IMCNews.ID, Jambi - Tim SAR gabungan pada hari keenam upaya pencarian menggunakan alat pencarian bawah air untuk menemukan KM Sumber Daya, kapal yang tenggelam setelah dihantam badai di wilayah perairan Pulau Berhala dalam perjalanan menuju ke Kepulauan Riau pada 10 Maret 2022.
"Basarnas Jambi dan Polairud Polda Jambi setelah menggunakan sonar kini menurunkan juga underwater searching device (alat pencarian bawah air) untuk mencari bangkai atau puing kapal yang tenggelam tersebut," kata Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Jambi Abdul Malik di Jambi, Kamis (17/3).
"Ini dilakukan guna melihat kondisi bawah air di sekitaran tempat terakhir kapal tersebut terlihat sebelum tenggelam," ia menambahkan.
Menurut dia, upaya pencarian akan dilakukan dari pagi hingga sore di area dalam radius 10 mil laut dari lokasi KM Sumber Daya diperkirakan tenggelam berdasarkan keterangan seorang anak buah kapal yang selamat.
Abdul Malik memimpin upaya pencarian pada hari keenam, yang juga melibatkan anak buah kapal yang selamat dari musibah.
Hingga saat ini tim SAR belum menemukan tanda-tanda keberadaan KM Sumber Daya dan dua awak kapal yang dilaporkan hilang.
Setelah hari ketujuh, Basarnas akan mengevaluasi pelaksanaan upaya pencarian untuk memutuskan apakah akan memperpanjang atau menghentikan operasi untuk menemukan KM Sumber Daya.
KM Sumber Daya dilaporkan hilang kontak setelah dihantam badai di wilayah perairan Pulau Berhala pada 10 Maret 2022 malam, dalam perjalanan dari Nipah Panjang di Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi, menuju ke Kota Batam di Provinsi Kepulauan Riau.
Menurut direktori Kementerian Kelautan dan Perikanan, Pulau Berhala berada di Selat Malaka dan secara administratif berada di wilayah Kabupaten Serdang Bedagai, Provinsi Sumatera Utara. (IMC02/ant)
Cuaca Kian Memburuk Dampak Kabut Asap, Siswa PAUD/TK hingga Kelas 2 SD Diliburkan
Bukan Cuma Pemadaman, Tata Air Gambut Harus Jadi Pertahanan Pertama Hadapi Karhutla
Ribuan Titik Panas Kepung Area Konsesi, Monopoli Air Dituding Akar Rusaknya Ekosistem Gambut
Puluhan Perusahaan Berpotensi Kena Sanksi Rp15 Triliun Terkait Karhutla
Angka Desil Dinilai Tak Sesuai Kondisi Masyarakat, BPS: Terus Dimutakhirkan