Bunga

Bunga
ILUSTRASI.(Istimewa)

Senna Agung

Bunga,

Masih lekat benar dalam ingatan panggilanku untukmu. Seumpama namamu, ternyata begitulah kau di hatiku. Kau tetap hidup sekuat apa pun aku berusaha mematikanmu. Kau tetap mekar di sana. Bukan satu warna lagi, kau menjelma menjadi bermacam warna yang mengagumkan. Semerbak dari pagi hingga sore, bahkan malam tak luput dari wangi tubuhmu.

Bunga,

Tidakkah kau rindu pada senja-senja milik kita? Tidakkah lagi ada debar hati yang katamu luar biasa mengherankan setiap kita bertemu? Apakah kau ingin mematikan debar yang membuatmu kaki-kakimu tak berdaya ketika kita bertemu?

Malam-malam terasa lebih panjang dari sebelumnya. Bayangan-bayangan tentangmu selalu saja mengusik ingatanku tak kenal waktu. Di malam-malam yang lalu aku sering menuliskan sajak di note ponselku lalu mengirimkannya padamu. Katamu kau suka sekali setiap sajak itu. Kau tahu, sajak tidak bisa dipesan. Ia ditulis dengan hati. Jadi bila kau dituliskan sajak oleh seseorang, itu artinya kau cukup berarti di hatinya. Tak perlu kau ragukan, tentu saja!

Bunga,

Dulu kau selalu bilang bahwa kita memang berbeda, kecuali dalam menikmati hujan. Dan aku masih menebak-nebak apakah kita masih mencintai hujan yang sama?

Dengan keyakinan satu kesamaan itu, aku menunggu berpuluh-puluh malam lamanya. Setiap malam, riuh hatiku karenamu. Setiap malam!

Suatu malam pernah aku mencoba mencarimu. Maka berjalanlah aku malam itu di tengah kota yang hampir mati. Aku menyusuri gang-gang kecil yang sempit. Kiri kanan bangunan tua tersusun rapi. Tiga kelokan sebelah kiri, tepat dua puluh meter setelah taman di tengah kota terdapat kedai kopi favoritku. Dengan view taman aku selalu berhasil menemukanmu yang sedang sibuk dengan aktivitasmu setiap sore. Aku memasang arloji di tangan kiriku, agar mudah melirik waktu setiap detiknya. Dulu sekali, setelah pertemuan kita untuk pertama kalinya, kita sering menghabiskan waktu bersama. Menikmati senja dan para seniman yang sibuk melukis anak-anak kecil tengah berlarian mengejar kupu-kupu. Ingatan yang kadang membuatku tersenyum sendiri, lalu datang perih bertubi-tubi menghantam hatiku setelahnya.

Aku bertaruh pada takdir, akankah kau kembali kepadaku. Melanjutkan waktu yang katamu harusnya kita perjuangkan berdua. Atau takdir justru akan merenggutmu untuk hati yang lain?

Dan malam ini, aku menikmati kopi Gayo favoritku. Lagi, kamu hadir di antara aku dan kopi. Kemarin mungkin aku pernah memintamu kembali. Kini, jangan pernah kembali, Bunga. Agar aku tak harus menahan rindu pada jarak di antara kita. Agar aku tak merasa berdosa telah mendahului takdir dan aku kalah dalam perjudian nasib tentangmu.

Selamat atas wisudamu. Maaf aku tidak bias hadir. Kudengar kau mendapat beasiswa ke Perancis. Selamat, ya. Jaga dirimu. Aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu, perempuan pembawa senyum telaga, yang di sana aku suka sekali tenggelam pada lesung pipimu. Aku punya Tuhan yang kupercaya jauh lebih baik menjaga daripada aku. Pun dengan hatimu. Pergilah, jemput mimpi-mimpimu!

Dan tentangku, kau tak perlu khawatir, semesta mempunyai rencana yang lebih besar untukku.

*Senna Agung, menulis cerpen, puisi, essay dan prosa-prosa pendek. Adalah orang ganteng biasa penyuka kucing, senja juga hujan. Sedang menempuh pendidikan di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jambi. Senang menyapa lewat kata-kata. Salam manis. Sampai jumpa di dunia nyata!