Fasha-AJB Dipastikan Gagal 'Bertarung', Pilgub Jambi Tiga Pasangan

Fasha-AJB Dipastikan Gagal 'Bertarung', Pilgub Jambi Tiga Pasangan
Fasha-AJB yang dipastikan gagal untuk ikut bertarung dalam Pilkada serentak 2020. (ist)

IMCNews.ID, Jambi - Masa pendaftaran kandidat ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) dalam Pilkada serentak Desember mendatang sudah di depan mata, yakni pada 4 September 2020.

Tiga pasangan calon dipastikan akan bertarung setelah mendapatkan dukungan parpol dengan jumlah kursi lebih dari 11, khusus untuk Pilgub Jambi.

Yang dapat dipastikan tersingkir, adalah pasangan Fasha-AJB. Mereka kekurangan dukungan. Hanya mengantongi dukungan Nasdem dan PPP yang jumlahnya hanya 5 kursi jika ditambahkan.

Sementara pasangan calon lain, yakni CE-Ratu diusung Golkar-PDIP dengan jumlah 16 kursi. Kemudian FU-Syafril Nursal dengan dukungan Hanura, Demokrat, Gerindra dengan 17 kursi serta pasangan Haris-Sani yang diusung PKB, PKS, Berkarya dan PAN dengan total 18 kursi.

Terjadi juga krisis kepercayaan partai terhadap kadernya di Pilgub kali ini. Terbukti, dari banyak partai besar, hanya Golkar yang memajukan kadernya, yakni ketua DPD I Golkar Provinsi Jambi, Cek Endra.

BACA JUGA : Ini Tahapan Pendaftaran Kandidat Dalam Pilkada Serentak 2020

PDIP, Demokrat, Gerindra, PAN, dan Nasdem malah meninggalkan kadernya. PAN misalnya, tidak mengusung kadernya Ratu Munawaroh. Tetapi malah mendukung AL Haris-Abdullah Sani (kader Golkar dan PDIP).

Konsekuensinya, Haris keluar dari Golkar dan gabung ke PAN. Kemudian, PDIP juga tidak mendukung dua kadernya. Safrial dan Abdullah Sani. Tapi malah menggaet Ratu Munawaroh (kader PAN) yang berpasangan dengan Cek Endra.

Kini Ratu pun resmi bergabung dengan partai berlambang banteng moncong putih tersebut.   
Kondisi serupa juga terjadi di Demokrat. Partai berlambang Mercy ini meninggalkan kadernya Asafri Jaya Bakri (AJB) yang berpasangan dengan Syarif Fasha.

Demokrat lebih memilih menggaet jenderal polisi Irjen Syafril Nursal sebagai kader baru yang berpasangan dengan Fachrori Umar.

BACA JUGA : Sekjen Gerindra Ajak Masyarakat Jambi dan Kader Menangkan Fachrori Umar-Syafril Nursal

Drama di Demokrat ini lebih menyedihkan. Karena keputusan dilakukan di menit akhir dan menyebabkan kadernya, AJB yang berpasangan Syarif Fasha gagal maju sebelum perang.

Fasha-AJB dipastikan tidak bisa maju karena kekurangan partai pengusung. Jauh sebelumnya, Partai NasDem sudah lebih dulu meninggalkan kadernya Fachrori Umar. Partai besutan Surya Paloh ini lebih memilih memberikan dukungan kepada Fasha-AJB.

Lantaran skap partainya itu, Fachrori pun bergabung ke partai Gerindra. Awalnya, dalam rekomendasi yang beredar, partai  yang dipimpin Prabowo Subiyanto ini mendukung Fachrori dan Safrial. Belakangan, Safrial gagal ikut bertarung.

BACA JUGA : Fasha Tak Maju, Mengokohkan CE-Ratu

Sebab, Rekomendasi yang dikeluarkan Demokrat untuk Fachrori-Syafril Nursal. Gerindra kemudian juga merivisi rekomendasinya dengan mendukung Fachrori-Sayafril Nursal.

Pengamat Politik dari Universitas Jambi (Unja), Citra Darminto menilai setiap partai tentu memiliki pertimbangan tersendiri dalam menentukan kandidat. Apalagi masalah mengusung kader atau tidak.

"Namun yang pasti, partai telah melakukan kajian baik itu elektabilatas dan kans kader tersebut di mata masyarakat. Tentu dengan survei yang dilakukan oleh partai tersebut," katanya.

Menurut dia, faktor lain adalah adanya ketidak sepemahaman Parpol dengan pasangan kader internal.

"Misalkan AJB kader Demokrat, namun pasangannya Sy Fasha tidak satu visi dengan partai Demokrat. Sehingga kedua duanya tidak diusung," jelasnya.

BACA JUGA : Survei Charta 22-28 Juli, Sy Fasha dan CE Bersaing

Selain itu, lanjut Citra, faktor DPP. Komunikasi yang tidak baik antara kader dengan DPP juga menjadi batu sandungan bagi kader internal. Karna segala keputusan ada di DPP.

"Tentunya dengan tidak menyampingkam komunikasi yang baik dengan DPD/DPW juga," sebutnya.

Faktor terkahir lanjut dosen Fisipol Unja ini, komunikasi dan konstribusi kader untuk partai itu sendiri. Terkadang ada kader yang namanya saja ada di kepengurusan.

Namun orangnya tidak pernah aktif di partai. Tetapi tiba-tiba saat kader tersebut ingin mencalonkan diri, minta dukungan Partai tersebut.

"Ini secara etika politik juga tidak baik. Intinya seorang kader yang ingin maju dan ingin diusung oleh partainya, mereka harus jauh-jauh hari menjalin komunikasi yang baik dengan partai tempat dia bernaung. Istilah lain Komukasi Politiknya harus berjalan terus," katanya.

Lalu bagaimana soal finansial? Menurut Citra, untuk maju sekelas Gubernur, tentu finansial merupakan salah satu modal yang harus dimiliki. Namun jangan salah paham financial yang dimaksud bukan untuk money politik, melainkan untuk alat peraga kampanye.

"Untuk kampanye, untuk saksi di TPS, untuk transportasi dan akomodasi tim yang bergerak. Bukan untuk membayar partai seperti sebagian masyarakat pikirkan," jelasnya.

"Yang saya tau bukan finansial sang kandidat yang paling utama. Melainkan sejauh mana elektabilatas sang kandidat di kenal oleh masyarakat," sambungnya.
    
Menurut Citra, dalam mengusung kandidat partai memiliki persentase tersendiri terhadap kader. "70 persen persoalan komunikasi, dengan DPP dan DPW/DPD kurang baik. 30 persennya faktor lain seperti elektabilatas dan sebagainya," tandasnya. (IMC01)