Tradisi Makan Kelung di Desa Mendahara Ilir Tanjung Jabung Timur

Tradisi Makan Kelung di Desa Mendahara Ilir Tanjung Jabung Timur
ILUSTRASI.(Istimewa)

Novita Sari

Provinsi Jambi merupakan salah satu provinsi yang terletak di pulau Sumatera. Memiliki luas sekitar 19.382 mil dan berbatasan dengan beberapa provinsi seperti Sumatera Selatan, Sumatera Barat, dan lain-lain. Provinsi Jambi memiliki keunikan serta ciri khas dengan segala pluralitas yang ada dalam segala sisi, baik dari segi agama (keyakinan), bahasa, seni, budaya maupun tradisi. Perbedaan mencolok dapat dilihat secara langsung maupun tidak langsung yang dibatasi oleh batas teritorial tertentu.

           Salah satu bentuk tradisi yang ada, namun jarang didengar oleh masyarakat Jambi terdapat di Mendahara Ilir tepatnya di RT 24. Tradisi tersebut ”makan kelung”. Dengan  kondisi masyarakat yang bersahaja walaupun dengan keadaan suku yang berbeda (Melayu Timur, Bugis dll) namun dapat hidup bersama dengan rukun, meskipun keadaan lingkungannya berbeda dengan masyarakat pada umumnya. Di mana kehidupan masyarakat yang berhadapan langsung dengan laut membuat kehidupan masyarakat di sana menjadi lebih unik.

           Ketika penulis melakukan kegiatan kuliah lapangan pada mata kuliah Morfologi, antusias masyarakat sangat tinggi, kami diberi keleluasaan untuk bersilaturrahmi dan bertanya mengenai Desa Mendahara Ilir secara langsung. Banyak sekali informasi yang didapat mulai dari sejarah berdirinya desa, indentifikasi bahasa, sampai tradisi yang ada di daerah itu yang akan penulis deskripsikan sebagai liputan perjalanan.

Sejarah Daerah Mendahara

            Mendahara yang sekarang kita kenal sekarang ini, dulunya bernama “bendahara” karena keadaan alam yang melimpah ruah. Masyarakat yang tinggal tidak perlu bersusah payah untuk bekerja karena lautnya telah menyediakan segala kebutuhan pangan yang dibutuhkan. Suku yang ada dan mendominasi yaitu suku Melayu Timur dan Bugis. Jika kita perhatikan dengan seksama setiap sukunya memiliki batas tempat, namun sekarang ini juga banya suku yang bercampur yang salah satunya disebabkan oleh pernikahan.

Identifikasi Bahasa

            Bahasa yang terdapat di  Desa Mendahara Ilir adalah bahasa yang berasal dari Melayu Timur. Jika kita perhatikan dengan seksama banyak dialek yang menggunakan huruf ”e” sebagai kombinasi bahasa yang ada. Contohnya dalam kata “kemane”yang dalam bahasa Indonesianya adalah kemana. Menurut salah satu informan, bahasa Mendahara yang dahulu agak berbeda dengan bahasa yang digunakan sekaran, hal itu dikarenakan masyarakat telah terpengaruh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Para penutur yang terdahulu telah banyak yang meninggal sedangkan para penutur yang ada sekarang apalagi anak mudanya banyak yang sekolah ke luar daerah, sehingga terpengaruh dengan bahasa nasional atau bahasa daerah sekitar.

Tradisi Daerah

            Salah satu tradisi Desa Mendahara Ilir yang menarik perhatian namun jarang terdengar di masyarakat umum adalah tradisi “makan kelung”, meski dalam beberapa tahun belakangan kegiatan ini sudah jarang dilakukan karena masyarakat yang telah mengenal agama dan tidak percaya akan hal-hal mistis lagi serta proses yang menghabiskan banyak uang. Kelung di sini diartikan sebagai roti yang berbentuk buaya yang dibuat sendiri untuk diserahkan kepada roh halus yang telah meniupkan penyakit tersebut dengan cara dimakan.

            Terkait tradisi ini, penulis sempat mewawancarai seorang informan bernama Nek Noni, beliau merupakan orang asli keturunan Mendahara yang telah lahir dan besar di tempat ini dan termasuk orang yang pernah melakukan tradisi tersebut. Tradisi “makan kelung” dilakukan apabila ada keluarga yang mengidap penyakit aneh, berupa bengkakan di sekujur tubuh yang sulit sembuh dengan obat-obatan apapun. Dalam hal ini masyarakat Mendahara asli akan menyadari bahwa ini adalah pertanda bahwa harus diadakan tradisi “makan kelung”. Tidak semua orang paham dan mengerti proses tradisi ini, ada dukun khusus yang mengarahkan proses pembuatan sesajen maupun proses “makan kelung” tersebut.

             Proses makan kelung diawali dengan penyiapan sesajen yang dilakukan oleh orang-orang tertentu yakni ibu-ibu yang tidak lagi terkena haid, karena menurut penuturan informan proses pembuatan harus dilakukan dengan bersih dan suci, selanjutnya setelah itu dukun kampung akan memilih waktu yang tepat di mana seorang yang terkena penyakit diletakkan dalam sebuah kamar yang telah diatur sedemikian rupa untuk melakukan proses itu sendiri.

            Tradisi makan kelung ini merupakan representasi dari kepercayaan masyarakat Mendahara ilir yang dahulunya menganut kepercayaan animisme dan dinamisme, hal ini merupakan kebudayaan terdahulu yang masih dipercayai penduduk hingga kini.