IMCNews.ID - Tingkat perceraian di Indonesia mencapai 438 ribu kasus sepanjang 2025 lalu berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS).
Angka ini menunjukkan tingginya peristiwa perceraian yang dinilai karena kurang matangnya persiapan diri menghadapi pernikahan.
"Kita juga perlu menyadari di satu sisi, bahwa membangun keluarga tidak cukup hanya bermodal cinta, jadi pernikahan juga membutuhkan kesiapan fisik, termasuk reproduksi, mental, emosional, spiritual, sosial, dan ekonomi,” kata Direktur Bina Ketahanan Remaja Kemendukbangga/BKKBN Irma Ardiana.
“Tanpa persiapan yang matang, berbagai persoalan rumah tangga dapat muncul tanpa ada solusi," tambahnya.
Berdasarkan hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS), lanjut Irma, sebagian besar penduduk Indonesia berusia produktif.
Oleh karena itu keberhasilan memanfaatkan bonus demografi sangat ditentukan oleh kualitas generasi muda mempersiapkan masa depannya, termasuk melalui kehidupan berkeluarga.
"Pernikahan bukan sekadar menyatukan dua individu, melainkan awal terbentuknya keluarga sebagai unit terkecil pembangunan bangsa. Dari keluarga lahir generasi sehat, cerdas, dan berkarakter," sebutnya.
BPS, lanjutnya, juga mengungkapkan sebagian besar perceraian disebabkan perselisihan dan pertengkaran yang terus-menerus, serta tidak ada solusi dan refleksi dari pasangan.
"Angka ini menjadi pengingat bahwa membangun keluarga membutuhkan komitmen, komunikasi, serta kemampuan menyelesaikan permasalahan bersama-sama. Persiapan pernikahan juga berarti kelahiran generasi yang sehat. Oleh karena itu ini berkontribusi untuk kita mencegah stunting sejak hulu," ucap Irma.
Ia menegaskan stunting dicegah sejak sebelum pernikahan. Karena itu Kemendukbangga/BKKBN mendorong seluruh calon pengantin memeriksa kesehatannya minimal tiga bulan sebelum menikah.
"Kita sudah memiliki alat bantu, dimasukkan dan diketahui status gizinya seperti apa melalui Elektronik Siap Menikah dan Siap Hamil (Elsimil). Di dalam Elsimil, para calon pengantin bisa memperoleh skrining kesehatan, edukasi, serta pendampingan yang diberikan oleh kader pendamping keluarga sehingga berbagai faktor risiko dapat ditangani lebih awal," pungkasnya. (*)
Seleksi Ketat Atlet PON Bela Diri, KONI Jambi Optimistis Raih Medali
PEP Jambi dan Mitra Kerja Perkuat Sinergi Demi Keberlanjutan Operasi dan Target Produksi Migas
Perkuat Tata Kelola Informasi, KI Jambi Edukasi PPID se-Kabupaten Batang Hari
Eks Kadisdik Jambi Varial Adhi Putra dan Dua Tersangka Lain Dilimpahkan ke JPU Kasus DAK SMK