Awas Propaganda Jelang PSU

Selasa, 25 Mei 2021 - 06:11:31 WIB

Citra Darminto. (ist)
Citra Darminto. (ist)

IMCNews.ID, Jambi - Dua hari jelang Pemungutan Suara Ulang (PSU) Pilgub Jambi, suhu politik kian memanas. Teranyar, sebuah pemberitaan yang menyebutkan adanya money politics (politik uang) di Muarojambi. 

Dalam berita di sejumlah media online itu disebutkan, yang tertangkap bagi-bagi uang adalah emak emak. Dia menyebarkan uang Rp 100 ribu untuk mencoblos pasangan nomor urut 1 Cek Endra-Ratu Munawaroh (CE-Ratu).

Di sisi lain, tim CE-Ratu menuding berita tersebut bohong alias hoax. Mereka minta kasus ini dilaporkan ke pihak yang berwenang agar jelas kebenarannya. 

BACA JUGA : Bawaslu Pastikan Belum Ada Temuan Terkait Politik Uang

Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Muarojambi sendiri mengaku belum menerima laporan dugaan politik uang yang beredar luas di media sosial (Medsos) tersebut. Ketua Bawaslu Muarojambi, Yasril mengatakan pihaknya sudah melakukan kroscek terkait informasi tersebut. 

"Kami sudah kroscek, sejauh ini belum ada," tegasnya.

Bahkan, Yasril mengatakan sudah meminta Panwascam kembali melakukan kroscek di lapangan untuk memastikan apakah informasi tersebut benar atau tidak. 

"Kami sudah tanya ke Panwascam, belum ada temuan. Hari ini kami tetap meminta untuk tetap melakukan pengecekan," katanya.

Yasril menyarankan apabila ada masyarakat yang menemukan praktik politik uang segera melaporkan. Laporan itu bisa disampaikan kepada Bawaslu Muarojambi, Panwascam maupun Pengawas di tingkat Desa. 

"Kalau ada temuan silakan laporkan, baik ke Bawaslu Muarojambi, Panwascam maupun Pengawas Desa. Jalurnya seperti itu," tukasnya.

Pengamat Politik dari Universitas Jambi, Citra Darminto menilai pemberitaan money politik yang dilakukan oleh salah satu tim sukses kandidat itu ada dua kemungkinan. Pertama, kalau money politik itu benar adanya, ini membuktikan Bawaslu gagal untuk kesekian kalinya dalam menjalankan perannya, walaupun money politik ini harus dibuktikan.

"Dalam sisi lain, ini merupakan kegagalan pendidikan politik dalam masyarakat," katanya.

Menurut Citra, memang tidak bisa dipungkiri tingkat pendidikan dan tingkat ekonomi masyarakat menjadi salah satu faktor money politik itu terjadi. 

"Saya menilai semakin tinggi tingkat pendidikan dan ekonomi masyarakat, maka praktik politik uang tidak begitu bekerja. Sebaliknya, jika tingkat pendidikan dan ekonomi masyarakat rendah, maka praktik politik uang akan merajalela dan diterima warga. Apalagi kondisi saat ini orang butuh uang karena ekonominya rendah," jelasnya.

Lalu, kemungkinkan kedua, kata Citra, kalau money politik itu tidak dapat dibuktikan, ini merupakan bentuk propaganda yang dilakukan oleh salah tim kandidat yang bertarung di PSU. 

"Karena sudah menjadi kebiasaan, setiap kontestasi politik, fenomena propaganda sering terjadi. Salah satunya dengan menyebarkan isu money politik. Karena tren propaganda membenarkan muslihat, manipulasi, penyebaran kebencian, menyampaikan semburan dusta, semburan fitnah, dan semburan hoaks," sebutnya.

"Kalau benar ini propaganda, masyarakat kita harus lebih berhati-hati terhadap segala rupa informasi yang beredar di ranah digital atau media sosial. Serta lebih rasional dan penuh perhitungan dalam menentukan pilihan politik," katanya.

Untuk itu, lanjut Citra ada atau tidak adanya money politik, penyelenggara Pemilu harus tetap memasang mata dengan mengintensifkan patroli pengawasan di kampung dan daerah khususnya penyelenggara PSU. 

Selain itu, soal isu politik uang Bawaslu juga aktif menggerakan Panwas Kecamatan hingga Panwaslu Kelurahan untuk mengecek kebenaran terkait beredarnya kabar praktik politik uang yang dilakukan oleh tim sukses.

"Saya juga menghimbau kepada jurnalis dan media supaya objektif dalam membuat berita. Saya merasa prihatin melihat praktik yang dilakukan beberapa oknum jurnalis dan media yang mungkin tanpa disadari memberikan informasi ke publik yang belum jelas fakta dan kebenarannya. Praktik seperti ini tentu merugikan hak publik untuk mendapatkan informasi yang obyektif, akurat, dan berimbang. Karena saya juga menilai ada beberapa jurnalis sebagai Buzzer Politik untuk pasangan calon tertentu," katanya.

"Oleh sebab itu saya mengajak mari kita hentikan perang urat syaraf pada kontestasi Pilgub ini. Kita mencari pemimpin, jangan gara-gara Pilkada persaudaraan yang sudah kita bangun menjadi runtuh gara-gara Pilkada," pungkasnya. (IMC01)



BERITA BERIKUTNYA