IMCNews.ID, Sengeti - Sebanyak 392 titik panas terdeteksi di wilayah Kabupaten Muaro Jambi.
Kondisi itu meningkatkan ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di daerah tersebut.
Apalagi, menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), puncak musim kemarau pada Agustus hingga September 2026.
Muaro Jambi menjadi daerah dengan titik panas (hotspot) kedua terbanyak di Provinsi Jambi setelah Kabupaten Tanjung Jabung Barat.
Kepala Stasiun Koordinator BMKG Provinsi Jambi, Ibnu Sulistyono, mengingatkan bahwa hampir seluruh wilayah Jambi kini mulai merasakan dampak musim kemarau.
Kondisi tersebut membuat risiko kebakaran hutan dan lahan semakin tinggi jika tidak diantisipasi sejak dini.
“Bulan Agustus hingga September merupakan puncak musim kemarau di Provinsi Jambi. Hampir seluruh wilayah akan mengalami kondisi yang sama, sehingga masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan," ujar Ibnu.
Berdasarkan data BMKG, dari total 1.790 titik panas yang terpantau di seluruh Provinsi Jambi, sebanyak 392 titik berada di Kabupaten Muaro Jambi.
Angka itu menempatkan Muaro Jambi sebagai salah satu daerah paling rawan karhutla dan membutuhkan pengawasan lebih ketat.
BMKG menegaskan bahwa upaya pencegahan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah dan aparat, tetapi juga memerlukan peran aktif masyarakat.
Warga diminta tidak membuka lahan dengan cara membakar ataupun membakar sampah di area terbuka karena dapat memicu kebakaran yang meluas di tengah cuaca yang semakin kering. (*)
Al Haris Teken MoU Forum Sumatera Sepuluh, Perkuat Sinergi Pembangunan Antar Provinsi
BMKG Ungkap Potensi Hujan yang Kemungkinan Mengguyur Wilayah Jambi
Operasi Darat dan Udara Diperkuat Tangani Karhutla di Batang Hari Agar Tak Meluas
Gentala Arasi Fest 2026 Jangkau 8.000 Pengunjung, Transaksi QRIS Capai Ratusan Juta
Perkuat Tata Kelola Informasi, KI Jambi Edukasi PPID se-Kabupaten Batang Hari