Tanggapi Kritikan Anies Soal Pembangunan IKN, Jokowi: Kita Ingin Indonesia-sentris

Kamis, 30 November 2023 - 12:47:21 WIB

Presiden Jokowi.
Presiden Jokowi.

IMCNews.ID, Jakarta - Ketimpangan pertumbuhan ekonomi Indonesia diungkap oleh Presiden Joko Widodo. Menurut dia, faktanya adalah 58 persen pendapatan domestik bruto (PDP) perekonomian Indonesia kini berada di Pulau Jawa.

"58 persen dari 17 ribu pulau yang kita miliki, 58 persen itu ada di Pulau Jawa, sehingga kita ingin Indonesia-sentris," sebutnya, Rabu (29/11/2023) kemarin.

Hal itu yang menjadi alasan megaproyek pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) diinisiasi Pemerintah.

"Kita itu tidak ingin Jawa-sentris, kita ingin Indonesia-sentris," katanya.

Hal itu disampaikan Jokowi untuk menanggapi kritik yang disampaikan calon presiden nomor urut 1 Anies Baswedan terkait pembangunan IKN.

Sebelumnya, dalam dialog terbuka Muhammadiyah di UMS Surakarta, Jawa Tengah, Rabu (22/11/2023), Anies menilai pembangunan IKN justru akan menciptakan kota baru yang timpang dengan daerah-daerah di sekitarnya.

Secara umum, Jokowi mengaku tak mempersoalkan kritikan itu. Namun dia menegaskan tujuan dari pembangunan IKN. 

Kata dia, pembangunan IKN sudah diatur dalam Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2022 tentang Ibu Kota Negara.

"Ya, itu kan pendapat, boleh menyampaikan opini, silakan. Tetapi IKN sudah ada undang-undangnya," tegasnya.

Dia optimistis IKN yang berada di tengah kepulauan Indonesia akan memberi sumbangsih positif pada pemerataan pertumbuhan ekonomi nasional.

"Ada di pulau lain juga pertumbuhan ekonomi. Di pulau lain selain Jawa juga ada titik-titik pertumbuhan ekonomi baru. Yang kami harapkan itu," imbuhnya.

Selain ketimpangan ekonomi, Jokowi mengingatkan bahwa populasi Indonesia masih terpusat di Pulau Jawa.

"Populasi Indonesia ini 56 persen ada di Pulau Jawa, yang 17 ribu yang lainnya mestinya ada pemerataan," katanya.

Pemerataan ekonomi dan penduduk juga dapat menumbuhkan titik baru pertumbuhan ekonomi.

"Saya kira arahnya ke sana. Tapi ini kan memang tidak sehari dua hari, setahun dua tahun, jangka panjang," ujar Jokowi. (*)



BERITA BERIKUTNYA