Buka-Bukaan Sri Mulyani Soal Utang Luar Negeri

Buka-Bukaan Sri Mulyani Soal Utang Luar Negeri
Menteri Keuangan, Sri Mulyani. (ist)

IMCNews.ID, Jakarta - Menteri Keuangan, Sri Mulyani buka-bukaan soal Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia yang terus meningkat. Meski dia membantah jika utang pemerintah didominasi ULN. 

Untuk diketahui, sampai pada akhir Agustus 2020, Bank Indonesia (BI) mencatat ULN Indonesia sebesar US$ 413,4 miliar atau sekira Rp 6.101,8 triliun dengan kurs saat ini. 

Jumlah itu naik 5,7 persen dibandingkan posisi periode yang sama tahun sebelumnya (year on year/yoy). Pertumbuhannya lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan Juli 2020 yang sebesar 4,2 persen yoy.

Rasio ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada akhir Agustus 2020 sebesar 38,5 persen atau masih relatif stabil bila dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang sebesar 38,2 persen. 

"Bahwa mayoritas utang kita berasal dari luar negeri, itu tidak benar. Mayoritas utang kita sekarang ada di dalam negeri, bahwa asing memegang porsi 30 persen itu betul. Bahkan sekarang turun," jelasnya. 

BACA JUGA : Tiga Perusahaan Raksasa Batu Bara Indonesia Bakal Garap Proyek Gasifikasi

Adapun posisi utang pemerintah per akhir September 2020, berdasarkan dari data Kementerian Keuangan sebesar Rp 5.756,87 triliun.

Utang pemerintah pada September 2020 tersebut, meningkat 22,5 persen jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat sebesar Rp 4.700,28 triliun. 

Sedangkan dibandingkan dengan posisi utang Agustus 2020, terjadi kenaikan 2,9 persen, yang sebesar Rp 5.594,93 triliun.

BACA JUGA : Konsumsi Batu Bara dan Pengembangannya ke Depan

Dalam buku APBN KiTa edisi Oktober 2020, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat, utang pemerintah ini masih didominasi oleh Surat Berharga Negara (SBN) sebesar 85 persen dan pinjaman 15 persen. 

Secara rinci, utang dari SBN tercatat sebesar Rp 4.892,57 triliun yang terdiri dari SBN Domestik Rp 3.629,04 triliun dan SBN Valas Rp 1.263,54 triliun.

Sedangkan utang melalui pinjaman tercatat Rp 864,29 triliun yang terdiri dari pinjaman dalam negeri Rp 11,32 triliun dan pinjaman luar negeri Rp 852,97 triliun.

Untuk pinjaman luar negeri terdiri dari pinjaman bilateral Rp 318,18 triliun, multilateral Rp 489,97 triliun dan commercial bank Rp 44,82 triliun. (IMC01) 

Sumber: CNBC Indonesia