IMCNews.ID, Jambi - Di tengah dinamika perekonomian yang terus berubah, isu pengangguran kembali menjadi sorotan, tidak hanya sebagai persoalan sosial, tetapi juga sebagai bagian dari mekanisme sistem ekonomi itu sendiri.
Dalam konteks ini, pengamat ekonomi Noviardi Ferzi menilai bahwa pengangguran memiliki peran yang lebih kompleks dalam kapitalisme, bukan sekadar dampak dari keterbatasan lapangan kerja, melainkan juga elemen yang ikut membentuk keseimbangan pasar tenaga kerja dan stabilitas ekonomi secara keseluruhan.
Pengangguran selama ini kerap dipandang sebagai indikator kegagalan ekonomi. Namun, Noviardi menilai bahwa dalam sistem kapitalisme, pengangguran justru memiliki peran penting yang bersifat struktural dan tidak bisa dilepaskan dari mekanisme pasar tenaga kerja.
Ia menjelaskan bahwa secara teoritis, kapitalisme memang “membutuhkan” tingkat pengangguran tertentu untuk menjaga fleksibilitas ekonomi.
Hal ini merujuk pada konsep dalam Ekonomi Politik yang dikemukakan oleh Karl Marx mengenai cadangan tenaga kerja (reserve army of labour).
“Dalam perspektif itu, pengangguran bukan sekadar masalah sosial, tetapi juga instrumen ekonomi. Ia menjadi penyangga ketika terjadi fluktuasi permintaan tenaga kerja, sekaligus menjaga efisiensi produksi,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menilai keberadaan pengangguran turut memengaruhi dinamika upah di pasar tenaga kerja. Ketika jumlah pencari kerja lebih besar dibandingkan lapangan kerja, posisi tawar pekerja menjadi lemah.
Kondisi ini, menurutnya, secara tidak langsung menguntungkan pelaku usaha karena dapat menekan biaya produksi.
Hal tersebut sejalan dengan pendekatan Ekonomi Neoklasik yang melihat pasar tenaga kerja sebagai mekanisme keseimbangan antara penawaran dan permintaan.
Dalam kondisi surplus tenaga kerja, upah cenderung stagnan dan menjadi bagian dari logika efisiensi dalam sistem kapitalisme.
Namun demikian, Noviardi mengingatkan bahwa pengangguran tidak boleh dibiarkan terlalu tinggi. Ia mengacu pada pandangan John Maynard Keynes dalam kerangka Makroekonomi yang menekankan pentingnya menjaga daya beli masyarakat.
“Jika pengangguran terlalu besar, konsumsi akan turun, permintaan melemah, dan ekonomi bisa masuk ke fase kontraksi. Di sinilah peran negara menjadi penting untuk mengintervensi melalui kebijakan fiskal dan penciptaan lapangan kerja,” katanya.
Menurut Noviardi, tantangan terbesar saat ini adalah meningkatnya pengangguran struktural akibat perubahan teknologi dan pergeseran sektor ekonomi.
Oleh karena itu, ia mendorong pemerintah daerah dan pusat untuk lebih fokus pada peningkatan kualitas sumber daya manusia, pelatihan kerja, serta penguatan sektor industri yang mampu menyerap tenaga kerja secara luas.
“Pengangguran dalam batas tertentu memang bagian dari sistem, tetapi jika tidak dikelola dengan baik, ia bisa berubah menjadi sumber ketimpangan dan instabilitas sosial,” tutupnya. (*)