FKPT Sebut Jambi Lampu Kuning Terorisme

Rabu, 24 Agustus 2022 - 09:44:37 WIB

As'ad Isma. (ist)
As'ad Isma. (ist)

IMCNews.ID, Jambi - Provinsi Jambi disebut sudah masuk kategori lampu kuning alias darurat terorisme.  Predikat ini setidaknya menjadi peringatan bagi Pemprov Jambi dan Pemerintah daerah (Pemda).

Dalam dua pekan bulan Agustus 2022 ini, Densus 88 Anti Teror Polri menangkap empat terduga teroris di Jambi. Pertama pada tanggal 16 Agustus 2022 lalu, Densus 88 menangkap terduga teroris berinisial MR di Perumahan Argenta, Desa Mekar Jaya, Kecamatan Sungai Gelam, Kabupaten Muarojambi.

Informasi yang beredar, hasil penggeledahan di rumah MR ditemukan sejumlah barang bukti berupa 2 buah tas, 11 buah busur panah, 1 buku tabungan, 1 buah KTP, 2 unit handphone, 2 buku Agama, 1 buku saku dan 1 buku tafsir.

Yang teranyar, pada Senin (22/8) dini hari, Densus 88 kembali menangkap tiga orang terduga teroris di kabupaten Tebo. Dua diantaranya berinisial IS merupakan tenaga honorer desa dan RI tenaga honore di BPBD Tebo. Kemudian MA warga biasa. Ketiganya ditangkap di tempat berbeda di Desa Teluk Kasai Rambah, Kecamatan Tebo Ulu.

Dua kejadian itu mendapat perhatian dari Ketua Forum Kordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Jambi, Asaad Isma.

Menurut As’ad, penangkapan ini memberi sinyal bawah Jambi dalam konteks terorisme sudah lampu kuning.

"Ini sedikit lagi lampu merah. Lampu kuningnya dimana? Bisa dilihat dari dua tangkapan, pertama di Muarojambi dan kabupaten Tebo," katanya, Selasa (23/8/2022).

As’ad menjelaskan, biasanya Densus 88 itu sebelum penangkapan terlebih dahulu melakukan pengkajian dan pemantauan. Penangkapan juga melalui riset data. 

"Penangkapan yang dilakukan itu tidak semena-mena. Mereka melakukan penangkapan berdasarkan data yang telah diverivikasi," jelas  Wakil Rektor II UIN Sultan Thaha Saifuddin Jambi ini.

Lebih lanjut As’ad menjelaskan, ada tiga tingkat persebaran teroris. Tahap pertama, intoleransi, kemudian radikalisme dan yang terakhir menjadi Teroris.

"Sebelum ini mereka sudah intoleransi terhadap kehidupan sosial. Tidak menghargai perbedaan, termasuk perbedaan dalam satu agama. Di benak mereka dia lah yang paling benar. Di luar itu salah. Jadi itulah yang membuat radikal," paparnya.

Dengan demikian, mereka melakukan upaya paksa melakukan teror dan intimidasi. Kenapa mereka melakukan terror? Karena ada pandangan yang salah menurut mereka.

Ditanya apakah pemerintah kecolongan terkait terduga teroris yang bekerja sebagai tenaga honor di Pemda Tebo? As’ad menghimbau kepada Pemda, kepala kantor dan Kapolda Jambi agar lebih selektif dalam merekrut tenaga kerja.

"Kepala institusi negara, untuk kembali menerapkan seleksi yang ketat dalam menjaring tenaga kerja. Terlebih dahulu harus dipantau kehidupan sosialnya. FKPT punya kepentingan mencegah adanya intoleransi, untuk semua bisa sedini mungkin mewaspadai orang orang yang secara sikapnya intoleran," pungkasnya. (IMC01)



BERITA BERIKUTNYA