Filosofi Catenaccio Jokowi Dalam Politik PSI untuk Menang

Jumat, 02 Januari 2026 - 14:10:06 WIB

*) Oleh : Bram Aprianto
*) Oleh : Bram Aprianto

Catenaccio dalam khazanah sepak bola bukan sekadar taktik bertahan, melainkan sebuah filosofi. Ia menekankan disiplin, kesabaran, penguasaan ruang, dan kemampuan menahan gempuran tanpa kehilangan tujuan utama, menang.

Bertahan dalam catenaccio bukan tanda ketakutan, tetapi strategi sadar untuk menguras energi lawan, mematikan ritme serangan, dan menunggu momentum yang paling tepat untuk menyerang balik.

Dalam politik, terutama politik kekuasaan modern yang penuh serangan personal, hoaks, dan delegitimasi, catenaccio menemukan relevansinya.

Gaya inilah yang, secara sadar atau tidak, dipraktikkan oleh Joko Widodo sepanjang dua periode pemerintahannya, terutama pada fase akhir kekuasaan.

Serangan terhadap Jokowi tidak lagi berhenti pada kebijakan atau kinerja pemerintahan, tetapi merambah ke wilayah paling personal: keluarga, asal-usul sosial, hingga tuduhan absurd seperti ijazah palsu.

Dalam kondisi seperti ini, pilihan politik tidak lagi hitam-putih antara melawan atau diam, tetapi soal bagaimana bertahan tanpa terjebak dalam permainan lawan.

Alih-alih melakukan serangan balik terbuka, membalas tuduhan satu per satu, atau menggunakan instrumen kekuasaan untuk membungkam, Jokowi memilih jalan catenaccio.

Ia menahan diri, meminimalkan respons emosional, dan membiarkan serangan itu mengalir hingga mencapai titik jenuh publik. Ini adalah pertahanan rendah (low block defense), rapat, tenang, dan disiplin.

Jokowi memahami bahwa setiap respons berlebihan justru akan memperbesar panggung bagi lawan dan mengalihkan fokus dari tujuan utama transisi kekuasaan.

Alasan strategis paling penting dari pilihan catenaccio ini adalah memberi ruang kepada Prabowo Subianto. Jokowi sadar, sebagai presiden dua periode, dirinya adalah center of gravity politik nasional.

Jika ia terus tampil dominan dan reaktif, bayangannya akan menutupi kandidat yang ia dukung. Dengan menahan diri, Jokowi secara perlahan menggeser sorotan publik, membiarkan Prabowo menjadi aktor utama, sekaligus menyerap sebagian besar energi serangan politik yang seharusnya ditujukan ke penerusnya.

Dalam logika catenaccio, bek tidak boleh sering naik menyerang, karena tugas utamanya adalah menjaga struktur. Jokowi memainkan peran itu, menjaga stabilitas, memastikan transisi kekuasaan berjalan, dan membiarkan dinamika elektoral bergerak dengan sendirinya.

Serangan soal ijazah palsu, misalnya, tidak dilawan dengan retorika panjang, tetapi dengan ketenangan institusional. Diam dalam konteks ini bukan kelemahan, melainkan pesan bahwa isu tersebut tidak layak naik kelas sebagai diskursus kenegaraan.

Buah dari filosofi ini tidak hanya terlihat pada kemenangan Prabowo secara elektoral, tetapi juga pada efek turunan yang lebih halus.

Salah satunya adalah capaian Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang menembus sekitar 4,7 persen suara nasional. Angka ini mungkin tidak spektakuler bagi partai besar, tetapi sangat signifikan bagi partai muda yang selama ini diasosiasikan sebagai political proxy Jokowi.

Tanpa Jokowi tampil frontal, PSI justru memperoleh legitimasi elektoral sebagai entitas politik yang berdiri di atas rasionalitas pemilih, bukan semata efek kekuasaan.

Di sinilah catenaccio politik Jokowi menunjukkan keunggulannya. Ia tidak memaksakan kemenangan besar di semua lini, tetapi memastikan tidak kalah di garis pertahanan.

Ia tidak mematikan lawan, tetapi membiarkan mereka kelelahan oleh serangan sendiri. Dalam sepak bola, kemenangan 1–0 dengan pertahanan sempurna adalah seni. Dalam politik, bertahan tanpa kehilangan legitimasi adalah kecanggihan.

Pada akhirnya, filosofi catenaccio Jokowi mengajarkan bahwa dalam politik demokrasi yang riuh, bertahan bisa lebih revolusioner daripada menyerang.

Ketika semua orang berteriak, diam yang terukur justru menjadi pernyataan paling keras. Dan ketika serangan datang bertubi-tubi, kemenangan sejati bukanlah membalas, melainkan tetap berdiri hingga peluit akhir berbunyi. (*)

*) Penulis adalah relawan PSI



BERITA BERIKUTNYA