Harga Sawit Anjlok, di Tebo Hanya Rp700 Per Kilogram

Jumat, 24 Juni 2022 - 09:30:35 WIB

IMCNews.ID, Jambi - Harga Tandan Buah Segar (TBS) sawit kian anjlok. Hal ini diperkirakan dapat menyebabkan tingkat perekonomian Jambi akan menurun. 

"Jika harga sawit di Provinsi Jambi kian menurun, maka akan mempengaruhi tingkat perekonomian. Kalau ini berlangsung lama, maka akan menggangu inflasi daerah Jambi," kata Gubernur Jambi, Al Haris, Kamis (23/6/2022) kemarin.  

Dia berjanji akan berupaya mencari solusi cepat supaya TBS sawit bisa naik lagi. 

"Kita sudah rapat kemarin. Saya akan coba cari solusi bagaimana supaya harga bisa secapatnya naik lagi," ujarnya. 

Haris mengungkapkan, informasi yang dia terima, turunnya harga ini akibat macetnya ekspor CPO dari Provinsi Jambi, termasuk Indonesia. Kemudian juga persoalan tanki perusahaan yang masih penuh. 

"Setelah saya cari tahu, ternyata ada tanki perusahaan yang penuh, kemudian juga persoalan kapal ekspor," tambahnya. 

Menurut Haris, saat pelarangan ekspor CPO beberapa waktu lalu, kapal yang biasa dipakai ekspor sawit dari Jambi disewa oleh negara lain. Untuk mengadakan kapal tersebut, Haris mengaku sudah menghubungi tiga menteri, yakni Menteri Pertanian, Menteri Perdagangan dan Menteri Perhubungan. 

"Saya sudah hubungi tiga menteri. Mentan Pak Yasin, pak Zulkif Hasan (Mendag) dan Pak Menhub, Budi Karya Sumadi minta tolong pengadaan kapal ekspor untuk Jambi. Disamping itu saya juga Tanya salah seorang eksportir Jambi. Ternyata kapal ekspor tak menjadi persoalan utama,’’ jelasnya. 

Dari berbagai pihak yang dia hubungi itu, lanjut Haris, diketahui penyebab utama anjloknya harga sawit ini adalah karena harga pasar atau minyak dunia yang murah. Termasuk harga CPO yang juga turun. 

"Ternyata dengan murahnya harga minyak dunia ini, membuat daya beli di luar negeri juga murah. Ini membuat harga sawit anjlok," jelasnya. 

Sementara itu, di lapangan para petani kian lesu. Sejak Kamis (23/6) kemarin, harga sawit sudah pecah dari Rp1.000 per kilogram. Bahkan, sebagian petani lebih memilih tak panen. 

Mereka terpaksa membiarkan buah membusuk di batang. Dari pada panen, harga jual tidak sesuai dengan akomodasi.

Di Tebo misalnya. Sukandi, warga Desa Teluk Langkap, Kecamatan Sumay mengatakan, kalau di panen malah tekor. Menurut dia, harga di tingkat pengepul hanya Rp 700  per kilo. Ini tidak masuk lagi hitungannya jika dipaksa memanen. 

"Kalau di kali-kali habis mas. Upah manen, langsir motor, terus ongkos ke-loading sudah berapa. Bisa tekor kita mas," katanya.

Oleh sebab itu, lanjut Sukandi, jika tidak ada kenaikan harga, dia lebih memilih membiarkan sawit busuk di batang. Pasalnya tidak sesuai dengan biaya yang dikeluarkan untuk memanen. 

"Biak lah dulu mas, Kito nunggu be," ujarnya dengan logat bahasa daerah.

Hal senada disampaikan Ramdani, petani kelapa sawit di Kelurahan Sungai Bengkal, Kabupaten Tebo. Sekarang bukan hanya harga yang turun, RAM (tempat jual beli TBS hasil perkebunan petani/loading) pun sudah tidak menerima (membeli) buah sawit lagi.

Dia mengaku sempat mendapat semangat setelah ada rapat dengar pendapat di Kantor DPRD Tebo Selasa lalu. Namun, lesu lagi karena harga malah terjun bebas hingga pecah dari Rp1.000 per kilo. 

"Hari ini  cuma Rp 700 per kilo. Dak sesuai dengan upah panen," kata Ramadani. 

Sama dengan Sukandi, dirinya memilih membiarkan buah membusuk di pohon. Dia berharap kepada Pemerintah bisa secepatnya menstabilkan harga sawit. 

"Harga TBS tidak sebanding dengan harga kebutuhan pokok saat ini. Begitu juga dengan harga pupuk. Sekarang sawit 1 ton baru dapat beli satu sak pupuk mas. Bayangkan lah," kata Ramadani. (*/IMC01) 



BERITA BERIKUTNYA