IMCNews.ID, Jambi - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Sultan Thaha Jambi menyatakan intensitas curah hujan di wilayah Provinsi Jambi pada bulan Februari menurun, meski masih berada pada periode musim penghujan.
"Wilayah Provinsi Jambi masih berada di periode musim penghujan, secara umum pada bulan Februari intensitas curah hujan-nya sedikit menurun," kata Kepala Seksi Data dan Informasi Stasiun BMKG Sultan Thaha Jambi Annisa Fauziah.
Menurunnya intensitas curah hujan tersebut dikarenakan adanya pusat tekanan rendah di Samudra Hindia, tepatnya di selatan Jawa Barat. Hal itu mengakibatkan tertariknya massa udara atau uap air ke pusat tekanan rendah tersebut. Sehingga berdampak terhadap berkurangnya intensitas hujan di wilayah Provinsi Jambi.
Pada bulan Februari secara umum prakiraan intensitas curah hujan di wilayah Jambi berada dalam kategori menengah. Yakni berkisar antara 100 sampai 300 mm per bulan.
"Periode musim penghujan di wilayah Provinsi Jambi diprediksikan hingga bulan April, kemudian pada bulan Mei dan Juni periode peralihan musim dan secara umum pada bulan Juli sudah memasuki musim kemarau," katanya.
Sementara itu gelombang di perairan timur Jambi dalam satu pekan kedepan diperkirakan berkisar antara 0,1 sampai dengan 1,25 meter atau berada dalam kategori tenang hingga rendah. Namun ketinggian gelombang tersebut dipengaruhi oleh kecepatan angin.
Sehingga nelayan yang akan pergi ke laut untuk mencari ikan diimbau untuk waspada dan berhati-hati ketika terjadi cuaca buruk atau adanya awan Cumulonimbus di laut. Karena awan tersebut dapat menghasilkan angin kencang yang dapat meningkatkan tinggi gelombang di laut.
"Masyarakat tetap di imbau untuk waspada, karena awan ini dapat muncul kapan saja," ujarnya. (IMC01)
Gubernur Turun ke Sarolangun Tangani Karhutla, Minta Waterbombing untuk Pendinginan
Cuaca Kian Memburuk Dampak Kabut Asap, Siswa PAUD/TK hingga Kelas 2 SD Diliburkan
Bukan Cuma Pemadaman, Tata Air Gambut Harus Jadi Pertahanan Pertama Hadapi Karhutla
Ribuan Titik Panas Kepung Area Konsesi, Monopoli Air Dituding Akar Rusaknya Ekosistem Gambut
Puluhan Perusahaan Berpotensi Kena Sanksi Rp15 Triliun Terkait Karhutla
Aspidsus, Asbin, Kajari Tebo dan Kajari Tanjabtim Juga Diganti