Di tengah politik Indonesia yang sering dikuasai oleh polarisasi, fanatisme kelompok, dan perebutan kuasa yang tak jarang membajak etika publik, hadirnya Partai Solidaritas Indonesia (PSI) menawarkan napas segar dalam lanskap demokrasi yang sesak oleh narasi identitas dan politik transaksional.
PSI tidak dibangun di atas politik darah, kekerabatan, atau narasi sektarian. PSI lahir dari kesadaran kolektif generasi baru yang menolak dikotomi agama, ras, dan asal-usul sebagai dasar perebutan kekuasaan.
Partai ini menolak logika lama yang membagi bangsa ke dalam kotak-kotak sempit dan justru mengedepankan satu nilai utama: solidaritas lintas identitas, lintas kelas, dan lintas wilayah.
Politik Solidaritas sebagai Jawaban atas Kegagalan Politik Identitas
Sejarah politik Indonesia menunjukkan bagaimana kekuasaan kerap dikelola dengan pendekatan eksklusif—baik berbasis suku, agama, maupun daerah.
Dalam literatur politik, ini disebut sebagai politik primordial, yaitu orientasi politik yang berbasis pada loyalitas etnis, agama, atau ikatan genealogis (Geertz, 1973). Politik semacam ini sering kali mengabaikan kepentingan umum dan mempersempit ruang rasionalitas publik.
PSI tampil sebagai koreksi atas kegagalan itu. Dengan moto “Politik Tanpa Korupsi, Tanpa Intoleransi”, PSI menolak menjadikan identitas sebagai alat transaksi politik. Solidaritas yang diusung PSI bukan sekadar slogan, melainkan ideologi progresif yang menempatkan persamaan hak, keadilan sosial, dan meritokrasi sebagai fondasi perjuangan.
Politik Anak Muda: Rasional, Inklusif, dan Berani Melawan Arus
Sebagai partai yang mayoritas diisi oleh anak muda, PSI mewakili wajah politik yang berani, rasional, dan bersih. Dalam konteks akademik, ini bisa dikaitkan dengan munculnya gelombang “post-materialist politics” (Inglehart, 1997), di mana generasi baru lebih peduli pada isu-isu nilai seperti hak asasi manusia, lingkungan, kesetaraan gender, dan transparansi pemerintahan, dibanding politik lama yang hanya mengejar kekuasaan dan kekayaan.
PSI membawa harapan bahwa politik bisa dikelola secara modern dan etis. Kita tidak lagi melihat wajah-wajah lama dengan rekam jejak korupsi, tapi sosok-sosok baru yang mengedepankan integritas, argumentasi, dan keberanian untuk melawan status quo.
Menolak Politik Transaksional, Menolak Oligarki
Dalam pemilu-pemilu sebelumnya, banyak partai tersandera oleh oligarki ekonomi dan elite lama. PSI menolak tunduk pada kekuatan uang. PSI adalah partai yang tumbuh dari gerakan, bukan dari perintah sponsor. Ini menandakan bahwa PSI tidak akan melacurkan kebijakannya demi kepentingan investor politik yang merusak arah demokrasi.
Sebagaimana dicatat Winters (2011) dalam kajiannya soal oligarki di Indonesia, demokrasi kita telah terlalu lama dikooptasi oleh segelintir elite yang mengendalikan politik dengan modal. PSI memilih jalan sebaliknya: membangun kekuatan politik dari bawah, dari simpatisan dan kader yang militan, bukan dari pemodal yang ingin mengatur dari balik layar.
PSI di Daerah: Energi Baru untuk Politik Lokal
Sebagai simpatisan PSI di daerah, saya melihat sendiri bagaimana kader-kader PSI di Jambi mulai membangun narasi baru dalam politik lokal. Mereka hadir tanpa uang sogokan, tanpa janji palsu, tapi dengan gagasan yang rasional dan semangat kerelawanan.
Kehadiran PSI di daerah seperti Jambi menjadi penting karena politik lokal sering kali lebih kotor, lebih primordial, dan lebih pragmatis. PSI datang sebagai “gangguan baik” dalam sistem yang terlalu lama nyaman dalam kebusukan.
Mengapa Publik Harus Masuk PSI?
Masuk PSI bukan berarti ikut partai politik biasa. Masuk PSI adalah ikhtiar kolektif untuk memperbaiki demokrasi dari dalam. PSI adalah partai yang membuka ruang bagi siapa saja yang ingin berjuang, tanpa peduli apa sukunya, agamanya, siapa orang tuanya, atau dari mana dia berasal.
Ini adalah gerakan politik berbasis nilai, bukan silsilah. Sebuah rumah bagi mereka yang ingin menjadikan politik sebagai alat perubahan, bukan alat pemeliharaan status quo.
Dalam konteks pemilu 2029 yang tidak lagi memberlakukan ambang batas parlemen, ruang bagi partai alternatif seperti PSI terbuka lebar. Dengan militansi kader dan simpatisan yang terus bertumbuh, dan legitimasi moral yang kuat sebagai partai bersih dan progresif, PSI berpeluang merebut hati rakyat—bukan dengan janji kosong, tapi dengan konsistensi perjuangan.
PSI Adalah Masa Depan, Bukan Sekadar Alternatif
PSI bukan hanya berbeda—PSI berani menjadi benar ketika yang lain nyaman dalam kebusukan. Ini bukan partai yang sempurna, tapi ini adalah partai yang memulai perjuangan dengan benar. Dan itu lebih penting dari segala hal lainnya.
Jika Anda jengah dengan politik yang itu-itu saja, jika Anda ingin melihat Indonesia yang lebih adil, lebih toleran, dan lebih masuk akal, maka PSI adalah tempat Anda berdiri.
Karena solidaritas bukan sekadar kata—ia adalah cara kita menyelamatkan republik ini dari kerusakan yang diproduksi politik lama. (*)
*) Penulis adalah pemerhati politik Jambi
Kejati Jambi Sembelih 14 Ekor Sapi dan Bagikan Daging Kurban ke Masyarakat
Kejari Terima Pelimpahan Kasus Rudapaksa Oknum Anggota Polda Jambi
Gubernur Al Haris Serahkan Sapi Kurban Presiden Prabowo Seberat 930 Kilogram di Jambi
Hadiri Rapat Paripurna DPRD, Gubernur Dukung Penguatan Ranperda Inisiatif Dewan
Wakil Ketua DPRD Provinsi Ivan Wirata Soroti Ketahanan Pangan Jambi
Pencari Kerja Gigit Jari! Pemprov Jambi Tunda Penerimaan CPNS
PSI 2029: Jokowi, Militansi Politik Baru dan Perlawanan Terhadap Oligarki Lama