Dalam ekonomi modern, kekuatan pasar keuangan sering kali tidak hanya ditentukan oleh indikator fundamental seperti pertumbuhan ekonomi, inflasi, suku bunga, atau neraca perdagangan. Ada satu variabel yang bersifat tidak berwujud namun memiliki daya penggerak sangat kuat, yaitu kepercayaan pasar (market confidence).
Variabel inilah yang kerap menjadi penentu utama arah nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam jangka pendek hingga menengah.
Fenomena sepanjang 2025–2026 menunjukkan bahwa pasar Indonesia sangat sensitif terhadap perubahan persepsi investor. Ketika optimisme terhadap prospek ekonomi dan kredibilitas kebijakan meningkat, modal asing masuk ke pasar keuangan domestik.
Konsekuensinya terjadi peningkatan permintaan terhadap rupiah sehingga nilai tukar menguat, sementara permintaan saham naik dan mendorong penguatan IHSG.
Data menunjukkan bahwa pada akhir 2025 hingga awal 2026, ketika kepercayaan terhadap prospek ekonomi Indonesia membaik, IHSG mampu mencapai rekor tertinggi hingga berada pada kisaran 8.700 poin dan rupiah relatif stabil di sekitar Rp16.700 per dolar AS. Kondisi tersebut merefleksikan bahwa investor tidak hanya melihat kondisi ekonomi hari ini, tetapi juga melakukan pricing terhadap ekspektasi masa depan.
Sebaliknya, koreksi tajam IHSG dan pelemahan rupiah pada periode tekanan pasar memperlihatkan sisi lain dari psikologi investasi. Ketika muncul ketidakpastian kebijakan dan persepsi risiko meningkat, investor melakukan penyesuaian portofolio dengan mengurangi eksposur pada aset berisiko. Arus modal keluar (capital outflow) menyebabkan permintaan terhadap rupiah menurun sehingga nilai tukar tertekan, sementara pelepasan saham memperdalam koreksi IHSG.
Dalam perspektif Behavioral Finance, kondisi ini dapat dijelaskan karena investor tidak selalu mengambil keputusan berdasarkan rasionalitas sempurna. Sentimen, persepsi risiko, dan keyakinan terhadap kemampuan pemerintah serta Bank Indonesia menjaga stabilitas ekonomi sering menjadi faktor yang mempercepat perubahan harga aset. Pasar bergerak bukan hanya berdasarkan fakta ekonomi, tetapi juga berdasarkan cerita (narrative), ekspektasi, dan tingkat keyakinan terhadap arah kebijakan.
Oleh sebab itu, penguatan rupiah dan kebangkitan IHSG pada Juni 2026 harus dipahami sebagai indikator pulihnya kepercayaan (restoration of confidence). Pasar memberikan sinyal bahwa stabilitas kebijakan, komunikasi ekonomi yang lebih baik, dan kepastian arah pembangunan mulai mendapatkan respons positif dari investor.
Namun, ada pelajaran penting yang perlu dicatat. Kepercayaan pasar adalah aset ekonomi yang sangat rapuh. Fundamental ekonomi yang baik tidak otomatis menghasilkan pasar yang kuat apabila tidak diiringi kredibilitas kebijakan. Sebaliknya, kebijakan yang dipercaya pasar dapat meredam gejolak bahkan ketika ekonomi sedang menghadapi tekanan.
Karena itu, agenda ekonomi ke depan bukan hanya menjaga pertumbuhan, tetapi juga mengelola ekspektasi pasar. Pemerintah dan otoritas moneter harus mampu menghadirkan konsistensi kebijakan, transparansi pengambilan keputusan, disiplin fiskal, serta komunikasi publik yang meyakinkan. Dalam era keuangan global yang bergerak sangat cepat, kepercayaan menjadi mata uang yang sama berharganya dengan cadangan devisa.
Dengan demikian, rupiah dan IHSG dapat dibaca sebagai barometer psikologi ekonomi nasional. Keduanya tidak hanya mengukur kesehatan ekonomi Indonesia, tetapi juga mengukur seberapa besar dunia percaya terhadap kemampuan Indonesia menjaga stabilitas dan menciptakan masa depan ekonomi yang menjanjikan. (*)
*) Penulis adalah akademisi
Kepercayaan Pasar, Variabel Tak Kasat Mata yang Menentukan Arah Rupiah dan IHSG
Sambut Jamaah Haji Kloter 13, Gubernur Al Haris Minta Maaf atas Kekurangan Layanan
Batik Air Terbang Perdana Jakarta-Bungo, Gubernur: Pemicu Pemerataan Pembangunan
Apresiasi Peran Polantas, Jurnalis di Jambi Berbagi Tali Asih
Gubernur Al Haris Hadiri Pengajian Umum dan Berikan Dukungan Pembangunan Pesantren