Hiburan

Seberkas Warna di Tengah Puing-Puing Monokrom

Jul 14, 2019 02:13
Seorang pengungsi korban kebakaran Tebet melewati tembok mural di RW 07 Kampung Bali Matraman, Kelurahan Manggarai, Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan, Sabtu (13/7/2019). (ist)
Seorang pengungsi korban kebakaran Tebet melewati tembok mural di RW 07 Kampung Bali Matraman, Kelurahan Manggarai, Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan, Sabtu (13/7/2019). (ist)

IMCNews.ID, Jakarta - Jalan kecil yang hanya bisa dilewati satu motor bebek pada siang itu, terlihat ramai dengan lalu-lalang anak-anak kecil yang bermain. Jika jalan sedikit ke depan, pemandangan itu nampak kontras dengan aktivitas petugas berseragam jingga yang tengah mengangkut barang-barang gosong sisa terbakar.

Tempat para petugas dan warga memungut barang-barang yang sudah tidak dapat dipakai itupun memiliki dominasi warna yang sama; monokromhitam dan putih. Hitam, warna hal-hal yang telah gosong dan putih, warna dari abu dan beberapa tembok yang sudah jebol.

Jalan setapak yang menghubungkan rumah demi rumah itu semakin sulit untuk dilewati warga dan petugas kebersihan, lantaran tertutup oleh puluhan karung berisikan sisa dan puing bekas kebakaran yang melahap enam RT di RW 07 Kampung Bali Matraman, Kelurahan Manggarai, Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan, pada Rabu (10/7) lalu.

"Dulu rumah di sini warna-warni, sekarang sudah seperti ini, hilang," ujar seorang warga yang meninjau lokasi kebakaran, Sapto, sembari sesekali mengusap peluh yang membasahi keningnya.

Ia lalu bercerita bagaimana beberapa rumah di sana sempat dihias dengan berbagai corak, lukisan dan mural beraneka warna oleh sekumpulan anak muda di kampung tersebut, untuk menyalurkan ekspresinya ke dalam bentuk seni rupa.

Kisah itu lalu mengantarkan langkahnya menuju salah satu posko dapur umum yang letaknya tak jauh dari lokasi kebakaran hebat tersebut. Tepat di depan posko itu, sebuah tembok bercorak berdiri kokoh dan menjadi kontras dari sisa-sisa puing di belakangnya.

"Ini salah satu mural yang tidak kena api waktu itu," ujar Acang, seorang korban dan penggagas komunitas mural di RW 07 Kampung Bali Matraman, Kelurahan Manggarai, Jakarta Selatan itu.

Tembok yang didominasi warna merah dan simbol-simbol keragaman budaya Indonesia itu merupakan satu dari banyak coretan Acang dan kawan-kawannya. Itu dilakukannya untuk menjadikan kediaman mereka sebuah ikon kampung di ibu kota.

Kopi pekat di hadapannya sesekali Acang minum sembari bercerita mengenai kampung, mural dan peristiwa kebakaran tempo hari.

Melukis batik 

Acang memiliki gagasan untuk membuat mural di kampungnya sekitar tahun 2016 lalu. Dengan latar belakangnya sebagai seorang pelukis yang akrab dengan rona dan corak, ia kemudian tergerak untuk memperindah kampung padat penduduk dan dikenal kumuh pada tahun tersebut.

"Awalnya didasari rasa bosan, lihat kampung kenapa suram banget. Terus saya kepikiran, kenapa enggak dilukis saja, biar lebih indah," kenangnya.

Membutuhkan waktu yang tidak singkat bagi Acang untuk memulai ide melukis lukisan corak batik di tembok-tembok kampungnya menjadi kenyataan. Dimulai dari mengajak seorang remaja di kampung, lalu bertambah lagi dan lagi seiring dia mengajari anak-anak muda di sana menggambar dan melukis.

Antusiasme remaja dan anak-anak pun turut mendukung gagasan Acang membuat kampung batik sedikit demi sedikit terealisasi. Generasi muda di kampungnya sangat kompak untuk membantu satu sama lain guna memperindah kampung dengan berbagai motif batik seperti Mega Mendung, Parang Kusumo, Gunungan dan lain sebagainya.

Ia merasa senang idenya bisa mendapat banyak dukungan dari berbagai kalangan. Dimulai dari anak-anak, remaja, warga setempat, hingga dari pihak kelurahan dan pemerintah.

Pihak kelurahan memberikan dukungan penuh terkait dengan kegiatan mural batik di RW 07 ini. Pembuatan mural sekaligus melaksanakan instruksi gubernur untuk menata kampung kumuh menjadi lebih berwarna dan indah.

Setelah memakan satu gigitan bakwan goreng, Acang mengatakan bahwa rasa senangnya tak hanya semata-mata melihat aneka corak berwarna di sekitarnya, melainkan karena ia merasa ilmu yang ia miliki dapat diwariskan ke generasi di bawahnya.

"Saya sudah tidak muda lagi. Dengan membagi ilmu saya, lalu melihat anak-anak mengaplikasikan jiwa seninya, itu yang membuat saya sangat bangga melihat mural-mural ini," ujar dia.

Sisa warna

Pandangan Acang lalu tertuju pada tumpukan baju sumbangan di hadapan tembok merah itu serta gang kecil di balik tembok tersebut. Tatapannya terlihat sayu, walau seutas senyum masih hadir di wajahnya. 

Kebakaran hebat yang menghabiskan rumah-rumah di enam RT, RW 07, Kelurahan Manggarai tersebut turut menghilangkan corak-corak batik aneka warna yang pernah menghiasi tembok-tembok pemukiman warga.

Warna-warni itu seketika hilang dan tidak bisa diselamatkan. Sejauh mata memandang, hanya terdapat beberapa mural yang masih ada dan tidak terkena dampak dari peristiwa itu. "Ya pasti. Sedih itu pasti. Itu karya kami untuk kampung, bahkan untuk Jakarta sendiri. Beban moril (moral)nya berat sekali," kata dia.

Entah sudah berapa banyak peluh, materi, dan waktu yang ia dan komunitas muralnya habiskan untuk melukis kampung yang dulunya kumuh tersebut. Kenangan indah dan ekspresi penuh warna yang ia dan kawan-kawan melalui mural itu baginya tidak akan hilang walaupun banyak yang sudah tak dapat dilihat lagi.

Walau sedih, dia dan teman-teman enggak mau berlarut-larut. "Jadi kami buka posko (dapur umum) ini, untuk membantu warga," katanya.  Di depan mural juga ada baju sumbangan. "Posisinya pas karena ini jalan utama juga, kami bisa membantu," kata dia.

Meski demikian, Acang optimistis bahwa ia, komunitas mural dan juga warga korban kebakaran Tebet ini segera bangkit dan mengindahkan kampung mereka kembali--mengubah kepingan dan puing monokrom itu menjadi corak batik warna-warni. Ketika semuanya sudah beres dan menerima, kami akan melukis lagi. "Itu pasti," kata dia lalu meneguk sisa terakhir kopi hitamnya. (IMC02/ant)