Adopsi AI dan Cloud Meningkat, Tapi Infrastruktur Tertinggal

Senin, 05 Januari 2026 - 15:14:34 WIB

Ilustrasi.
Ilustrasi.

IMCNews.ID, Jakarta  - Teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan layanan cloud semakin banyak diadopsi oleh perusahaan di Indonesia.

Berbagai sektor industri mulai memanfaatkan AI untuk meningkatkan efisiensi operasional, mempercepat pengambilan keputusan, hingga menghadirkan inovasi layanan berbasis data.

Di sisi lain, penggunaan cloud juga terus meningkat seiring kebutuhan bisnis akan sistem yang fleksibel, skalabel, dan mudah diintegrasikan.

Namun, di balik tren positif tersebut, masih terdapat tantangan mendasar yang dihadapi banyak perusahaan, yaitu kesiapan infrastruktur teknologi informasi.

Peningkatan adopsi AI dan cloud belum sepenuhnya diimbangi dengan fondasi infrastruktur yang kuat, terintegrasi, dan aman.

Kondisi ini berpotensi menghambat optimalisasi teknologi sekaligus menimbulkan risiko baru bagi operasional bisnis.

Direktur PT. Nusa Network Prakarsa, Edward, menjelaskan bahwa banyak perusahaan terlalu fokus pada implementasi teknologi terkini. Tapi mereka tidak memastikan kesiapan infrastruktur pendukungnya.

Menurutnya, AI dan cloud bukan sekadar soal aplikasi atau platform, melainkan membutuhkan ekosistem teknologi yang matang dari sisi jaringan, keamanan, hingga tata kelola data.

“Banyak perusahaan ingin segera mengadopsi AI dan cloud karena melihat potensi bisnisnya. Namun, fondasi infrastrukturnya seringkali belum siap. Jaringan belum terintegrasi dengan baik, sistem keamanan masih terfragmentasi, dan data tersebar di berbagai platform,” ujar Edward.

Ia menegaskan bahwa penerapan AI dan cloud tidak bisa dilakukan secara instan. Perusahaan perlu membangun infrastruktur teknologi secara bertahap dan terencana.

Infrastruktur jaringan yang andal, arsitektur sistem yang tepat, serta keamanan siber yang kuat menjadi elemen krusial agar teknologi dapat berjalan optimal dan berkelanjutan.

Selain itu, integrasi data juga menjadi tantangan utama. AI sangat bergantung pada kualitas dan konsistensi data.

Jika data masih tersimpan dalam silo atau tidak dikelola dengan standar yang sama, maka hasil analisis dan automasi yang dihasilkan AI tidak akan maksimal.

“Tanpa integrasi data yang baik, AI justru berpotensi menghasilkan insight yang keliru dan berdampak pada keputusan bisnis,” tambah Edward.

Kondisi ini masih sering ditemui di berbagai industri, mulai dari manufaktur, properti, hingga sektor jasa.

Banyak perusahaan memiliki sistem yang tumbuh secara parsial seiring kebutuhan bisnis, namun belum dirancang sebagai satu ekosistem yang saling terhubung.

Akibatnya, ketika teknologi AI dan cloud diterapkan, muncul berbagai kendala teknis dan operasional. (*)



BERITA BERIKUTNYA