , salah satu titik balik kehidupannya adalah ketika ia mulai memperbaiki hubungan dengan Allah, memperkuat ibadah, bersilaturahmi dan memperbanyak sedekah.

 

Ia menyebut empat hal tersebut menjadi bagian dari proses yang membantunya bangkit.

 

“Saya diajarkan semua itu. Empat pilar itulah yang membuat motivasi saya bangkit,” ujarnya.

 

Kini, Ernawati berusaha menjalani kehidupan dengan perspektif berbeda.

 

Ia tidak lagi menjadikan harta, status maupun pandangan manusia sebagai ukuran utama kebahagiaan.

 

Menurutnya, kebahagiaan justru bisa ditemukan dari hal-hal sederhana yang sering dianggap biasa.

 

“Bahagia itu adalah ketika kita mensyukuri setiap detik napas yang Allah berikan,” katanya.

 

Pengalaman hidup tersebut juga menjadi dasar Ernawati dalam menjalankan berbagai kegiatan sosial.

 

Setelah dipercaya menjadi Ketua ISMI Provinsi Jambi, ia membawa sejumlah program sosial, termasuk rencana pengembangan rumah tahfiz, penguatan panti asuhan dan perhatian terhadap anak yatim serta kaum dhuafa.

 

Sebelumnya, Ernawati juga menginisiasi pemberian makanan berbuka puasa gratis selama Ramadan. Program tersebut ditujukan untuk menyediakan makanan bagi masyarakat selama 30 hari.

 

Ia mengatakan kegiatan sosial tersebut tidak dibuat sebagai alat untuk membangun citra politik.

 

Menurut Ernawati, kegiatan membantu masyarakat merupakan bagian dari tujuan hidupnya.

 

“Program hidup saya itu anak yatim, dhuafa, kemudian masjid seluruhnya, rumah tahfiz,” tegasnya.

 

Karena itu, Ernawati meminta masyarakat tidak selalu mengaitkan kegiatan sosial seseorang dengan kepentingan politik.

 

Menurutnya, masih ada orang yang melakukan kebaikan bukan untuk mengejar jabatan, tetapi sebagai bentuk investasi akhirat.

 

“Tidak semua orang berbuat di dunia ini tujuannya itu duniawi. Masih ada orang-orang yang tujuannya investasi akhirat,” ujarnya.

 

Bagi Ernawati, kesuksesan dunia bukanlah tujuan akhir.

 

Ia memandang harta dan keberhasilan sebagai alat untuk membantu orang lain.

 

“Kesuksesan saya menurut saya itu adalah di akhirat. Ketika kita selamat sampai negeri akhirat, itulah sukses,” katanya.

 

Setelah melalui masa panjang penuh tekanan, Ernawati kini mengaku sudah berdamai dengan masa lalu dan memilih menjalani hidup dengan lebih tenang.

 

Ia pun berpesan kepada orang-orang yang masih menyimpan luka agar belajar memaafkan.

 

“Kalau ada suatu hal yang mengganjal, yang menyakiti, yang membuat tidak enak, trauma masa lalu, cepat-cepat dimaafkan. Maafkan orang lain dan maafkan diri kita,” ujarnya.

 

Bagi Ernawati, menyimpan dendam, iri dan kebencian hanya akan menjadi beban dalam perjalanan hidup.

 

“Jangan pernah simpan dendam, benci, iri, dengki. Jangan pernah, karena itu akan menghambat jalan suksesmu,” pungkasnya.



BERITA BERIKUTNYA