IMCNews.ID, Jakarta - Pemerintah menyatakan 193,6 juta pemudik akan melakukan mobilisasi selama liburan Ramadhan dan Lebaran. Dari data tersebut 27,4 jutanya adalah pemudik Jabodetabek.
"Memang yang jadi tantangan kita dari tahun ke tahun, adalah bagaimana kecepatan kita memindahkan orang, terutama yang bergerak dalam satu waktu tertentu, sehingga perlu di atur dan antisipasi. Terutama pada momen mudik, baik mulai H-7 sampai H+7 Lebaran. Yang kita tahu beban di jalan bisa tiba tiba sangat meningkat, terutama jelang hari H Lebaran," kata Jasra Putra, Wakil Ketua KPAI pusat.
Namun situasi perjalanan mudik kali ini, juga diharapkan memperhatikan peringatan cuaca dari BMKG. Seperti diketahui dampak perubahan cuaca ekstrim, panas ekstrim, hujan dengan intesitas tinggi akan mempengaruhi pola perjalanan para pemudik.
Untuk itu pemerintah sedang giat melalukan rampcheck fasilitas transportasi, mengatur perjalanan dan pembatasan, agar dapat di antisipasi hal hal yang tidak diinginkan, karena berbagai kondisi cuaca, perubahan iklim, kondisi jalan, penerangan, rest area dan fasilitas pendukung lainnya.
KPAI mengingatkan agar rampcheck tidak hanya fokus di alat transportasi, namun juga sarana prasarana lainnya, seperti antrian penumpang yang akan melibatkan anak, perempuan dan disabilitas.
"Kemudian ruang laktasi; ruang sanitasi; ruang kesehatan yang mudah di akses; ruang ibadah yang mudah di akses; ketersediaan makanan dan minuman yang memenuhi standar gizi dan sehat, karena kita perlu cek seperti tanggal kadaluarsa dan kemasan, agar tidak mengurangi kesehatan; keamanan tempat wisata; fasilitas di tempat tujuan pemudik baik jalan; jembatan, sarana rest area; yang sewaktu waktu menjadi alternatif, akibat kondisi beban dijalan dan kelelahan para pemudik yang sewaktu waktu dapat terjadi," ungkapnya.
Untuk itu, kata dia, membutuhkan peran aktif semua stakeholder dalam rangka menyukseskan pergerakan ratusan juta orang dalam momen lebaran. Kerjasama dan koordinasi lintas Kementerian, Lembaga, pemerintah daerah dan masyarakat jadi kunci suksesnya mudik tahun 2024.
Keramahan fasilitas bagi anak, perempuan dan lansia menjadi prioritas jelang persiapan mudik. Agar situasi mudik yang cenderung padat dapat di antisipasi.
"Saya kira ini mudik, yang tidak hanya mudik, tapi menyediakan akses mudik pulang dan pergi. Karena mereka memperhatikan aspek keselamatan, adanya asessment tiap pemudik, pemyediaan alat transportasi akses, pendampingan peksos, memikirkan point to point baik berangkat maupun arus balik, serta menerapkan konsesi dalam layanannya," katanya.
Catur Sigit Nugroho Ketua Tim Inklusi Kemenhub yang juga koordinator MRAD 2024 menyampaikan, pelaksanaan mudik kali ini mencoba mengimplementasikan regulasi terkait isu akses dan layanan disabilitas di transportasi, khususnya untuk penumpang dan keluarganya yang membutuhkan layanan khusus.
"Kita berharap interaksi disabilitas dan masyarakat transportasi semakin membangun transportasi yang berkelanjutan di Indonesia. Agar pengguna semakin nyaman, karena dari standar melayani disabilitas, kita tahu dampaknya akan berlaku untuk semua, tegas Catur yang juga paraplegia pengguna kursi roda.
Ilma Sovri Yanti pencetus program MRAD menyampaikan, MRAD dimulai dari MRA atau Mudik Ramah Anak sejak tahun 2009. Hasil praktek bersama fasilitas publik ini dilaporkan kepada pemerintah dan DPR.
Pelaksanaannya dari tahun ke tahun, dengan melibatkan berbagai pihak, telah banyak mengubah perspektif layanan dan pembangunan fasilitas publik yang ramah anak dan akses untuk disabilitas. (*)
Gubernur Al Haris: Pengusaha dan Pekerja, Satu Kesatuan yang Tak Bisa Dipisahkan
Serahkan SK Pengurus Baru, CE Targetkan Golkar Tanjabbar Tambah Perolehan Kursi Legislatif
Pengurus DPW dan DPD PAN se Provinsi Jambi Dilantik, Al Haris Nyatakan Komitmen Jalankan Amanah
Jamaah Dilindungi Asuransi Jika Sakit Akibat Panas Ekstrem Saat Puncak Haji
Geram Jaringan Telkom Hambat Perbaikan Jalan, Ivan Wirata Beri Tenggat Tiga Hari
Tips Atasi Radiator Bocor Dalam Keadaan Darurat Saat di Perjalanan