Karhutla Mengancam, Jambi Masuki Siklus 4 Tahunan El Nino

Rabu, 26 April 2023 - 09:35:49 WIB

Ilustrasi pemadaman api.
Ilustrasi pemadaman api.

IMCNews.ID, Jambi - Suhu panas tinggi beberapa hari terakhir dirasakan, khususnya warga Kota Jambi.

Menurut Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), rasa panas berlebihan yang dirasakan warga ini disebabkan oleh paparan sinar UV mencapai kategori ekstrem. 

Masyarakat disarankan menggunakan pelindung ketika beraktivitas di luar ruangan untuk mengurangi dampak dari suhu panas pada tubuh. Selain tubuh, ada yang tidak kalah penting untuk dilindungi, yaitu lingkungan. 

Di Provinsi Jambi, saat musim kemarau --di mana sengatan matahari sangat panas-- erat kaitannya dengan kebakaran hutan dan lahan. 

Awal tahun 2023, BMKG mengeluarkan peringatan bahwa tahun 2023 akan memasuki siklus 4 tahunan el nino yang memungkinkan akan terjadi musim kemarau lebih panjang. 

Di musim kemarau panjang, Jambi termasuk provinsi langganan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). 

Analisis Citra Sentinel 2 yang dilakukan unit GIS KKI Warsi, pada kemarau tahun 2019 Jambi mengalami kebakaran seluas 102.546 ha dan di 2015 seluas 85.658 ha.

Melihat data ini, siklus empat tahunan masih menghantui Jambi, terkhusus pada lahan gambut.

Gambut Jambi seluas 694.349 ha, menjadi areal rawan kebakaran karena adanya kanalisasi gambut untuk menurunkan muka air gambut sehingga bisa ditanami dengan tanaman yang tidak adaptif terhadap kondisi gambut. Seperti akasia dan sawit. 

Dari data perizinan, hutan tanaman yang berada di lahan gambut tercatat 61.085 ha. Dari luas ini, 16.013 ha diantaranya merupakan lahan gambut dengan kedalaman lebih dari 4 meter atau terkategori gambut sangat dalam. Sementara itu, kawasan perkebunan di lahan gambut seluas 320.132 hektar dan 43.808 ha berada di kawasan gambut sangat dalam atau lebih 4 meter. 

“Pengalaman yang terdahulu menunjukkan di setiap musim kemarau panjang, kebakaran hampir bisa dipastikan terjadi. Merujuk pada tahun 2015 dan 2019, gambut di Jambi, dilahap api,” kata Direktur KKI Warsi, Adi Junedi.

Berkaca pada tahun 2019 dan 2015, kebakaran lahan gambut meluluhlantakkan Provinsi Jambi. Menyebabkan banyak orang sakit ISPA, sekolah ditutup, aktivitas di bandara lumpuh dan ekosistem hancur. 

Hal ini terjadi karena kanalisasi lahan gambut untuk menurunkan muka air gambut atau pengeringan. 

Penurunan muka air gambut membuat gambut kehilangan fungsinya sebagai penyerap air. Pada musim kemarau air gambut akan hilang, sehingga kandungan organik yang ada di lahan itu menjadi sangat mudah terbakar. (*)



BERITA BERIKUTNYA