IMCNews.ID, Muara Sabak - Nelayan yang akan melaut diminta untuk mewaspadai cuaca ekstrem yang saat ini mengintai. Peringatan dini ini disampaikan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim).
Dalam kondisi saat ini, gelombang tinggi yang disertai angin kencang khusus wilayah pesisir pantai dapat mengancam keselamatan nelayan yang melaut.
Dalam surat peringatan yang disampaikan BMKG Provinsi Jambi, cuaca ekstrem ini harus diwaspadai mulai 7 sampai dengan 9 Desember 2021.
Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Tanjabtim, Indra S Gunawan mengatakan, meskipun angin kencang dan gelombang tinggi terjadi, namun untuk kondisi hujan sesuai dengan prediksi BMKG Provinsi Jambi saat ini masih kategori normal.
"Surat dari BMKG itu menunjukan kalau tiga hari angin kencang dan gelombang tinggi. Akan tetapi, untuk hujan masih kategori normal. Tapi para nelayan diminta untuk waspada saat melaut," katanya.
Dia memberikan saran kepada nelayan, agar sebelum berangkat melaut bisa melihat cuaca terlebih dahulu. Sekiranya cuaca tidak bersahabat, nelayan diminta tidak pergi melaut dulu atau jangan pergi melaut sendirian. Setidaknya untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.
"Ya, kalau pun nelayan mau pergi dengan cuaca tidak bagus, nelayan jangan pergi sendirian atau bisa juga mengurungkan niat untuk pergi melaut," ungkapnya.
Selain itu, dia juga menjelaskan, saat ini masih terjadi banjir rob atau air pasang tinggi di wilayah pesisir pantai, seperti di Kecamatan Kuala Jambi, Mendahara, Nipah Panjang, Muara Sabak Timur dan Sadu.
Namun kondisi tersebut tidak terlalu mengkhawatirkan. Sebab banjir yang terjadi tidak sampai 1x24 jam.
"Artinya, banjir rob hanya terjadi dengan durasi 2 sampai 3 jam saja, setelah itu kembali surut. Jadi kalau menurut aturan, korban banjir yang berhak menerima bantuan, jika banjir merendam selama 1x24 jam," jelasnya.
Menurutnya, bahwa banjir yang terjadi saat ini hanya awal saja. Puncaknya akan terjadi pada awal tahun di bulan Januari mendatang. Pasalnya, intensitas hujan pada saat itu tinggi, sehingga air meluap dan akan terjadinya banjir.
"Banjir sekarang ini baru awal, nanti di bulan Januari puncaknya. Karena di bulan itu intensitas hujan tinggi. Kalau sekarang memang karena tingginya air pasang laut, ditambah juga dengan angin kencang, sehingga wilayah pesisir menjadi banjir," terangnya. (IMC01)
Berujung Damai, SAD Sepakat Tak Lagi Ambil Sawit di Lahan PT SAL dan Tinggalkan Kecepek
KABAR DUKA! Sekjen PWI Zulmansyah Sekedang Tutup Usia Akibat Serangan Jantung
Polisi Bongkar Produksi dan Peredaran Kosmetik Ilegal Mengandung Merkuri
Gubernur Al Haris Dorong HKTI Jadi Lokomotif Gerakan Pangan di Jambi
Survei Kekebalan Kelompok Pasca Vaksinasi untuk Pengambilan Kebijakan