PSI Dalam Genetika Pemikiran Tan Malaka

Rabu, 07 Januari 2026 - 18:20:02 WIB

*) Oleh : Bram Aprianto
*) Oleh : Bram Aprianto

 

Partai Solidaritas Indonesia (PSI) lahir bukan dari rahim politik lama yang sarat patronase, melainkan dari kegelisahan generasi baru terhadap praktik kekuasaan yang feodal, koruptif, dan miskin gagasan.

Dalam konteks ini, PSI tidak sekadar hadir sebagai kendaraan elektoral, tetapi sebagai upaya merawat politik rasional—politik yang menjadikan akal sehat, transparansi, dan keberpihakan pada warga sebagai fondasi. Pada titik inilah, genetik pemikiran Tan Malaka menemukan resonansinya.

Tan Malaka adalah tokoh yang menempatkan kemerdekaan berpikir sebagai syarat utama kemerdekaan bangsa. Melalui Madilog, ia menolak cara berpikir dogmatis, mistik, dan feodal yang menghambat kemajuan masyarakat.

Politik, bagi Tan Malaka, harus dibangun di atas rasionalitas dan kesadaran kritis rakyat, bukan kultus individu atau kepatuhan buta pada elite.

Spirit inilah yang tercermin dalam DNA PSI: penolakan terhadap feodalisme politik, dinasti kekuasaan, dan praktik oligarkis yang menjauhkan rakyat dari proses pengambilan keputusan.

PSI, sebagaimana Tan Malaka, memandang rakyat sebagai subjek politik. Bukan objek mobilisasi musiman, melainkan warga negara yang berhak atas informasi, partisipasi, dan kebijakan publik yang adil.

Jika Tan Malaka berjuang membangkitkan kesadaran massa dalam situasi kolonial, maka PSI berupaya menerjemahkan kesadaran itu dalam ruang demokrasi modern—melalui advokasi kebijakan, kontrol kekuasaan, dan keberanian menyuarakan kebenaran di tengah kompromi politik yang kerap menumpulkan nurani.

Kesamaan lain terletak pada keberanian melawan arus. Tan Malaka sering berada di luar arus utama pergerakan, bahkan berseberangan dengan tokoh-tokoh besar sezamannya, demi menjaga konsistensi ide.

PSI pun menempuh jalan serupa dalam lanskap politik kontemporer: mengambil posisi kritis terhadap politik uang, intoleransi, dan oligarki, meski sadar langkah itu tidak selalu menguntungkan secara elektoral.

Dalam logika ini, politik bukan semata soal menang cepat, melainkan soal membangun fondasi etis jangka panjang.

Namun, penting dicatat bahwa PSI bukanlah kelanjutan ideologis kiri revolusioner ala Tan Malaka. Perbedaannya justru menegaskan konteks zaman. Tan Malaka bergerak dalam era kolonial dan revolusi fisik, sementara PSI beroperasi dalam negara merdeka dengan mekanisme demokrasi konstitusional.

Yang diwarisi bukan bentuk perjuangannya, melainkan etosnya: rasionalitas, keberanian berpikir merdeka, dan penolakan terhadap struktur kekuasaan yang menindas akal sehat.

Dalam narasi ini, Tan Malaka hadir bukan sebagai simbol historis, tetapi sebagai spirit intelektual. PSI menjadi wadah kontemporer bagi politik gagasan yang berupaya membebaskan Indonesia dari kolonialisme baru—korupsi, oligarki, dan kemiskinan nalar.

Jika Tan Malaka dahulu berjuang agar bangsa ini berani berpikir merdeka, maka tugas PSI hari ini adalah memastikan kemerdekaan berpikir itu diwujudkan dalam tata kelola negara yang bersih, adil, dan rasional.

Di sanalah keduanya bertemu: bukan pada label ideologi, melainkan pada keyakinan bahwa masa depan Indonesia hanya bisa dibangun oleh politik yang menghormati akal sehat dan menempatkan rakyat sebagai pusat kekuasaan. (*)

*) Penulis adalah simpatisan PSI



BERITA BERIKUTNYA