Dunia

Harga Minyak Dunia Turun

Februari 26, 2020 04:04
Ilustrasi : Gad suar pada ladang minyak Khurais, Arab Saudi. (ist)
Ilustrasi : Gad suar pada ladang minyak Khurais, Arab Saudi. (ist)

IMCNews.ID, New York - Harga minyak memperpanjang kerugiannya pada akhir perdagangan Selasa (Rabu pagi WIB), karena penyebaran cepat Virus Corona di negara-negara di luar China menambah kekhawatiran investor tentang dampaknya terhadap permintaan minyak mentah.

Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman April ditutup 1,53 dolar AS lebih rendah menjadi 49,90 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange, mencetak rekor terendah dalam dua minggu. WTI turun 1,95 dolar AS menjadi 51,43 dolar AS sehari sebelumnya.

BACA JUGA : Fachrori Ajak Pemangku Kepentingan Sukseskan Pilkada dan SP 2020

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman April turun 1,35 dolar AS menjadi menetap pada 54,95 dolar AS per barel di London ICE Futures Exchange. Sehari sebelumnya minyak mentah Brent jatuh 2,20 dolar AS menjadi 56,30 dolar AS per barel

Pasar minyak tetap sangat rentan terhadap fluktuasi karena terperangkap dalam situasi sulit, menurut para ahli.

Epidemi Virus Corona menyebabkan lebih banyak kematian dan gangguan pada Selasa (25/2/2020), menyebar ke negara-negara baru ketika seorang pejabat kesehatan terkemuka memperingatkan dunia "sama sekali tidak siap" untuk membendungnya.

Bahkan ketika jumlah kasus baru menurun di episentrum penyakit di China, telah terjadi peningkatan mendadak di beberapa bagian Asia, Eropa dan Timur Tengah.

Di Iran, yang telah melaporkan 15 kematian akibat penyakit dari hampir 100 infeksi, bahkan wakil menteri kesehatan negara itu Iraj Harirchi mengatakan dia telah tertular virus tersebut.

Negara-negara Teluk mengumumkan langkah-langkah baru pada Selasa untuk memutuskan hubungan dengan Iran dalam upaya untuk menghentikan penyebaran virus.

Uni Emirat Arab menangguhkan penerbangan penumpang dan kargo ke Iran, sementara Bahrain menutup sekolah-sekolah dan taman kanak-kanak selama dua minggu. Ini terjadi setelah negara-negara Teluk Kuwait dan Bahrain mengumumkan kasus-kasus tambahan.

Presiden Korea Selatan Moon Jae-in memperingatkan bahwa wabah itu "sangat parah" ketika angka kematian negaranya meningkat menjadi 10 dan jumlah infeksi yang dikonfirmasi mendekati 1.000 - jumlah terbesar di luar China.

"Selera risiko tampaknya tumbuh lagi di pasar," Eugen Weinberg, analis energi di Commerzbank Research, mengatakan dalam sebuah catatan Selasa (25/2/2020).

Sementara kekhawatiran risiko terkait virus terhadap permintaan masih ada, ada juga keraguan yang muncul tentang kesediaan OPEC+ untuk memperpanjang dan memperluas pengurangan produksi yang diperlukan, tambahnya.

Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya, sebuah kelompok yang dikenal sebagai OPEC+, sebagian besar telah membatasi produksi minyak dalam beberapa tahun terakhir untuk meningkatkan harga.

Pada Desember, kelompok itu setuju untuk memperdalam penurunan produksi dengan tambahan 500.000 barel per hari, sehingga total pemotongan menjadi 1,7 juta barel setiap hari. (IMC01)