Percik Modernitas di Indonesia: Era Digital Sumbang Sifat Konsumtif Masyarakat

Percik Modernitas di Indonesia: Era Digital Sumbang Sifat Konsumtif Masyarakat
ILUSTRASI.(Istimewa)

Rizki Permata Sari

Pada zaman millenial sekarang ini, kebutuhan manusia semakin lama semakin kompleks. Jika zaman dahulu, kebutuhan primer masyarakat adalah; sandang, pangan dan papan. Di era modern sekarang ini kebutuhan primer masyarakat bertambah yaitu “colokan” dan kuota atau wi-fi.

Hal itu dikarenakan, saat ini manusia cenderung memenuhi segala kebutuhannya melalui smartphone. Baik itu dalam pemenuhan kebutuhan makan ataupun sandang bahkan pembelian buku. Transfer uang juga sudah dapat dilakukan melalui telepon genggam.

Jadi tidak heran jika kita membuka sosial media, seperti masuk ke dalam bazar baju, bazar makanan, ataupun bazar buku. Hampir semua kebutuhan kita tersedia di dalam genggaman.

Selain dalam pengadaan barang, dalam penyediaan jasa juga tidak kalah mudahnya. Di mana untuk berpergian kita sudah dapat menghubungi ojek online ataupun mobil online, sehingga kita tidak perlu menunggu dan berpanas-panasan dalam penggunaan jasa tersebut.

Menurut Wikipedia Bahasa Indonesia, belanja online merupakan kegiatan pembelian barang dan jasa melalui media internet. Melalui belanja lewat internet seorang pembeli bisa melihat terlebih dahulu barang dan jasa yang hendak ia belanjakan melalui web yang dipromosikan oleh penjual.

Gidens seorang Sosiolog kontemporer yang lahir pada 18 Januari 1938 di Inggris. Menjelaskan tentang tiga karakteristik modernitas, yang pertama adalah pemisahan ruang dan waktu, kedua pemisahan yaitu dalam bentuk alat tukar simbolis (symbolic token) dan pemisahan sitem ahli (expert system) dan yang ketiga adalah refleksivitas.

Teori modernitas tersebut terjadi pada saat ini. Pada zaman dahulu misalnya, untuk memenuhi kebutuhannya orang harus pergi ke pasar atau ke toko untuk membeli kebutuhannya. Kehadiran fisik sangat mempengaruhi proses jual beli barang atau jasa.

Proses pembayaran belum menggunakan alat tukar simbolis, karena pada zaman dulu belum mengenal adanya debit ataupun kredit. Pada zaman dahulu orang menggunakan sistem barter,  yaitu pertukaran barang dengan barang lalu kemudian beralih menggunakan uang.

Kehadiran internet dan telepon genggam membuat segala macam pemenuhan kebutuhan dapat dilakukan secara online. Oleh karenanya pembeli tidak harus repot-repot pergi ke toko, pembeli hanya tinggal memesan barang yang diinginkan.

Komunikasi yang demikian merupakan bagian dari perubahan sosial dari yang konvensional ke era yang modern. Di mana dalam kegiatan ini sudah adanya pemisahan antara ruang dan waktu karena dalam kegiatan belanja online tidak mengharuskan adanya kehadiran fisik dalam ruang dan waktu tertentu dan dalam pembayaran dapat ditransfer.

Namun dengan adanya moderenitas tersebut, Baudrillard mengatakan bahwa realitas masyarakat modern sebagai masyarakat konsumsi. Masyarakat konsumsi tidak hanya mengonsumsi nilai guna barang yang dibelinya, namun manusia  modern lebih tertarik untuk membeli makna, simbol, atau tanda yang melekat dalam barang yang dibelinya.

Setiap simbol menginisiasi status seseorang. Jika kita amati perilaku sosial masyarakat, dengan adanya kemudahan-kemudahan untuk memperoleh barang dan jasa, kemudian membuat masyarakat cenderung konsumtif. Di mana masyarakat menjadi merasa dimanjakan dan tertarik dengan apa yang mereka lihat.

Tren-tren busana ataupun makanan yang hits menjadikan masyarakat latah dengan apa yang viral dalam media sosial. Masyarakat menjadi memperhatikan merek suatu produk.

Belanja bukan lagi hanya soal nilai pemenuhan kebutuhan, melainkan untuk menunjukan mereka di status sosial yang mana, yang dapat  menunjukan bahwa dirinya kekinian atau tidak dengan mengikuti apa yang sedang viral di media sosial.

Sehingga makan juga bukan hanya sekedar menghilangkan rasa lapar tetapi juga untuk menunjukan kelas sosialnya.