Artikel

Sidang Skripsi Mahasiswa UNJA Tempoe Doloe

Mar 4, 2017 06:32
ILUSTRASI. Pusingnya ketika masa-masa menyelesaikan skripsi. (rebotak.devianart.com)
ILUSTRASI. Pusingnya ketika masa-masa menyelesaikan skripsi. (rebotak.devianart.com)

Di tanggal muda yang tetap berasa tanggal tua ini, hidup saya benar-benar diliputi kesuraman. Rasanya seperti akan terjadi gerhana matahari total di raga saya. Kalau kata pepatah; hidup segan, mati ditolak tanah. FYI ini tak ada sangkut pautnya dengan masalah asmara. Serius deh, hubungan saya dengan Nicholas Saputra baik-baik saja kok ya Jadi? Adalah skripsi yang mengubah jalannya waktu, karenanya waktu terbagi dua (Kata Rangga versi mahasiswa veteran).

            Melewati sidang skripsi adalah kebahagiaan paling paripurna bagi mahasiswa. Selain dosen killer tidak masuk kuliah, libur kuliah karena kabut asap. Tapi kebahagiaan itu tidak berlaku bagi saya, kenapa? Karena bukan saya yang sidang skripsi. Kalian ngertilah gimana kondisi psikis saya saat ini. Skripsi jablae, teman sudah horee horee. Ihh sudah jomblo, skripsinya nggak selesai-selesai lagi,”.

            Untungnya saya tidak sendirian menggalau di Kampus Pinang Masak ini. Masih menumpuk mahasiswa-mahasiwa beralur cerita “DO tak mau, lulus tak mampu”. Eh selain kami (Pejuang skripsi), beberapa dosen juga tidak terlalu senang dengan sidang skripsi.

Ketidaksenangan itu terletak di  selebrasi mahasiswa setelah sidang, yang katanya lebih “waw” daripada selebrasinya Cris John pas ngegolin (?). Nah biar nggak ada janda dusta di antara kita, saya kasih sedikit ilustrasi percakapan saya dengan Pak Dosen yang namanya sengaja dirahasiakan, untuk alasan keamanan. Anak jaman sekarang lebay-lebay kalau sidang, pakek bawa bunga, balon, kue, macam orang ulang tahun be,”

“Lah emangnya salah Pak?”

“Ya dak sih, cuma sio-sio be. Perayaannya terlalu berlebihan. Perjuangan kalian belum selesai loh. Habis tamat malah jauh lebih sulit,”

“Ya sudah besok kalau saya sidang, temen-temen saya tak suruh bawa Nicholas Saputra saja. Sesulit apapun hidup setelah kuliah, bakalan terasa indah jika dilalui bersamanya. Eh emangnya kalau sidang pas jaman Bapak dulu gimana sih?”

“Kau nak tau? Baco be lah tulisan di bawah ini, biar tau apo-apo be kenangan indah sekaligus menegangkan saat sidang skripsi Mahasiswa UNJA yang belum terkontaminasi Yanglek dan Awkarin

 

Rambo Masuk Kampus

Rambo yang saya maksud di sini bukan Rambo, ayamnya Tuk Dalang loh ya, tapi Rambo si tentara ganteng idaman, nakal tapi tamvan. Lalu apa hubungannya Rambo dengan sidang skripsi?

Jadi begini, usut punya usut dulu di Fakultas Hukum setiap akan ada mahasiswa yang sidang, bisa dipastikan bakalan ada kekacauan yang terjadi. Beberapa mahasiswa ada yang membawa senjata, sebagai upaya perlawanan akan kebijakan kampus yang menjengkelkan bagi mereka.

Mungkin saking stresnya ngurus skripsi, hingga seperti Rambo

Kaca-kaca di gedung FH menjadi saksi, betapa kampretnya si Rambo KW9 itu. Ntah berapa kali FH melakukan pergantian kaca pada masa itu.

Makanya jangan sering nonton film perang-perangan, jadi terangsang kan. Yo nian berlagak jagoan, padahal makan nasi anget aja masih ditiup. Saya sarankan daripada nonton film Hollywood, lebih baik nonton ftv naga-naga’an di Indosiar saja, cintai ploduk-ploduk Indonesia.

Dosen Rasa Presiden

Di beberapa fakultas, dulu setiap akan menyidang mahasiswa dosen selalu ditemani dengan aparat. Ya bisa dibilang pasukan pengaman dosen gitu (Emangnya cuma Pak Jokowi aja yang bisa punya pasukan pengaman). Karena banyak hal yang tak terduga akan terjadi sebelum, saat, dan setelah sidang selesai, maka keselamatan dosen penguji benar-benar diutamakan.

