Potensi Wisata Baru di Kerinci, Pesona Grao Sikai di Kaki Gunung Kunyit

Potensi Wisata Baru di Kerinci, Pesona Grao Sikai di Kaki Gunung Kunyit
Lokasi sumber air panas di kaki gunung kunyit. (ist)

IMCNews.ID, Kerinci - Sebuah potensi wisata baru ditemukan di daerah hutan di Talang Kemuning, Kecamatan Bukit Kerman, Kabupaten Kerinci. Sumber air panas ditemukan di lokasi itu.

Masih alami, lokasi sumber air panas yang berasa di kaki gunung kunyit, Kerinci itu sudah dikunjungi beberapa wisatawan lokal dan juga pegiat pariwisata di Kerinci. Warga lokal menyebut lokasi itu dengan sebutan Grao Sikai.

"Lokasinya berada di sebuah lembah kaki Gunung Kunyit yang dalam wilayah Hutan Talang Kemuning. Ini juga Salah satu Objek wisata pendukung untuk Desa Wisata Lempur," kata Dzacky, penggiat Pariwisata Kerinci, Selasa (02/06/2020) kemarin.

Menurutnya, sumber air panas itu sudah lama ditemukan. Namun memang tak terlalu terekspos. Oleh karena itu, masih banyak masyarakat yang belum mengetahui keberadaan sumber air panas tersebut.

BACA JUGA : Relaksasi Ekonomi, Pelonggaran Untuk Pelaku Usaha di Kota Jambi, Begini Ketentuannya

"Sekarang kami coba untuk mempromosikan kembali melalu beberapa jenis media dan ini akan menjadi distinasi alam terbaru untuk wisata Kerinci,"ujarnya.

Dia menerangkan, Air Panas Grao Sikai itu tidak jauh berbeda dengan Air Panas Grao Sakti di desa Renah Kemumu, Kecamatan Jangkat, Kabupaten Merangin.

"Jika perbedaan sih tak terlalu jauh beda. Tapi kalau grak sikai ini akses menuju kesana harus berjalan kaki sekitar 1,5 jam dari Talang Kemuning," ungkapnya.

Disampaikannya juga, yang membuat Grao Sikai ini menarik, tak jauh dari lokasinya ada air terjun bertingkat 5. Kata dia, salah satu air terjun tingginya 50 sampai 60 meter dan diberi nama Air Terjun Lembah Dewa.

Nama itu diberikan karena keberadaannya berada di lembah kaki gunung kunyit yang terkenal dengan Taman Dewa.

"Air Terjun ini sangat cocok bagi mereka yang suka berpetualangan di alam liar, karena jalan menuju kesana sangat menantang dan ekstrem," pungkasnya. (IMC01)