Peran Kampus dalam Menghadapi Wabah Covid -19

Peran Kampus dalam Menghadapi Wabah Covid -19

*) Oleh: Devi Saras Wati

DUNIA saat ini sedang menghadapi pandemi Covid-19 (Corona Virus Disease), sebuah wabah yang menjadi ancaman bagi kesehatan secara global. Kemunculannya pada akhir tahun 2019 hingga saat ini terus menelan korban jiwa.  

Bahkan total kasus positif Covid-19 saat ini telah mencapai angka 4,7 juta penduduk  di 213 negara dunia.
Dikutip dari Pikiran-Rakyat.com dari laman World o Meters pada Senin (18/5/2020)  jumlah total kasus di dunia mencapai angka  4.796.705 orang positif  Covid-19.

Sehingga dari total kasus di dunia tersebut terkonfirmasi 316.434 kematian akibat virus corona dan sudah 1.849.628 pasien yang dinyatakan sembuh.

Sedangkan di Indonesia angka kasus infeksi positif  berdasarkan data yang masuk hingga Senin (18/5/2020) ada 17.514 pasien positif. Jumlah tersebut mengalami penambahan sebanyak 489 kasus, bila dibandingkan data terakhir pada hari sebelumya. Untuk angka kesembuhan bertambah menjadi 4.129 orang.

Sementara untuk korban yang meninggal dunia terkonfirmasi positif virus corona sebanyak 1.148 orang.

BACA JUGA : Pilkada Serentak akan Dilakukan Tanpa Kampanye Secara Langsung

Covid-19: Pandemi Alami atau Konspirasi?

Sejak awal kemunculan pandemi ini sampai hari ini, selalu ada perbincangan soal konspirasi yang mengiringi penanganan wabah covid-19. Konspirasi atau apa yang orang sebut sebagai persekongkolan jahat, kesengajaan bahwa di balik pandemi covid-19 ini ada virus yang sengaja diciptakan, baik untuk kepentingan kelompok tertentu atau untuk kepentingan bisnis dari pihak-pihak yang akan mendapatkan untung dari penjualan vaksin, ataupun karena persaingan dominasi antar negara di dunia.

Amerika Serikat dan China adalah dua negara yang hubungannya memanas karena saling tuduh berkaitan dengan asal muasal virus ini muncul, bahkan mengakibatkan hubungan yang tidak baik antara dua negara tersebut. Mereka saling tuding atas terjadinya asal mula wabah Covid-19.

Sebagaimana Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Zhao Lijian bikin geger saat mengatakan, Bisa jadi US Army atau tentara AS yang membawa epidemi itu ke Wuhan, saat mengikuti pekan olahraga militer dunia (17th  CISM/ Military World Games) pada 18-27 Oktober 2019.  

Sementara Amerika Serikat mengatakan bahwa virus itu bisa terjadi karena dampak dari kebocoran laboratorium biologi di Wuhan. (www.riau.antaranews.com)  

Jadi, Virus Corona telah terdapat pada hewan seperti unggas, kalkun, babi, tikus, kucing, dan anjing sejak lama. Melansir Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat, virus Corona menyerang manusia ditemukan pertama kali pada tahun 1960-an. Virus Corona mewabah di belahan dunia pada tahun 2002-2003, yang menyebabkan penyakit pandemi Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS).

BACA JUGA : BREAKING NEWS! Ibadah Haji Tahun 2020 Ditiadakan Imbas Covid-19

Pada tahun 2015, virus Corona mewabah kembali menyebabkan penyakit Middle East Respiratory Syndrome (MERS) di Korea Selatan. Desember 2019 di kota Wuhan Cina, virus Corona mewabah kembali. Virus ini menyerupai SARS dengan kemiripan 96% yang menyrebabkan penyakit Covid-19. Hanya saja, virus Corona jenis baru ini memiliki protein spike (protein S) lebih banyak dan memiliki bentuk yang lebih adaptif.

Maka keliru jika Amerika Serikat dan China sempat saling tuding soal asal usul pandemi ini. Berdasarkan tinjauan ilmiah, kemunculan virus Corona diduga kuat bermutasi secara alami. Sebagaimana hal tersebut dikonfirmasi Nature Medicine dengan mengatakan:
“melalui perbandingan rantai genom yang sudah ada untuk rantai virus Corona yang sudah dikenal, kami dapat mengkonfirmasi dengan kuat bahwa virus Corona muncul dari proses alami”.

