Penumpang Pesawat Mengaku Dilecehkan Oknum Dokter Saat Rapid Test di Soetta

Penumpang Pesawat Mengaku Dilecehkan Oknum Dokter Saat Rapid Test di Soetta
Ilustrasi: Petugas memeriksa kesehatan calon penumpang sebelum pemberangkatan di Terminal 2 Bandara Soekarno Hatta. (Foto Antara)

IMCNews.ID, Jakarta - Sebuah pengakuan penumpang pesawat di bandara Soekarno-Hatta (Soetta) yang mengaku dilecehkan oknum tenaga kesehatan saat menjalani rapid test membuat heboh dunia maya.

Pengakuannya, kejadian itu dialaminya pada Minggu (13/9/2020) lalu. Selain dilecehkan, perempuan berusia 23 tahun berinidial LHI itu juga mengaku diperas.

Dia mengaku dipaksa membayar biaya tambahan sebesar Rp1,4 juta oleh dokter yang bertugas melayani pemeriksaan rapid test di Bandara. Dugaan pelecehan seksual itu mengemuka setelah korban membagikan pengalamannya lewat akun Twitter @listongs pada Jumat (18/9/2020).

"Jadi tuh awalnya saya mau tes rapid di Bandara Soetta Minggu kemarin, yang Kimia Farma, soalnya saya mau ke Nias. Nah, saya bayar Rp150 ribu hasilnya reaktif. Terus salah satu dokter menawarkan untuk rapid lagi, dengan menjanjikan hasil non-reaktif," kata LHI dikutip dari CNNIndonesia.com.

BACA JUGA : Covid-19 "Serang" ASN Pemprov Jambi Hingga Jurnalis

Dia mengaku tak percaya dengan hasil rapid test tersebut. Sebab, ia dinyatakan negatif berdasarkan hasil swab PCR test belum lama setelah dia kembali dari Australia.

Ia mengaku pasrah bila harus membatalkan perjalanannya ke Nias. Namun satu dari tiga dokter yang memeriksanya, yang kemudian diketahui berinisial EFY, memaksanya untuk kembali menjalani pemeriksaan.

Dokter itu, katanya, meyakinkan bahwa kondisi korban sebenarnya tidak berbahaya. Dia lantas menuruti saran dari dokter itu. Ia kembali membayar biaya rapid test sebesar Rp150 ribu.

Namun, kata korban lagi, saat dirinya bersiap menuju boarding room, dokter tersebut kembali menemuinya dan meminta uang imbalan karena berhasil meloloskan hasil rapid test korban. Kata dia, oknum dokter tersebut meminta imbalan Rp1,4 juta.

"Karena saya tidak ada cash, ya sudah pakai m-banking saja, biar sekalian tahu nama bapaknya, buat bukti juga," lanjutnya.

Lebih parahnya, korban mengaku dilecehkan oleh oknum dokter itu. Kata korban, oknum dokter tersebut membuka masker dirinya, kemudian mencium mulut dan meraba payudaranya. "Tiba-tiba bapaknya cium saya," ujarnya.

Usai kejadian itu, korban mengaku oknum dokter EFY itu terus berusaha menghubunginya melalui WhatsApp. Saat sampai di Nias, korban langsung nelakukan rapid test kedua, dan hasilnya ia dinyatakan non-reaktif Covid-19.

"Saya sudah lapor Selasa ke pihak Angkasa Pura, sudah isi form laporan di IDI, sudah berhari-hari yang lalu belum ada respons, makanya saya bikin thread di Twitter," ujarnya.

Korban sangat berharap laporan pengaduannya segera ditanggapi agar dokter tersebut segera diberikan sanksi. Sebab, ia tak ingin kasus seperti ini terulang lagi.

"Saya berharap dia diberi sanksi administrasi, kalau pidana sih tidak berharap banyak. Saya sih tidak terlalu ingin dokternya dipenjara, saya cuman pengen dia dicabut tugasnya supaya tidak praktik lagi, biar tidak ada yang keulang lagi, fokus saya di sana," tuturnya.  

Sementara Direktur Utama PT Kimia Farma Diagnostika, Adil Fadilah Bulqini menegaskan, pihaknya akan membawa kasus tersebut ke ranah hukum guna menindaklanjuti kasus tersebut.

"PT Kimia Farma Diagnostika akan membawa peristiwa ini ke ranah hukum atas tindakan oknum tersebut yang diduga melakukan pemalsuan dokumen hasil uji rapid test, pemerasan, tindakan asusila dan intimidasi," kata Adil dalam keterangan pers, Sabtu (19/9/2020). (IMC01)