Heboh Penjemputan Jenazah Pasien di RSUD Raden Mattaher, Keluarga Tolak Pemakaman dengan Protokol Kesehatan

Heboh Penjemputan Jenazah Pasien di RSUD Raden Mattaher, Keluarga Tolak Pemakaman dengan Protokol Kesehatan
Potongan video keluarga menjemput pasien yang sudah dibungkus plastik. (ist)

IMCNews.ID, Jambi - Video penjemputan jenazah pasien di RSUD Raden Mattaher beredar luas dan membuat heboh, Selasa (1/9/2020). Jenazah pasien yang masih berusia 6 tahun tersebut terlihat sudah dibungkus plastik. 

Jenazahnya dijemput paksa oleh keluarga di kamar mayat RSUD Raden Mattaher. Informasinya, pasien ini merupakan warga RT 13, Kelurahan Rawasari, Kecamatan Kotabaru, Kota Jambi. 

Pihak keluarga menolak pasien dimakamkan dengan protokol kesehatan sehingga melakukan penjemputan paksa. Salah seorang keluarga pasien, Abdul Sidik menyampaikan, bahwa keluarganya yang meninggal itu sudah mengalami sakit sejenis tumor di bagian kepala sejak 2016.

"Kok tiba-tiba begitu masuk dibilang dikuburkan secara Covid-19, belum ada hasil (swab). Baru pagi ini diambil swab, kenapa dari tadi malam belum keluar, itu tu mayat bukan batang pisang," keluhnya. 

Dia menuturkan, pihak keluarga sudah bersabar sejak pukul 22.00 WIB, Senin (31/8/2020) malam hingga pukul 10.00 WIB. 

BACA JUGA : Uji Swab Kandidat di Pilkada Serentak Keluar Besok

"Tadi ngomong setengah sepuluh, oke. Tiba-tiba pihak rumah sakit mengatakan minta waktu 1 jam dengan alasan tidak bisa dibaca sementara mayat ditelantarkan, kenapa sudah diplastik," jelasnya.

Sementara itu Wakil Direktur Pelayanan (Wadiryan) RSUD Raden Mattaher, dr Dewi Lestari mengatakan, pihaknya sudah menemui pihak keluarga serta menyampaikan memang bahwa hasil rapit test jenazah itu menunjukkan hasil reaktif. 

"Kalau rapitnya positif, tentu kita berlakukan protap Covid-19. Kita ini sebenarnya untuk menjaga-jaga. Saya sudah koordinasi dengan gugus tugas. Insya Allah kalaupun hasilnya negatif aman kita semua, nah takutnya hasil swabnya positif," katanya. 

Soal protes pihak keluarga lambannya hasil pemeriksaan swab, padahal pasien sudah meninggal sejak semalam, dia menjelaskan itu soal prosedur. 

"Karena kan untuk pemeriksaan itu ada prosedurnya dan terkait alat, jadi 1 jam lagi," ujarnya ketika berdikusi dengan pihak keluarga jenazah yang tampak dihadiri oleh pihak kepolisian. 

Lebih lanjut dr Dewi pun meminta agar dibuat surat pernyataan secara tertulis dari keluarga.

"Pernyataan dari pihak keluarga bahwa memang memaksa untuk membawa jenazah, kalau dari gugus saya sudah koordinasi. Kalau dari rumah sakit tetap menunggu hasil swab. Tetapi keluarga punya pertimbangan," tambahnya. 

Dia mengakui pasien sudah meninggal sejak semalam, namun spesimen untuk uji swab baru diambil pagi tadi. (IMC01)