Indonesia Impor 150 Juta Barel Minyak Dari Rusia Bertahap Hingga Akhir 2026

Sabtu, 25 April 2026 - 13:16:20 WIB

Wakil Menteri ESDM, Yuliot.
Wakil Menteri ESDM, Yuliot.

IMCNews.ID, Jakarta – Indonesia bakal impor minyak sebanyak 150 juta barel dari Rusia sampai akhir 2026. “Impornya akan dilakukan secara bertahap,” ujar Wakil Menteri ESDM, Yuliot.

Dia menambahkan impor tersebut tak dapat dilakukan sekaligus. Pasalnya, memerlukan storage atau fasilitas penyimpanan minyak di dalam negeri.

Menurutnya, minyak yang diimpor itu akan digunakan untuk kebutuhan dalam negeri, bukan hanya masyarakat tapi juga untuk kegiatan industri, tambang, serta bisa didistribusikan untuk bahan baku petrokimia bila dibutuhkan.

“Untuk pemenuhan kebutuhan sampai akhir tahun. 150 juta barel,” sebutnya.

Meskipun demikian, komitmen Indonesia untuk mengimpor minyak mentah dari Amerika Serikat (AS) juga masih berlangsung.

Ia menyampaikan kebutuhan minyak Indonesia per harinya sekitar 1,6 juta barel, sedangkan produksi minyak Indonesia berada di kisaran 600 ribu barel per hari.

“Berarti kita impor sekitar 1 juta barel, kurang lebih. Kalau dikalkulasikan (sepanjang tahun) 150 juta itu juga kurang. Kita mencari tambahan dari negara-negara lain, termasuk yang dari Amerika,” ucap Yuliot.

Sebelumnya, Utusan Khusus Presiden bidang Energi dan Lingkungan Hashim Djojohadikusumo mengungkapkan Indonesia mendapat komitmen 150 juta barel minyak dari Rusia dengan harga khusus, hasil kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Rusia.

Dalam pertemuan tersebut, mulanya Rusia menyetujui untuk segera mengirim 100 juta barel minyak ke Indonesia dengan harga khusus.

Apabila Indonesia masih membutuhkan tambahan, kata Hashim, maka Rusia akan menambah pasokan sebesar 50 juta barel minyak untuk Indonesia menghadapi gejolak ekonomi.

“Jadi dia (Prabowo) ke Moskow bukan untuk foya-foya. Dia ke Moskow ketemu Presiden Putin selama 3 jam dan dapat komitmen dari Presiden Putin,” ujar Hashim.

Dengan demikian, Rusia menjadi alternatif pemasok energi ke Indonesia di tengah krisis energi yang saat ini sedang melanda dunia akibat perang antara Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran. (*)



BERITA BERIKUTNYA