Namanya juga nyidang spesies darah muda berwujud mahasiswa, yang selalu merasa gagah tak pernah mau mengalah. Yang berapi-api, yang maunya menang sendiri walau salah tak peduli.       

Sendiran Aja Nih

Tidak seperti sidang jaman sekarang, yang penunggunya rame seperti suporter bola. Jaman dulu kalau sidang biasanya tidak ada yang menunggu. Duhh jonesnya. Kalaupun ada yang menunggu tidak seheboh sekarang, dulu paling hanya 2-3 orang. Kekasih (kalau ada), dan sahabat karib.

Habis Sidang, Terbitlah Makan-Makan

Keluar ruang sidang. Buka kemeja putih (minjem punya teman). Lalu langsung ke kantin. Tidak berpose-pose dulu kayak sekarang. Wajar sih, jaman dulu hape apel kegigit kan belum ada, yang ada paling banter Nokia ganjal mobil, dan tentu saja tidak ada aplikasi camera 360.

Makan-makan bersama teman adalah wujud rasa syukur, telah berakhirnya derita sebagai mahasiswa dan resmi menjadi sarjana muda resah mencari kerja. Dulu sih jarang pakai sistem traktir, alias biaya makan tidak dibebankan kepada si sarjana muda ini, melainkan dari hasil ceka-ceka teman-teman yang lain. Asli yang ini saya salut.    

Nyebur ke Danau UNJA

Kisah tak masuk akal ini, dituturkan oleh mahasiswa Pertanian UNJA yang sudah alumni. Di mana setiap selesai sidang skripsi, telah dinyatakan sah sebagai sarjana, beberapa mahasiswa langsung terjun indah ke Danau UNJA dengan gaya. Mungkin karena pas Ospek pernah mijet plus plus dan ngecipok bus KPN UNJA kali ya, jadi pas selesai sidang rasanya lega. Tapi tidak semua mahasiwa Pertanian yang bertingkah sesinting sekeren ini. Mahasiswa yang memiliki akal sehat pasti tidak akan melakukannya.

Aduhh nggak tahu kenapa kisah-kisah anak Pertanian kok menarik banget di mata saya ya? Apa karena saya sering pernah mencuri kacang panjang dan buah coklat di ladang anak Pertanian.

Bunga Tak Sampai

Wujud selamat tidak melulu dengan mawar merah, kata mahasiswa jaman itu. Ya begitulah, kalau ada temen sidang paling banter ngasih bunga tai ayam warna kuning, yang harumnya bikin bidadari lupa diri. Eh ngomong-ngomong saya penasaran kenapa tidak ada produk yang menjadikan bunga tai ayam sebagai ekstra atau rasanya. Sabun ekstra mawar merah, ada. Teh rasa melati, ada. Tapi kenapa parfum rasa bunga tai ayam tidak ada? Ahh penistaan bunga tai ayam ini namanya.

Tidak Update Status di Media Sosial

Untuk poin terakhir ini ya wajar aja sih. Facebook, Instagram, Twitter masih mengembara. Kebetulan jaman itu pendiri Facebook, si Mark Zuck masih jadi buruh pemetik teh di Kayu Aro. Jadi mau update status di mana?

Bahagianya ketika skripsi kelar. (unyunyu.com)

Alumni mana suaranya? Jadi pengen disidang lagi kah? Eh silakan ditulis pengalaman sidang kalian yang manis sekaligus bikin perut mules. Seperti jadwal ditunda, skripsi belum dijilid, atau udah siap semangat 45 buat sidang skripsi eh baru sadar kalau ternyata masih semester dua. Ya begitulah, semua masa ada cara sidangnya, semua cara sidang ada masanya. Dulu begitu, sekarang begini, besok tidak tahu. Mungkin kelak jaman anak saya dan Nicholas Saputra, cara sidangnya hanya tinggal kenangan, alias sistem skripsi sudah diganti dengan sistem Ujian Nasional oleh Pak Menteri. 

Eh sedikit ngelempar kode sembunyi hati nih, mumpung saya belum sidang jadi buat penggemar­-penggemar saya di dunia nyata maupun alam ghaib. Please jangan ngasih bunga, selempang, cokelat, dan boneka ketika saya sidang. Cukup gantikan itu semua dengan daftar lowongan pekerjaan, rumah siap huni di Citra Raya City, atau pendamping wisuda saja. Dan terakhir, saya mohon doanya dari pembaca sekalian agar saya segera disidang. Sidang skripsi loh ya. Bukan sidang di rumah Pak RT karena habis ketangkap berduaan main gelap-gelapan. Ingat jangan suka main gelap-gelap’n, Nenek bilang itu bahaya, berbahaya.