Hasil Survei, 81 Persen Perusahaan di Indonesia Belum Siap Adopsi AI

Rabu, 03 Desember 2025 - 15:16:59 WIB

Ilustrasi.
Ilustrasi.

IMCNews.ID, Jakarta — Teknologi kecerdasan buatan (AI) terus menjadi fokus utama transformasi digital di berbagai sektor industri.

Meski minat perusahaan terhadap AI meningkat, hasil survei Cisco AI Readiness Index 2025 menunjukkan kenyataan yang berbeda.

Di mana, hanya 19 persen perusahaan di Indonesia yang dinilai siap mengadopsi AI. Sisanya, sebanyak 81 persen perusahaan lainnya masih belum memiliki fondasi yang memadai untuk memanfaatkan AI secara efektif.

Angka ini menunjukkan adanya celah besar antara ambisi dan kesiapan infrastruktur. Banyak perusahaan ingin memanfaatkan AI untuk meningkatkan produktivitas, operasional, hingga inovasi layanan.

Namun AI bukan sekadar implementasi teknologi baru, melainkan membutuhkan kesiapan mendasar mulai dari data, keamanan, jaringan, hingga SDM yang kompeten.

Sejumlah faktor menjadi hambatan utama dalam adopsi AI. Infrastruktur yang belum matang, sistem data yang tidak tertata, kurangnya tenaga ahli, dan investasi keamanan yang masih minim.

Menurut Edward, Direktur PT Nusa Network Prakarsa, melihat banyak perusahaan terlalu fokus mengejar tren, tanpa mempertimbangkan kesiapan infrastruktur yang menjadi prasyarat utama.

“Sebagian besar perusahaan ingin masuk ke AI, tetapi ekosistem dasarnya belum siap. Infrastruktur jaringan belum terintegrasi, data masih tersebar di banyak sistem, dan standar keamanannya belum mendukung automasi berbasis AI. Kalau fondasi ini tidak diperkuat terlebih dahulu, penerapan AI justru bisa membawa risiko baru bagi perusahaan,” jelas Edward.

Menurutnya, AI bukan solusi instan. Perusahaan harus membangun kesiapan dari bawah, mulai dari memperkuat perangkat keras, menata arsitektur jaringan, memperkuat keamanan, sampai menyusun tata kelola data.

Edward menegaskan bahwa data merupakan fondasi utama, jika data tidak terintegrasi, tidak real time atau tidak konsisten, maka output AI akan jauh dari optimal dan hal sering terjadi pada banyak perusahaan di Indonesia. (*)



BERITA BERIKUTNYA