Tentang menemukan pertemuan

Tentang menemukan pertemuan
ILUSTRASI.(Istimewa)

Mimpi itu harus besar, katanya. Mimpi yang besar akan menghadirkan tindakan yang besar pula. Aku bermimpi segera menemukanmu, seperti Ali menemukan Fatimah.

            Demikianlah, tak ada kalimat yang sempurna, Raa!!

            Salah satu diantara kita, barangkali aku, atau kamu, akan mengetahui kapan pertemuan-pertemuan manis kita akan datang. Tapi waktu selalu menjelma gumpalan misteri yang menantang untuk dijelajahi, bukan? Kita semacam membuat perjanjian dengan hati kita sendiri untuk menjadi seorang petualang yang tangguh. Tentu saja!!

            Aku ingin berterima kasih padamu, Raa. Terima kasih telah menjadi bagian dalam cerita hidupku. Meski tak selamanya bahagia. Terima kasih telah membuatku yakin dalam perjalanan menujumu.

            Kemudian aku juga ingin meminta maaf. Maaf untuk segala hal yang telah kulakukan, jauh sebelum aku mengenalmu, barangkali. Maaf karena perihal mencintaimu aku selalu berlebihan.

            Raa, menurutmu kenapa Tuhan menciptakan kesedihan dan memberikannya kepada manusia? Barangkali Tuhan ingin kita mencapai titik tertinggi dari kebahagiaan kita. Meski kita selalu gagal mencapai titik tersebut, tapi pada kenyataannya Tuhan selalu memberikan titik terang di ujung ruang paling gelap sekalipun, bukan? Dalam takdir yang memberikan semacam ‘perjuangan’ kepada sepasang manusia yang saling menelan racun bernama ‘kerinduan’, mengapa hidup seringkali tidak berpihak kepada kita? Berbicara perihal ‘racun’, kita selalu dengan senang hati meneguknya berkali-kali lantas menikmatinya, bukan? ‘Racun’ yang perlahan membuat keyakinan kita luluh lantak. Anehnya, kita selalu menolak berhenti dari ‘racun’ yang kita namai kerinduan itu. Tentu saja!

            Raa, setiap manusia selalu membutuhkan perjalanan untuk menemukan belahan hatinya. Semacam perjalanan panjang yang kita tidak tahu kapan kita akan mencapai garis finish. Dan dari kejauhan, aku mencintai keseluruhan darimu, ternyata.

            Aku mencintai seluruh kelebihan dan kekuranganmu dengan sempurna. Tetu saja!

            Kelak, kita akan membangun impian-impian sederhana kita. Tanpa hiruk pikuk, tanpa hingar bingar. Menumpahkan seluruh kerinduan yang telah lama kita pelihara dengan baik.

            Kemudian aku akan membawaku ke batas cakrawala. Di atas bangunan panjang ini, aku ingin menatapmu dalam-dalam ketika semilir angin senja membelai lembut wajahmu, hingga membuat ujung jilbabmu melayang-layang tertiup angin. Matamu kecoklatan diterpa sinar matahari yang hampir terbenam.

            Di sungai inilah, kita akan hanyutkan seluruh kesedihan dan kesakitan, Raa!!

            Bersamamu, perjalanan pasti akan terasa mengasyikan; seperti kapan pun itu.

            Jika saat itu tiba, barangkali percakapan-percakapan kita akan sederhana saja:

            "Ngomong-ngomong, kenapa sih kamu belum mau memberitahu siapa nama anak kita nanti?" tanyamu.

            Aku diam beberapa saat, angin membelai ujung jilbabmu lebih mesra. Lantas kugenggam tanganmu, kau mempererat genggaman tanganku; melenyapkan jarak diantara jari-jari kita.

            "Tenang saja, aku sudah mempunyai nama untuk bayi perempuan kita," jawabku.

            "Siapa?" tanyamu penasaran.

            "Araa," bisikku.

            "Heyy, itukan namaku..!!" katamu sambil mencubit perutku.

            :Aku meringis, pura-pura menahan sakit.

            Demikianlah, Raa. Aku mencintaimu seperti harapan-harapan yang berakhir pada doa-doa seusai salatku. Aku sudah melupakannya. Biarlah ia bekerja dengan baik dalam perjalananku menuju pertemuan kita.

            :Aku, yang menanti dengan dengan cemas pertemuan kita.

 

Senna Agung G. Menulis puisi, cerpen dan prosa-prosa pendek. Hal-hal sederhana dirayakannya setiap hari. Penyuka kucing, senja juga hujan. Saat ini sedang menempuh pendidikan di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jambi. Sampai jumpa di dunia nyata!!