Lebih lanjut, majalah tersebut juga mengatakan: “pandangan ini didukung oleh data dari tulang punggung virus dan struktur molekulnya. Siapa yang ingin merekayasa virus di laboratorium maka hal itu tampak di dalam tulang punggung virus” (https://www.npr.org).

Dari laporan tersebut dipahami jika Covid-19 muncul karena rekayasa, maka akan tampak pada tulang punggung virus dan struktur molekulnya. Konfirmasi tersebut menjadi rujukan bahwa virus Corona bukanlah produk rekayasa. Kemunculan virus tersebut memang terjadi secara alami.

Peran Intelektual Kampus Menangani Wabah

Pada situasi seperti ini, kampus dan para intelektual mempunyai peran yang sangat penting dalam menghadapi adanya wabah covid-19.  Kaum intelektual adalah pihak yang dapat mengoptimalkan sains agar ditemukan solusi pandemi Covid-19. Ketika sains dapat membongkar struktur dari virus tersebut, maka akan dapat dipahami seluk-beluk virus tersebut.

Dengan memahami virus diharapkan akan diperoleh penangkalnya yang kita sebut sebagai vaksin. Vaksin bukanlah obat. Vaksin adalah virus atau bakteri yang mati atau sudah dilemahkan yang disuntikkan ke dalam tubuh agar merangsang antibodi yang dibutuhkan (antibodi spesifik) untuk penyakit tertentu. Antibodi merupakan salah satu benteng tubuh yang berperan besar menahan serangan virus dan bakteri. Jika antibodi spesifik tersebut terbentuk, maka seseorang akan dapat sembuh dari sakitnya dan memiliki kekebalan terhadap penyakit tertentu.

Virus atau bakteri yang dapat membentuk antibodi spesifik disebut antigen. Ketika telah mengetahui virus Corona dan antibodi seperti apa yang akan terbentuk ketika menghadapi Korona, maka antigen dapat dirumuskan untuk vaksin Corona.

Disinilah poin optimasi sains. Sains yang dimaksudkan adalah sains bidang kedokteran. Para peneliti, ahli laboratorium, dan pakar sains harus serius dan bersungguh-sungguh menemukan vaksin tersebut.

Sedangkan para saintis yang tidak menjangkau laboratorium adalah penyambung informasi kepada masyarakat. Karena saintis memahami teks-teks sains walaupun mereka di luar laboratorium. Informasi sains harus sampai ke masyarakat. Inilah skenario optimasi yang harus dilakukan oleh dunia sains dalam rangka menundukkan Covid-19.

Beberapa kampus di  negeri ini telah memberikan kontribusinya dalam rangka menangani wabah Covid-19. Sebagai contoh, STEI Intitut Teknologi Bandung (ITB), dikutip dari ( www.abc.net.au,15/5/2020).Dr. Syarif Hidayat, dosen STEI Intitut Teknologi Bandung (ITB)  yang mengaku tidak mau tinggal diam setelah menyadari kepanikan akibat Covid-19. Melalui bantuan dana yang ia terima dari Masjid Salman ITB, Dr. Syarif memulai kontribusinya dengan mencoba membuat sebuah ventilator, atau alat bantu pernapasan ICU primitif.

Kemudian perguruan tinggi lainnya yakni Institut Teknologi Sepuluh November bekerja sama dengan pihak Rumah Sakit Universitas Airlangga (UNAIR) meciptakan Robot RAISA yang beroperasi dibagian High Care Unit (HCU), Robot tersebut untuk mengurangi interaksi dengan pasien, sehingga mengurangi resiko penularan antara pasien dan petugas medis dan menghemat APD (alat pelindung diri).

Dengan begitu masih banyak lainnya peran perguruan tinggi yang berkontribusi untuk menghadapi Covid-19. Dari beberapa penanganan tersebut tentunya semua orang menginginkan yang terbaik untuk mengatasi Covid-19.

Oleh sebab itu, peran kampus sangatlah penting untuk menghadapi wabah Covid-19, karena dunia sains adalah solusi agar wabah Covid-19 segera tertangani. Namun, berbagai riset yang bias dilakukan oleh kampus tak akan berjalan tanpa adanya dukungan dana dari Negara.

Maka Negara juga harus memberikan perhatian dan dana yang serius agar vaksin dari virus ini bias segera ditemukan. Mari bersama-sama melawan virus Corona, dan terus berdoa agar wabah ini segera sirna dari dunia. (*)

*) Penulis adalah mahasiswa Program Studi Tadris Biologi UIN STS Jambi. Tulisan ini dalam rangka memenuhi tugas kampus KKN DR (Kuliah Kerja Nyata Dari Rumah).