Pendidikan Berkarakter: Sudah Berkarakterkah Guru Kita

Pendidikan Berkarakter: Sudah Berkarakterkah Guru Kita
ILUSTRASI.(Istimewa)

Dunia pendidikan di Indonesia pada awalnya dimaksudkan untuk mendidik benih manusia agar anak manusia tumbuh menjadi seorang yang berakhlak tinggi dan mulia, yang berbeda dengan manusia purba. Investasi manusia di sini berarti memanusiakan manusia, yaitu mengajarkan nilai kehidupan kepada seorang anak manusia, yang diibaratkan benih manusia. Misi utama lembaga pendidikan adalah mengajarkan budi pekerti, etika, saling mengalah dan mendahulukan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi. Hal ini diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam keluarga maupun dalam masyarakat. Setelah itu institusi dan tenaga pendidik baru akan mengajarkan keterampilan yang membuat benih manusia itu mampu menyokong hidupnya sendiri di masa depan.

            Menurut Doni Kusmana (2007:80) bahwa pendidikan karakter bukan hal baru dalam tradisi pendidikan di Indonesia. Beberapa pendidik Indonesia modern yang kita kenal seperti Soekarno telah mencoba menerapkan semangat pendidikan karakter sebagai pembentuk kepribadian dan identitas bangsa yang bertujuan menjadikan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang berkarakter.

            Namun sayangnya kita lihat bagaimana pendidikan sekarang ini yang lebih berorientasi kepada bagaimana meningkat kecerdasan, prestasi, keterampilan, dan bagaimana menghadapi persaingan. Pendidikan sekarang kehilangan misi utamanya untuk investasi karakter manusia. Pendidikan moral dan karakter bukan lagi merupakan faktor utama seorang anak mengenyam pendidikan. Kedua hal ini dianggap menjadi tugas para tokoh agama, tugas orang tua atau wali di rumah. Sekolah berlomba menonjolkan kurikulum yang dipercaya bisa menciptakan generasi muda super dari usia sedini mungkin. Para orang tua juga tergiur dan ingin anaknya menjadi super kid. Kata teman-teman saya: "Biar pensiun muda."

           Pemikiran tersebut berbeda jauh dengan tujuan dari pendidikan yang sebenarnya, seharusnya pendidikan moral dan karakter merupakan suatu kewajiban bagi satuan lembaga pendidikan untuk menghasilkan generasi yang berkarakter dan berkualitas. Untuk mewujukan hal tersebut, maka diperlukan adanya perbaikan terlebih dahulu melalui pencetak generasi yang berkarakter yaitu guru. Guru yang dimaksud dalam hal ini adalah guru yang berkarakter (berdedikasi, etos kerja, ramah, kreatif, amanah dan terampil ). Yaitu :

  1. Berdedikasi. Guru melakukan pengabdian untuk melaksanakan cita-cita yang luhur dengan sebuah keyakinan yang teguh untuk mendidik pelajar yang berkarakter.
  1. Etos kerja. Guru memiliki semajat kerja dalam mengajar yang merupakan sebagai ciri khas dari guru tersebut sehingga anak didikannya akan merasa senang dalam pembelajaran.
  1. Ramah. Guru yang baik hati dan menarik budi bahasanya, manis tutur kata dan sifatnya, suka bergaul dan menyenangkan dalam pergaulan. Dari sifat ini maka seorang guru merupakan contoh teladan bagi seorang siswa. Jika guru telah mencontohkan sikap budi bahasa yang baik, maka secara tidak langsung siswa yang didiknya akan akan terpengaruh akan sikap guru tersebut dan lebih dekat kepada siswanya dan menganggapnya sebagai keluarga sendiri atau pun sahabatnya.
  1. Kreatif. guru yang mempunyai kemampuan untuk mencetuskan gagasan baru yang belum pernah dalam memecahkan permasalahan. Contohnya meciptakan model pembelajaran yang belum ada dilakukan di antara guru-guru lainnya, yang dapat meningkatkan keinginan siwa dalam belajar menjadi lebih baik.
  1. Amanah. Seorang guru harus bisa menjaga kepercayaan, yaitu kepercayaan yang di berikan kepada dirinya. Baik kepercayaan jabatan di sekolah, maupun menjaga kepercayaan siswanya. Sebagai contoh jika ada salah satu siwanya bercerita kepada gurunya, maka guru itu bisa menjaga kepercayaan siswanya dengan tidak menceritakan kepada orang lain.
  1. Terampil dalam menyelesaikan tugas, mampu dan cekatan. Seorang guru yang dapat diandalakan oleh siswanya menjadi contoh dalam hal mengerjakan tugas-tugas dalam mendidik seorang siswa. Namun tetap mampu mnyeesaikan tugas yang lainnya dengan baik.    

           Menurut (Berkowitz, 2002), sekolah sebagai lingkungan kedua turut mempengaruhi konsep diri, keterampilan sosial, nilai, kematangan penalaran moral, perilaku prososial, pengetahuan tentang moralitas, dan sebagainya. Sedangkan menurut Hawkins, dkk (2001) adanya ikatan yang kuat dengan sekolah dan komunitasnya, termasuk juga kelekatan dengan guru, merupakan dasar bagi perkembangan prososial dan moral anak. Dari pernyataan itu jelas bahwa guru yang berkarakter (berdedikasi, etos kerja, ramah, kreatif, amanah dan terampil). Hal ini yang dibutuhkan di dalam pendidikan di Indoesia. Karena dengan adanya guru yang berkarakter inilah Negara Indonesia tidak hanya memiliki generasi yang pintar saja namun tidak bekarakter, tetapi akan memiliki generasi yang cerdas, berkualitas dan berkarakter, karena siswa yang berkarakter berasal dari guru yang berkarakter.

         Guru yang berkarakter dalam pendidikan ini merupakan guru yang berkarakter dari segi perilaku, pemikiran, hati dan hasil. Sehingga apa yang dilakukannya mencadi contoh bagi siswanya. Apa yang difikirkannya merupakan keinginan untuk mencerdaskan anak bangsa dengan penuh tanggung jawab. Dan apa yang di hasilkannya, merupakan hasil dari kerja keras menciptakan generasi penerus bangsa yang berkarakter. Karena negara yang hebat adalah negara yang memiliki generasi yang berkarakter dan berkualitas.

Jambi, 30 Maret 2017.

 

Saya Siti Enik Mukhoiyaroh Bambang lahir di Bukit Peranginan, 04 Juli 1999. Saat ini aktif sebagai  mahasiswa di Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Jambi. Kumpulan karya yang dimuat dalam beberapa antologi diantaranya: Teror (2016), Hakikat (2016), Nestapa (2016), Gelora (2016), dan Maut (2017). Saat ini tinggal di Komplek Bumi Mendalo Asri, Blok Q No. 39, Rt 04 Mendalo Indah, Kecamatan Jambi Luar Kota, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi.