Transformasi Digital Terus Melaju, Tapi Keamanan Siber Masih Tertinggal

Jumat, 20 Juni 2025 - 14:15:50 WIB

IMCNews.ID, Jakarta - Di tengah percepatan transformasi digital, masih banyak perusahaan di Indonesia yang belum memiliki sistem keamanan siber yang memadai.

Kondisi ini membuatnya semakin rentan terhadap berbagai ancaman digital seperti peretasan, kebocoran data, hingga serangan ransomware.

“Banyak perusahaan belum menyadari bahwa mereka sebenarnya sudah menjadi target, bahkan sejak awal mereka terhubung ke internet,” ujar Edward, Direktur PT. Nusa Network Prakarsa, perusahaan penyedia solusi keamanan jaringan dan infrastruktur IT berbasis di Jakarta.

Edward menjelaskan bahwa kelemahan terbesar justru bukan pada teknologinya, melainkan pada minimnya kesadaran dan literasi keamanan digital di internal perusahaan.

“Kebocoran data sering kali disebabkan oleh hal-hal sepele, seperti penggunaan password yang mudah ditebak atau klik tautan phishing oleh karyawan,” tambahnya.

Menurut Edward, banyak pelaku usaha masih melihat keamanan siber sebagai biaya tambahan, bukan sebagai perlindungan strategis bagi kelangsungan bisnis.

Padahal, satu insiden peretasan saja bisa menyebabkan kerugian besar, baik secara finansial maupun reputasi.

Kesadaran ini harus mulai dibangun dari level pimpinan, bukan hanya diserahkan ke tim IT semata.

“Selain karena alasan biaya, banyak perusahaan juga enggan berinvestasi pada keamanan siber karena merasa sistem IT mereka sudah cukup aman atau belum pernah mengalami insiden serius. Pola pikir ‘selama ini tidak ada masalah’ masih sering dijumpai, sehingga pengamanan digital dianggap bukan prioritas. Padahal, tanpa regulasi yang tegas soal standar keamanan, banyak pelaku usaha cenderung menunda hingga terjadi insiden yang merugikan,” ujar Edward.

Edward juga mengatakan, transformasi digital dan keamanan siber sejatinya merupakan dua hal yang harus berjalan beriringan dan berkelanjutan.

Namun dalam praktiknya, masih banyak perusahaan yang beranggapan bahwa penerapan satu jenis sistem keamanan saja sudah cukup untuk melindungi seluruh infrastruktur digital mereka.

Padahal, ancaman siber terus berkembang dari waktu ke waktu, sehingga pendekatan keamanan pun harus selalu diperbarui dan disesuaikan dengan dinamika risiko yang ada. (*)



BERITA BERIKUTNYA