Solitude: Hitam dan Abu

Solitude: Hitam dan Abu

*) Oleh Syamsul Bahri

Kemarilah daraku, kau tau caraku untuk membuat silsilah luka
Melera segala peristiwa perihal kau dialam baka
Pusaramu selalu saja menangis
Menanti datangnya purnama sempurna
Terpelanting jauh kata-kata dalam makna
Menanggung jiwa-jiwa bertaji
Kurasuki kata sebagai tandaaku cinta padanya

Menggeser awan dari kerumunan burung camar hilang ditelan
Padang ilalang
Mengembara di jelaga para penista
Bunga kamboja semerbak wangi
Menelisik waktu menjemput shubuh
Secuil api meranggas segala yang pantas
Ribang dikala senja tak lagi melahap derita
Laju waktu tergelapar diatas tanah tak bernafas

Doa-doa mewangi serupa pelangi
Tak berwarna dan nirwana sirna
Barangkali warnannya telah luntur
Oleh wabah tumpah yang terulur dari langit
Adalah kau, tersulut dikerumunan para penyair
Matamu seperti pintu-pintu masa lalu
Selalu mengajakku pulang
Dikala renjana menabuh dada sang pencinta

Dosa telah mengenalku
Semesnjak kita berpisah
Dan jalan berkelok-berliku
Kau mewariskan ingatan-ingatan
Sebelumku lumurkan warna hitam dan abu-abu (*)