Sempat 28 Hari Dirawat, Harimau Jantan yang Terkena Jerat Akhirnya Mati

Rabu, 11 Juni 2025 - 08:59:20 WIB

IMCNews.ID, Jambi - Harimau Sumatera (panthera tigris Sumatrae) jantan yang terluka di bagian kaki akibat terkena jerat akhirnya mati.

Sebelumnya Harimau malang itu sempat menjalani perawatan selama 28 hari oleh Tempat Penyelamatan Satwa (TPS) Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jambi

“Harimau itu sempat menjalani perawatan namun akhirnya mati pada Senin 9 Juni2025 sekitar pukul 21.45 WIB,” sebut Kepala BKSDA Jambi Agung Nugroho, Selasa (10/6/2025) kemarin.

Menurut dia, sebelum mati harimau itu mulai menunjukkan gejala tidak ada nafsu makan, muntah-muntah defekasi atau BAB disertai dengan darah.

Matinya harimau Sumatera itu pada berawal pada 28 Mei lalu, saat kondisi cast pelindung luka yang dipasang saat operasi lanjutan pada 26 Mei 2025 sudah terlepas sendiri.

Sebenarnya pada 2 Juni lalu, kondisi harimau pasca operasi sudah mengalami perkembangan yang baik dengan ditandai adanya nafsu makan yang meningkat.

Selain itu, harimau itu juga masih terlihat responsif setiap kali ada pergerakan yang mendekatinya.

Namun pada 4 Juni kondisi luka kaki harimau sedikit berair sebagai akibat peradangan. Kondisi itu menyebabkan beberapa jaringan mengalami nekrosa.

Selain itu juga ada penambahan luka di bagian medial kaki belakang sebelah kanan, akan tetapi nafsu makannya masih baik. Lalu BAB dan urinasi HS masih responsif.

Tapi pergerakan kaki depan harimau terlihat pincang yang disebabkan oleh luka yang masih mengalami peradangan.

Kemudian pada 8 Juni, kondisi lukanya masih berair dan masih terjadi peradangan. Untuk luka dibagian medial kaki belakang sebelah kanan sudah ada progres sedikit membaik dan masih responsif.

Pada 9 Juni, kondisi harimau sudah tidak mau makan. Pagi hari dia muntah, ada defekasi/BAB yang disertai dengan darah dan tubuhnya terlihat sempoyongan/oleng (inkoordinasi).

Selain itu dia lebih sering berendam dalam kolam bak air. Lalu tim melakukan pemberian obat melalui injeksi, namun respon harimau tidak juga membaik dan semakin melemah.

“Jadi sekira pukul 21.45 WIB kondisi harimau sudah tidak tertolong atau mati sebelum dilakukan tindakan medis lanjutan,” kata Agung Nugroho.

Tim medis TPS BKSDA Jambi sementara menduga penyebab kematian harimau karena virus panlekopenia yang ditandai dengan muntah dan diare berdarah (rapid test).

Selanjutnya tim melakukan nekropsi pada harimau untuk pengambilan sampel untuk melakukan diagnosis.

Pada saat nekropsi dilakukan tim menemukan beberapa kelainan pada organ bangkai harimau seperti terjadinya peradangan pada lambung. Ditemukan cacing pada lambung serta bagian intestine/usus juga mengalami peradangan hebat.

"Sampel hasil dari nekropsi akan dikirim ke Laboratorium PSSP Bogor, setelah nekropsi, bangkai harimau Sumatera itu sementara diamankan dan menunggu petunjuk Tim Tipidter Polda Jambi," jelas Agung.

Sementara itu dokter BKSDA Jambi Zulmanudin menjelaskan, kematian harimau Sumatera itu disebabkan oleh virus feline panleukopenia sering dijumpai jenis kucing. Apalagi saat dievakuasi harimau itu dalam kondisi tidak sehat.

"Penularan virus tersebut dimungkinkan akibat kontak langsung dan faktor lingkungan," katanya.

Sebelumnya harimau malang itu terperangkap jerat di dalam kawasan Hutan Tanaman Rakyat (HTR) Bungo Pandan, Desa Suo-Suo, Kecamatan Masumai, Kabupaten Tebo, Provinsi Jambi pertengahan Mei lalu.

Kaki kiri bagian depan mengalami luka jerat cukup parah sehingga harus menjalani perawatan di TPS BKSDA Jambi. (*)



BERITA BERIKUTNYA