Kemitraan Ekonomi Komprehensif Bakal Lesatkan Investasi ke Indonesia

Kemitraan Ekonomi Komprehensif Bakal Lesatkan Investasi ke Indonesia
Ilustrasi - Pelabuhan bongkar muat kontainer, prasarana penting bagi suatu negara untuk melakukan perdagangan global. (ist)

IMCNews.ID, Jakarta - Perjanjian perdagangan yang terdapat dalam Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional (Regional Comprehensive Economic Partnership/RCEP) diyakini bakal melesatkan investasi masuk ke Indonesia.

Wakil Menteri Luar Negeri Mahendra Siregar dalam webinar terkait RCEP di Jakarta, Rabu, mengatakan, RCEP akan memberikan sejumlah dampak positif bagi Indonesia selain peningkatan ekspor.

"RCEP adalah sebuah kendaraan untuk meningkatkan peran dan kontribusi dan keberadaan Indonesia dalam perdagangan serta investasi dunia," katanya.

Menurut dia, RCEP akan membuat investasi meningkat lebih dari 20 persen, Produk Domestik Bruto dalam 10 tahun ke depan juga akan meningkat.

Selain itu, lanjutnya, hingga sebanyak 60 juta UMKM akan terkena dampak positif dengan adanya kerja sama perdagangan ini.

"Secara paralel, pemerintah juga sudah mengesahkan UU Cipta Kerja. UU ini merupakan elemen penting dalam memperbaiki pekerjaan rumah yang dihadapi selama ini terkait investasi. Karena itu, RCEP dan juga UU Ciptaker harus dijadikan momentum untuk mencapai pemulihan ekononi yang sustainable pada tahun ini," kata Mahendra.

RCEP dinilai bakal memberikan kemudahan bagi para pelaku usaha nasional dalam mengekspor produk-produk mereka karena eksportir Indonesia hanya perlu menggunakan satu macam surat keterangan asal (SKA) untuk bisa mengekspor ke seluruh negara anggota RCEP.

Sepanjang memenuhi kriteria negara asal yang diatur dalam RCEP, pengusaha Indonesia cukup mengantongi SKA RCEP untuk mengekspor satu produk ke semua negara RCEP.

Mahendra mengatakan, RCEP adalah lokomotif ekonomi dunia untuk 10-20 tahun ke depan. Bukan itu saja, RCEP akan membuat kawasan Asia menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi dunia.

"Selama ini Asia itu selalu menjadi factory atau pabrik tapi sudah menjadi pabrik, pasar dan motor pertumbuhan ekonomi dunia. Karena itu, Indonesia harus memanfaatkan momentum RCEP ini untuk meningkatkan ekspor. Karena selama ini, mayoritas ekspor Indonesia adalah ke negara-negara anggota RCEP," katanya.

Sementara itu, Rektor Universitas Prasetiya Mulya Prof Djisman Simanjuntak mengatakan bahwa 2021 adalah tahun untuk pemulihan dari pandemi .

Namun, lanjutnya, pertumbuhan baru sesudah 2021 juga harus disiapkan dari sekarang.

Djisman memaparkan, beberapa unsur kebijakan yang penting adalah pembangunan yang fokus berdasarkan kesehatan, investasi yang besar dalam modal manusia, yaitu pendidikan dan pelatihan, serta investasi di infrastruktur, termasuk infrastruktur digital.

Sedangkan Wakil Ketua Umum Kadin Shinta Kamdani mengatakan bahwa kontribusi perdagangan internasional untuk Indonesia masih sangat terbatas.

Hal tersebut, menurut dia, antara lain karena Indonesia ini belum bisa memaksimalkan manfaat pasar global sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi nasional. (IMC02/Ant)