IMCNews.ID, Jakarta- Penggunaan batu bara dalam negeri bakal dikurangi khususnya batu bara untuk Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) guna mencapai target netral karbon 2060 atau lebih cepat.
Pemerintah menargetkan hingga 2030 sekitar 5,52 Gigawatt (GW) hingga 9,2 GW PLTU dihentikan. Bahkan, bisa saja pada 2040 tidak ada lagi PLTU yang beroperasi.
Namun rencana ini bukan tanpa resiko. Bakal banyak pengangguran baru dampak dari kebijakan tersebut. Saat ini, batu bara masih menjadi komoditas andalan. Pada 2020, Indonesia di posisi ketiga sebagai produsen batu bara terbesar di dunia, setelah China dan India.
Selain itu, industri batu bara juga telah mampu menyerap hingga 150 ribu tenaga kerja pada 2019 lalu dengan komposisi tenaga kerja asing sebanyak 0,1%.
Jumlah tersebut bahkan belum termasuk penyerapan tenaga kerja di bidang operasional PLTU. Menteri ESDM Arifin Tasrif dalam Rapat Kerja dengan Komisi VII DPR RI, Senin (15/11/2021), mengatakan bahwa pemerintah berencana mengurangi 5,52 GW PLTU sampai 2030, terdiri dari pengurangan PLTU Jawa - Bali sebesar 3,95 GW dan Sumatera sebesar 1,57 GW.
"Kami rencanakan early retirement PLTU batu bara, Jawa-Bali phase out 3,95 GW dan Sumatera phase out 1,57 GW sampai 2030," ungkapnya kala itu. Dia menjelaskan, pihaknya membuat peta jalan menuju netral karbon agar mempercepat pengembangan energi baru terbarukan (EBT) dan transisi energi menggantikan PLTU yang dipensiunkan.
Di sisi lain, Ketua Umum Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) Rizal Kasli menuturkan, konsumsi batubara nasional diperkirakan akan berkurang 175-190 juta ton per tahun.
Jumlah itu setara dengan pengurangan pendapatan sebesar Rp 25 triliun per tahun bila PLTU dihentikan sama sekali.
Oleh karena itu, menurutnya pemerintah dinilai harus memacu hilirisasi batubara untuk menggantikan hilangnya pasar.
"Sampai 2060 diperkirakan pemakaian batu bara akan berkurang sebesar 175-190 juta ton atau sekitar Rp 25 triliun. Pemerintah harus memacu tumbuhnya hilirisasi batubara," ungkapnya dilansir dari CNBC Indonesia, Kamis (11/11/2021) lalu.
Dia menjelaskan, konsumsi batubara dalam negeri secara global masih kecil. Berdasarkan data BP Statistical Review 2021, konsumsi batu bara Indonesia baru sekitar 2,2% dari total porsi konsumsi batu bara dunia.
Angka itu jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan China yang memiliki porsi 54,3%, India 11,6%, dan USA 6,1%.
"Indonesia masih jauh lebih rendah pemakaian batu baranya," ujarnya.
Sementara Muhammad Wafid, Direktur Penerimaan Mineral dan Batu Bara Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara (Ditjen Minerba) Kementerian ESDM mengatakan PNBP di sektor pertambangan didominasi oleh batu bara.
"Insya Allah bisa (PNBP melebihi target), batu baranya kira-kira 75-80% dari total PNBP," paparnya.
Tahun ini PNBP pertambangan mineral dan batu bara telah mencapai rekor tertinggi setidaknya dalam 10 tahun terakhir. Hingga 11 November 2021, PNBP Minerba, berdasarkan data Minerba One Data Indonesia (MODI) Kementerian ESDM, tercatat mencapai Rp 59,62 triliun.
Jumlah ini setara dengan 152% dari target yang ditetapkan pada awal tahun sebesar Rp 39,10 triliun.
Adapun target produksi batu bara nasional pada 2021 ini sebesar 625 juta ton, dengan penyerapan domestik ditargetkan sebesar 137,5 juta ton.
Pada 2020 lalu Indonesia memproduksi sekitar 558 juta ton batu bara, di mana konsumsi batu bara di dalam negeri hanya mencapai sekitar 132 juta ton. Ini artinya, konsumsi batu bara untuk kepentingan domestik sekitar 24% dari total produksi batu bara nasional. (*/IMC01)