IMCNews.ID, Jambi - Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Talang Gulo Kota Jambi saat ini telah ditutup oleh pemerintah Kota Jambi, karena sudah overload. Penutupan sampah-sampah itu dilakukan dengan menggunakan tanah.
“TPA yang lama itu setiap tahun kita angsur-angsur untuk ditutup, lalu di bawahnya ini akan kita pasang pipa untuk menangkap gas metan. Gas ini yang akan kita maksimalkan untuk dimanfaatkan," kata Wali Kota Jambi, Syarif Fasha, kemarin.
Dia menambahkan, saat ini sudah ada sekitar 132 KK yang berada di sekitar TPA lama yang telah menikmati adanya gas metana tersebut. Sehingga, masyarakat tak perlu lagi membeli gas dari luar.
"Gas itu gratis, kedepan akan kita maksimalkan lagi. Gas ini akan kita konversi menjadi energi listrik. Sehingga operasional TPA yang baru ini tak lagi mengandalkan listrik dari luar, APBD juga tak perlu lagi kita anggarkan," tambahnya.
Kata Fasha, TPA lama juga direncanakan akan dijadikan taman edukasi bagi masyarakat, khususnya anak sekolah.
"Jadi sudah banyak anak-anak sekolah yang datang kesana untuk melihat bagaimana sampah-sampah ini diolah," ujarnya.
Fasha mengatakan, saat ini Pemerintah Kota Jambi telah melakukan pengalihan sampah dari TPA lama ke TPA baru. TPA baru dengan sistem sanitary landfill memang sudah rampung dibangun, dan tinggal uji Commissioning dalam waktu dekat.
Sebelumnya, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Jambi Ardi mengatakan, TPA lama sudah tidak dioperasionalkan lagi, tapi dalam proses penutupan.
Kata Ardi, pihaknya akan melakukan efisiensi teknologi untuk penutupan TPA lama tersebut. Teknis penutupan, bisa memakan biaya Rp45 Miliar dengan teknologi yang dikembangkan dari eropa.
"Kita berupaya mengembangkan teknologi berbasiskan lokal. Sehingga pemanfaatan gas metan dari penutupan itu bisa berjalan baik. Bisa juga nanti dikembangngkan jadi elektrik, menjadi energi untuk listrik. Itu yang kita lakukan saat ini," tutupnya.
Sementara Kabid Cipta Karya Dinas PUPR Kota Jambi, Momon Sukmana mengatakan bahwa penutupan TPA tersebut dilakukan secara bertahap di mana tahun 2021 lalu dianggarkan sebesar Rp500 juta. Penutupan tersebut sudah dimulai sejak tahun 2020 lalu.
"Setiap tahun itu kita timbun sekitar 1.000 kubik tanah. Untuk teknik penimbunan, Kami selalu berkoordinasi dengan dinas lingkungan hidup (DLH) bagian mana saja yang mesti ditutup dan yang tidak perlu," tambahnya. (*)
Berujung Damai, SAD Sepakat Tak Lagi Ambil Sawit di Lahan PT SAL dan Tinggalkan Kecepek
KABAR DUKA! Sekjen PWI Zulmansyah Sekedang Tutup Usia Akibat Serangan Jantung
Polisi Bongkar Produksi dan Peredaran Kosmetik Ilegal Mengandung Merkuri
Gubernur Al Haris Dorong HKTI Jadi Lokomotif Gerakan Pangan di Jambi
Usung Nuansa Alami, Depati Coffe and Eatery Hadir di Kota Jambi