IMCNews.ID, Jambi – Pengamat ekonomi, Dr. Noviardi Ferzi, menilai target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 6 persen pada 2026 masih realistis.
Namun dengan catatan penting harus ditopang oleh kebijakan yang jauh lebih konkret, konsisten, dan terukur.
Menurut Noviardi, optimisme yang disampaikan Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa memiliki dasar yang cukup kuat.
Pertumbuhan ekonomi kuartal IV-2025 yang mencapai sekitar 5,39 persen yoy menunjukkan adanya sinyal pemulihan yang mulai solid.
Bahkan, proyeksi kuartal I-2026 di kisaran 5,5 hingga 6 persen dinilai realistis jika konsumsi rumah tangga tetap terjaga, terutama pada momentum besar seperti Imlek dan Idul Fitri.
“Secara fundamental, kita memang melihat ada perbaikan. Konsumsi menguat, manufaktur ekspansif, dan eksternal relatif stabil. Ini modal penting,” ujar Noviardi, Kamis (26/3).
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa modal tersebut belum cukup untuk mendorong lompatan pertumbuhan secara signifikan tanpa dorongan kebijakan yang lebih agresif.
Ia menilai percepatan belanja negara, termasuk program-program seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) memang bisa memberikan efek jangka pendek terhadap konsumsi, tetapi dampaknya terhadap pertumbuhan struktural masih terbatas.
“Belanja pemerintah itu penting sebagai pemantik, tapi tidak bisa jadi mesin utama secara terus-menerus. Yang lebih krusial adalah bagaimana investasi benar-benar tumbuh dan produktivitas meningkat,” tegasnya.
Dia juga menyoroti pentingnya menjaga likuiditas perbankan agar penyaluran kredit ke sektor riil tetap lancar.
Menurutnya, tanpa transmisi pembiayaan yang kuat, dunia usaha akan sulit melakukan ekspansi, sehingga target investasi tumbuh 6 persen berpotensi tidak tercapai secara optimal.
Di sisi lain, ia mengakui bahwa indikator makro saat ini memang memberikan ruang optimisme.
PMI manufaktur yang berada di level ekspansif, surplus neraca perdagangan yang panjang, serta cadangan devisa yang kuat menjadi bantalan penting bagi stabilitas ekonomi nasional.
“Masalahnya bukan sekadar angka 6 persen, tapi apakah mesin ekonominya sudah cukup bertenaga. Kalau hanya mengandalkan konsumsi dan belanja negara, itu tidak cukup. Harus ada dorongan investasi yang riil, reformasi struktural, dan kepastian usaha,” jelasnya.
Ia menilai, tanpa perbaikan serius pada iklim investasi dan penyelesaian hambatan struktural (debottlenecking), target pertumbuhan 6 persen berisiko menjadi sekadar ambisi, bukan capaian nyata.
Dia menegaskan bahwa target 6 persen seharusnya dijadikan sebagai target kerja yang memacu kualitas kebijakan, bukan sekadar angka optimistis.
“Kalau ingin 6 persen, maka kebijakannya juga harus kelas 6 persen. Artinya berani, konsisten, dan menyentuh sektor produktif secara langsung,” pungkasnya. (*)
Hadiri Rapat Paripurna DPRD, Gubernur Dukung Penguatan Ranperda Inisiatif Dewan
Wakil Ketua DPRD Provinsi Ivan Wirata Soroti Ketahanan Pangan Jambi
Pencari Kerja Gigit Jari! Pemprov Jambi Tunda Penerimaan CPNS
Kabel Transmisi Putus di Mestong Jambi Penyebab Blackout Listrik Sumatera
Makna Berkurban Idul Adha di Tengah Kesenjangan Sosial di Jambi
KABAR DUKA! Seorang Jamaah Haji Asal Jambi Meninggal Dunia di Makkah
Antisipasi Lonjakan Kebutuhan, Pertamina Tambah Gas 3 Kg Hingga 23 Juta Tabung