Big Universities, Small Skills? Ketika Kampus Makin Banyak, Lulusan Justru Makin Sulit Bekerja

Senin, 24 Agustus 2026 - 08:06:16 WIB

*) Oleh: Refky Fielnanda
*) Oleh: Refky Fielnanda

Ada sebuah keyakinan yang hampir tidak pernah kita pertanyakan: semakin banyak orang berkuliah, semakin baik masa depan tenaga kerja suatu negara.

Logikanya sederhana. Pendidikan tinggi meningkatkan pengetahuan dan keterampilan. Keterampilan meningkatkan produktivitas. Produktivitas meningkatkan peluang kerja dan pendapatan.

Karena itu, memperluas akses ke perguruan tinggi seharusnya menjadi investasi penting bagi pembangunan ekonomi.

Tetapi bagaimana jika bagian terakhir dari logika tersebut ternyata tidak selalu berjalan?

Sebuah penelitian lintas negara terhadap 28 negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) selama 2019–2023 menemukan pola yang cukup mengejutkan.

Semakin luas partisipasi pendidikan tinggi, justru semakin tinggi pula tingkat pengangguran di kalangan penduduk berpendidikan tinggi.

Temuan ini tentu tidak berarti bahwa kuliah menyebabkan seseorang menganggur. Penelitian tersebut menemukan hubungan statistik, bukan membuktikan hubungan sebab-akibat.

Namun, polanya cukup kuat untuk membuat kita bertanya kembali: apakah memperbanyak orang masuk perguruan tinggi otomatis berarti memperbaiki hasil mereka di pasar kerja? Jawabannya tampaknya tidak sesederhana itu.

Penelitian tersebut menggunakan Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan tinggi sebagai salah satu ukuran ekspansi pendidikan tinggi.

Secara sederhana, APK menggambarkan seberapa besar populasi yang mengikuti pendidikan tinggi dibandingkan dengan kelompok usia yang secara resmi berada pada jenjang tersebut.

Hasilnya cukup mencolok. Kenaikan APK pendidikan tinggi sebesar 10 poin persentase berkaitan dengan tingkat pengangguran lulusan yang sekitar 21 persen lebih tinggi.

Hubungan tersebut tetap terlihat ketika peneliti menggunakan beberapa pendekatan statistik yang berbeda dan memperkuat pengujian dengan wild cluster bootstrap.

Namun, justru bagian berikutnya yang membuat temuan ini semakin menarik.

Ketika mendengar bahwa banyak lulusan perguruan tinggi menganggur, kita biasanya segera menunjuk satu tersangka: pasar kerja.

“Lulusannya terlalu banyak, tetapi lapangan kerja tidak tersedia.”

“Industri belum cukup berkembang.”

“Perguruan tinggi menghasilkan sarjana yang tidak sesuai kebutuhan dunia usaha.”

“Pasar kerja kita belum mampu menyerap tenaga kerja berpendidikan tinggi.”

Semua penjelasan tersebut terdengar masuk akal. Bahkan selama bertahun-tahun, narasi skills mismatch dan keterbatasan daya serap pasar kerja menjadi salah satu cara utama untuk memahami pengangguran lulusan.

Tetapi penelitian ini menguji penjelasan tersebut. Hasilnya justru tidak memberikan dukungan.

Tingkat informalitas pasar kerja tidak terbukti mengubah hubungan antara ekspansi pendidikan tinggi dan pengangguran lulusan.

Kedalaman sektor manufaktur juga tidak menunjukkan peran moderasi yang signifikan. Demikian pula beberapa ukuran institusional dan kecepatan ekspansi pendidikan tinggi tidak menjelaskan pola tersebut.

Dengan kata lain, kita tidak cukup hanya mengatakan bahwa lulusan menganggur karena pasar kerja belum mampu menyerap mereka.

Ada sesuatu yang lebih kompleks.

Salah satu temuan penelitian justru mengarah pada kemungkinan yang sering luput dari perhatian: penarikan diri dari pasar kerja.

Ketika pengangguran lulusan meningkat, tingkat partisipasi angkatan kerja penduduk berpendidikan tinggi justru menurun secara signifikan.

Artinya, persoalan yang dihadapi lulusan mungkin bukan hanya “saya mencari pekerjaan tetapi belum mendapatkannya”. Sebagian orang yang berulang kali menghadapi sulitnya memperoleh pekerjaan dapat berhenti mencari pekerjaan sama sekali.

Secara statistik, orang tersebut bahkan bisa tidak lagi dihitung sebagai penganggur karena ia tidak lagi berada dalam angkatan kerja.

Di sinilah kita perlu berhati-hati membaca angka pengangguran. Bayangkan seorang sarjana yang telah berbulan-bulan mengirim lamaran pekerjaan tetapi tidak memperoleh hasil.

Setelah berkali-kali gagal, ia memutuskan berhenti mencari pekerjaan. Ia kemudian membantu usaha keluarga, mengurus rumah tangga, mengambil aktivitas informal, atau sekadar keluar dari pasar kerja. Apakah persoalannya selesai?

Tentu tidak.

Tetapi dalam statistik ketenagakerjaan, posisinya dapat berubah. Ia bukan lagi sekadar “penganggur yang sedang mencari pekerjaan”, melainkan seseorang yang berada di luar angkatan kerja.

Karena itu, angka pengangguran saja tidak cukup untuk menilai apakah pendidikan tinggi berhasil mengantarkan lulusannya menuju kehidupan ekonomi yang produktif.

Kita perlu melihat apa yang terjadi setelah seseorang memperoleh gelar.

Apakah ia bekerja?

Apakah pekerjaannya sesuai dengan kompetensinya?

Apakah pekerjaannya produktif?

Apakah ia tetap aktif mencari pekerjaan?

Apakah ia memilih keluar dari pasar kerja karena tidak melihat prospek yang menjanjikan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut jauh lebih penting daripada sekadar menghitung berapa banyak orang yang berhasil masuk universitas.

Inilah tantangan besar bagi kebijakan pendidikan tinggi di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

Selama ini, keberhasilan ekspansi pendidikan tinggi sering dibaca melalui angka partisipasi.

Semakin banyak anak muda masuk perguruan tinggi, semakin tinggi pula angka tersebut, lalu kita menyimpulkan bahwa pembangunan sumber daya manusia sedang berjalan.

Padahal, angka partisipasi adalah input, bukan hasil akhir. Kita tidak boleh berhenti pada pertanyaan “berapa banyak yang kuliah?”. Kita harus melanjutkannya dengan pertanyaan yang jauh lebih sulit: “Apa yang terjadi kepada mereka setelah lulus?”

Pendidikan tinggi tetap sangat penting.

Karena itu, temuan ini bukan argumen untuk mengurangi akses ke universitas. Justru sebaliknya. Temuan ini adalah peringatan agar ekspansi pendidikan tinggi tidak berhenti pada memperbanyak mahasiswa dan lulusan.

Universitas perlu semakin terhubung dengan perubahan struktur ekonomi. Dunia usaha perlu dilibatkan dalam pembentukan kompetensi.

Pemerintah perlu memperluas pekerjaan produktif, bukan sekadar pekerjaan apa pun. Dan ukuran keberhasilan perguruan tinggi perlu bergerak dari sekadar enrollment dan jumlah lulusan menuju outcome lulusan di pasar kerja.

Kita juga perlu berhenti terlalu cepat menyalahkan lulusan.

Ketika seorang sarjana menganggur, pertanyaan yang sering muncul adalah: “Apa yang salah dengan keterampilannya?”

Pertanyaan yang lebih adil adalah: “Apakah sistem ekonomi kita menyediakan cukup banyak kesempatan bagi keterampilan tersebut untuk digunakan?”

Namun penelitian lintas negara ini memberikan pelajaran lain: bahkan penjelasan tentang keterbatasan daya serap pasar kerja pun tidak sepenuhnya menjawab persoalan.

Mungkin masalahnya berada pada hubungan yang lebih kompleks antara pendidikan, struktur ekonomi, ekspektasi lulusan, kualitas pekerjaan, dan keputusan untuk tetap atau meninggalkan pasar kerja.

Menariknya, pola kenaikan pengangguran ini juga terlihat pada angkatan kerja secara umum, bukan hanya pada lulusan perguruan tinggi.

Bahkan, ketika dibandingkan, hubungan antara ekspansi pendidikan tinggi dan pengangguran justru sedikit lebih lemah pada kelompok lulusan dibandingkan pada angkatan kerja secara keseluruhan.

Artinya, ini kemungkinan bukan kegagalan pendidikan tinggi semata, melainkan bagian dari perubahan struktur pasar kerja yang lebih luas — semacam proses "formalisasi" pengangguran, di mana aktivitas yang dulunya tak tercatat (misalnya bekerja serabutan atau membantu usaha keluarga) semakin banyak digantikan oleh pencarian kerja formal yang tercatat secara statistik seiring negara berkembang.

Lulusan perguruan tinggi bukan pihak yang paling dirugikan dalam proses ini; mereka justru relatif sedikit lebih terlindungi dibanding rata-rata pekerja.

Pada akhirnya, kita tidak membutuhkan sekadar universitas yang semakin besar. Kita membutuhkan ekonomi yang semakin mampu memanfaatkan manusia yang telah kita didik.

Sebab ukuran keberhasilan pendidikan tinggi bukanlah berapa banyak gelar yang berhasil diberikan.

Ukuran yang lebih penting adalah:

setelah mendapatkan gelar, apakah seseorang mendapatkan kesempatan untuk menggunakan pengetahuannya secara produktif?

Jika jawabannya belum, maka persoalan kita bukan sekadar small skills.

Mungkin persoalannya adalah big education, but an economy that has not yet grown big enough to use it.

*) Penulis adalah Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi



BERITA BERIKUTNYA